Vaksinasi Anak 101 Bagian Ke-1

Vaksin Dengue
Vaksin Dengue pada Anak

Mengapa Saya Menulis Ini?

 
Halo para orangtua baru (dan ortu lama juga)! Jumpa lagi di blog saya, Krisna Adhi, yang saya dedikasikan khusus untuk edukasi seputar imunisasi.
 
Jadi sependek karir saya sebagai spesialis Anak, sudah ada beragam tipe orangtua yang pernah saya hadapi, mulai dari mereka yang serba lengkap pernak-pernik parenthood-nya, sampai mereka yang (maaf) babarblas pengetahuannya tentang anak.
 
Ini bukan tentang menilai orang lain ya, hanya saja kalau pekerjaan Anda menghadapi puluhan sampai ratusan anak dan orangtua yang berbeda setiap harinya, lambat laun Anda akan bisa memahami juga.
 
Sehingga bagi saya lumayan mudah dalam membedakan, anak mana yang terurus dengan yang kurang terurus, orangtua yang betul-betul peduli, dan mana yang tidak (sayangnya memang ternyata tidak semua orang harus menjadi orangtua, meski mereka bisa).
 

Anak Terlahir Tanpa Manual

 
Kendala terbesar dari memiliki anak adalah satu hal ini: Mereka terlahir tanpa petunjuk penggunaan alias manual book-nya. Dan satu anak dengan anak lainnya bisa sangat berbeda, meski terlahir dari pasangan yang sama. Sehingga ini bukan hanya perkara berpengalaman atau tidak berpengalaman belaka, tapi lebih dari itu.
 
Karena terlahir tanpa manual book tadi, maka mau tidak mau Anda sebagai orangtua baru (ataupun lama) harus terus menerus belajar dan belajar tentang menjadi orangtua yang baik. Dengan kata lain, menjadi orangtua yang baik itu adalah perjalanan seumur hidup, ia merupakan suatu yang didapatkan, bukan diberikan.
 
Nah, sebagai bahan pembelajaran bersama, dalam segmen ini saya mau mengupas tentang vaksinasi dan pertanyaan-pertanyaan seputarnya.
 
Mengapa harus vaksinasi? Karena ada satu fakta kurang menyenangkan yang saya temukan di lapangan, bahwa terlepas dari kenyataan bahwa vaksinasi sama sekali bukan hal baru di negeri ini (sudah ada sejak tahun 1950-an), tapi rupanya masih saja kesenjangan pengetahuannya masih terlalu lebar, antara tenaga medis (wabil khusus dokter anak) dengan tenaga medis lain, apalagi dengan masyarakat awam.
 

Jurang Kesenjangan Pengetahuan Seputar Vaksin

 
Kesenjangan pengetahuan ini melahirkan berbagai kejadian yang bagi saya unik, misalnya kemunculan surat dari sekolah yang meminta persetujuan orangtua dalam pelaksanaan imunisasi di sekolah.
 
Fenomena ini unik bagi saya, karena sejatinya urusan vaksinasi bukan tanggung jawab sekolah, meskipun penyelenggaraannya memang dilakukan di sekolah, melainkan tanggung jawab ada di pemerintah sebagai pihak yang mewajibkan pemberian vaksin di sekolah.
 
Keberadaan surat persetujuan macam di atas juga seakan mengkonfirmasi kesalahpahaman yang beredar di masyarakat, bahwa vaksinasi ini merupakan pilihan, dan bukannya kewajiban.
Dan dengan mengeluarkan surat persetujuan vaksin tadi, pihak pengelola sekolah secara tidak langsung menunjukkan kegagapannya dalam menyikapi program pemerintah yang bernama vaksinasi.
 
Berbagai kegagapan ini apabila tidak dikoreksi akan berpotensi menyebabkan berbagai keraguan yang berujung penolakan terhadap vaksinasi, sebagaimana kita bisa saksikan pada pelaksanaan kampanye vaksin Morbili dan Rubela tahun 2018 lalu.
 

Urgensi Vaksinasi di Tengah Pandemi Covid-19

 
Pandemi Covid-19 ini membawa berkah tersendiri bagi pegiat vaksinasi. Bagaimana tidak? Di kala tidak ada solusi lain dalam mengatasi pandemi selain melalui vaksinasi, tidakkah ini menjadi semacam angin segar?
 
Keberadaan pandemi dan vaksin Covid-19 seakan membungkam nada-nada sumbang yang selama ini beredar tentang vaksin. Jelas masih akan ada penolakan di sana-sini, tapi saya yakin sebagian besar masyarakat akan menerima vaksinasi pada akhirnya.
 
Kita semua butuh pandemi ini segera berakhir, entah itu bagi kalangan antivaksin sekalipun.
 
Ragam kampanye yang menyerukan vaksinasi juga seakan menjadi penyegar dan pengingat yang teramat kuat, yang akan membekas di benak masyarakat hingga bergenerasi-generasi lamanya. Bahwa vaksinasi memang mutlak diperlukan, dan dalam beberapa kondisi, tidak ada jalan keluar lain selain dari vaksinasi.
 
Maka tidak ada kesempatan yang lebih baik dari saat ini untuk bergerak bersama, menggiatkan kembali gelora vaksinasi di tengah masyarakat kita. Tidak hanya vaksin yang masuk ke dalam program pemerintah, tapi juga ragam vaksin lain yang direkomendasikan oleh IDAI.
 

Pandemi Sebagai Momen Untuk Move On

 
Sebelum pandemi datang, angka kejadian infeksi di negara ini sudah tinggi. Buktinya penyebab kematian balita tertinggi masih didominasi oleh radang paru dan diare, dua penyakit yang sebetulnya bisa dicegah dengan vaksinasi.
 
Dan masalah ini sejujurnya membuat saya pribadi gregetan, kenapa sepertinya sulit sekali mengajak orang-orang untuk bisa move on?
 
Karena perangkat yang dibutuhkan untuk mencegah kematian karena dua penyakit tadi sudah tersedia di hadapan kita dalam wujud vaksin. Dan harganya cukup terjangkau bagi kebanyakan masyarakat. Bahkan jauh lebih murah ketimbang ongkos yang harus dikeluarkan apabila orangtua membawa anak mereka berobat.
 
Saat saya turun ke masyarakat, saya menjumpai bahwa pengetahuan tentang vaksin-vaksin ini masih teramat minim. Yang jangankan masyarakat awam, lha bidan-bidannya sendiri banyak yang belum tahu kok. Padahal beliau-beliau itu adalah tulang punggung pelaksanaan vaksinasi di Posyandu maupun Puskesmas.
 

Babat Alas Vaksinasi

 
Maka untuk bisa mengajak sebanyak mungkin orang untuk mau move on dari kubangan penyakit infeksi, mau tidak mau saya harus ikut terjun untuk babat alas. Sebab apa mau dikata, untuk saat ini pengetahuan tentang vaksinasi tadi hanya dikuasai oleh segelintir orang saja.
 
Jelas dibutuhkan banyak usaha dan waktu untuk bisa mencapai derajat kesehatan yang kita idamkan bersama. Tapi itu bukan lagi hal yang mustahil apabila kita semua mau bergerak, bergandengan tangan, bersama menuju era baru pelayanan kesehatan di Indonesia.
 
Untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak dan cucu kita nanti.
 

Sumber Kutipan:

  1. Jadwal vaksinasi rekomendasi IDAI 2020. https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/jadwal-imunisasi-idai-2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *