The Mindful Doctor

the mindful doctor

Seseorang bertanya kepada saya: “Setelah bertahun-tahun menjadi dokter, apakah saya masih merasa sedih saat mendapati pasien dalam kondisi kritis/meninggal dunia?”

Saya dibuatnya terkaget. Mengapa bisa ada pikiran semacam itu? Tidakkah ia tahu bahwa dokter merupakan profesi mulia? Atau memang ia sedang mengugat kemuliaan tersebut?

Dengan kata lain, tidakkah orang tersebut mempertanyakan: Apakah seorang dokter akan kehilangan empatinya setelah begitu banyak menyaksikan hal-hal mengerikan langsung di depan hidungnya?

Apakah semua hal menakutkan tadi pada gilirannya menumpulkan rasa kemanusiaan seorang dokter, sebagaimana seorang pemulung tua yang tak lagi ragu untuk makan di tengah kubangan sampah?

Kita semua tahu, dokter yang berempati akan bersedia menjadi pendengar yang baik bagi pasien/keluarganya, melayani dengan sepenuh hati, bersikap profesional, dan tentu tak mungkin akan senang mendapati pasiennya berada dalam kondisi buruk. 

Tetapi hati kecil saya percaya, bahwa dokter seharusnya lebih dari itu.

Karena the mindful doctor akan menyadari keberadaannya merupakan satu bagian dari jaring-jaring kehidupan yang lebih besar. Bahwa sebetulnya pasien, manajemen, perawat, rekan sejawat, berada dalam satu rangkaian sejajar, setara, saling membutuhkan, dan saling mempengaruhi satu dengan lain.

The mindful doctor tidak memandang pasien/keluarganya semata sebagai objek atau angka untuk dicapai, melainkan ia menjadikan pekerjaannya sebagai cara untuk bisa mendapatkan hidup yang bermakna, berkontribusi, bermanfaat bagi orang lain. To live a meaningful life. 

The mindful doctor tidak hanya piawai mencetak laba, tetapi juga ia akan ikut menumbuhkan dan mengembangkan orang-orang serta lingkungan di sekitarnya. Karena ia menyadari bahwa harta bukan satu-satunya tujuan utama dalam hidup.

Dan semua itu hanya bisa terjadi apabila seorang dokter mampu mensyukuri ilmu pengetahuan yang Allah amanatkan kepada dirinya, dan memiliki panggilan nurani untuk memenuhi panggilan takdirnya untuk menjadi mulia, dalam memainkan satu peran kecil dari jaring-jaring kehidupan yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *