Vaksin Wajib dan Vaksin Sunah

Memangnya vaksin Influenza wajib ya dok?

Raut wajah si ibu mendadak serius. Yap, saya bisa melihatnya, meski sebagian wajah beliau tertutup masker.

Dan bukan cuma itu sih, ganti aja kata “Influenza” dengan nama vaksin lainnya, maka kita bisa mendapatkan setidaknya 12 variasi pertanyaan.

Ada sedikit rasa geli dalam diri saya ketika harus menjawab pertanyaan tadi. Di satu sisi, sebagai juru bicara anak-anak saya ingin sekali menjawab “Yes, itu semua wajib, buk!”

Mengingat ancaman penyakit-penyakit tadi memang nyata, dan semua juga tahu, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Tapi di sisi lain, kata “wajib” sendiri punya beberapa konsekuensi.

Sebagai contoh, kalau memang wajib, siapa yang mewajibkan, lalu siapa yang membayari?

Persoalan ini sebetulnya sudah selesai saat IDAI sendiri menuliskan besar-besar dalam judul tulisan ilmiahnya: Vaksinasi Rekomendasi IDAI.

Hanya saja bagi kami yang tinggal di kota-kota kecil, jangankan vaksinnya, informasinya aja belum pernah sampai. Jadi jangankan yang sifatnya direkomendasikan, lah ini vaksin Covid yang wajib dan gratis saja masih banyak yang maju mundur loh.

Maka dalam benak saya yang sederhana ini, akan lebih mudah adanya bila semua vaksin tadi diwajibkan saja. Sehingga angka kesakitan dan kematian bayi dan anak bisa ditekan.

Tapi duitnya dok? Duitnya ada!

Kita bisa kok, kerjasama dengan lembaga-lembaga pembiayaan, untuk menalangi pembayaran vaksin seorang bayi mulai 0 bulan hingga 1 tahun. Full, komplit sebagaimana rekomendasi IDAI.

Tapi kan mahal dok? Kesehatan itu investasi, buk. Bayar hari ini ya jangan berharap untungnya besok. Emangnya jualan cireng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *