Tak Selamanya Usaha Butuh Investor

Kisah Mbok Darmi

Alkisah di desa Cespleng hiduplah seorang ibu bernama mbok Darmi. Mulanya simbok bekerja sebagai tukang jahit di kecamatan sebelah. Tapi karena pandemi Covid merontokkan usaha konveksi sang juragan, simbok terpaksa dirumahkan.

Terpaksalah kini kehidupan keluarga simbok menggantung hanya dari penghasilan suami sebagai kuli di ibukota. Maka untuk menjaga kesehatan suami tercinta, simbok membuatkannya jamu ramuan leluhur yang dikirimnya secara rutin ke ibukota.

Hal menjadi menarik tatkala gelombang kedua Covid menyerang, dan si suami termasuk dari sedikit yang bertahan tetap sehat di tengah badai. Usai badai gelombang kedua mereda, rekan-rekan si suami heran dan bertanya-tanya, mengapa si suami bisa tetap sehat sementara sebagian besar rekannya sakit?

Si suami dengan polosnya menunjukkan ramuan dari simbok.

Singkat cerita, kisah simbok dan jamunya menarik perhatian banyak orang, mulai dari rekan-rekan kerja suami, hingga kalangan selebgram. Di saat itulah seorang pengusaha mendatangi rumah simbok dan mengajaknya bekerjasama. Simbok mulanya kaget, tapi karena ia melihat ada peluang untuk menghasilkan uang. Maka ia mengiyakan ajakan si pengusaha.

Beberapa bulan berjalan, simbok melihat ada gelagat yang kurang beres. Beberapa kali ia mendapati orang suruhan si pengusaha menyuruh simbok mengurangi takaran jamunya. Alasan mereka kala itu, bumbu dasarnya sedang mahal, sehingga terpaksa mengurangi takaran demi mempertahankan harga jual.

Simbok yang merasa kurang berkenan lalu mengajukan protes kepada si pengusaha, yang dengan dingin dijawab: “Halah itu kan cuma karena sugesti aja, jamu kamu bisa bekerja. Dikurangi satu dua nggak akan jadi masalah.”

Mendengar itu, simbok merasa syok. Ia tidak menyangka bahwa selama ini pengusaha itu tidak percaya sama sekali dengan apa yang dijualnya. Padahal simbok dengan hati-hati dan teliti memilih dan menakar bahan-bahan dalam jamunya. Karena simbok percaya, bila diolah dengan benar, jamu ramuannya dapat membantu orang-orang.

Karena Value Tidak Selalu Sama

Apa yang saya coba gambarkan dari kisah di atas adalah, kita tidak bisa memaksakan value kita kepada orang lain. Sesuatu yang kita anggap penting, belum tentu penting bagi orang lain.

Ide usaha yang brilian menurut Anda, boleh jadi dipandang berbeda oleh makhluk bernama investor. Dan saat itu terjadi, apakah Anda sebagai founder siap untuk mempertahankan value Anda?

Sebab manusia digerakkan oleh motivasi yang berbeda-beda. Seperti simbok yang mungkin cukup senang bisa mengumpulkan sejumlah uang guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya sembari menyehatkan orang lain, sementara si investor menghendaki keuntungan sebesar-besarnya dan (boleh jadi) nggak terlalu peduli dengan value yang simbok miliki.

What’s the Founder’s Vision?

Jadi sependek pengalaman saya dalam berwirausaha, akan lebih baik untuk memulai apa yang Anda ingin kerjakan sesuai visi Anda lebih dahulu.

Memang tidak mudah memulai sesuatu tanpa modal yang cukup. Tapi akan jauh lebih sulit lagi untuk bisa bekerja sesuai potensi yang Anda miliki, bila Anda harus bekerja tidak sesuai dengan pakem yang “ideal” bagi Anda.


Dikutip dari laman Quora saya (Krisna Adhi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *