Si Pembuli

si pembuli krisna adhi

Pagi itu awan mendung seolah masih enggan beranjak dari tempatnya sejak semalam. Teriknya matahari belum terasa bahkan hingga sesiang ini. Adi melirik ke jam tangannya, jarumnya menunjukkan pukul 8 kurang. Ia melangkah dengan canggung menghindari genangan air yang memenuhi halaman puskesmas.

Hujan semalam sangat deras, ia menerima beberapa kiriman pesan singkat dari rekan-rekannya di berbagai kecamatan lain yang mengabari bahwa ada banjir di daerah mereka. Adi semalam sempat kuatir dengan daerah tempatnya tinggal, karena lokasi sungai hanya selemparan batu dari rumah kontrakannya, jika sungainya meluap, pagi ini mungkin ia sudah ada di pengungsian seperti beberapa rekannya itu.

Dan kini Adi merasa lehernya kaku, kombinasi dari sulit tidur dan udara dingin semalam mungkin. Apakah ia masuk angin? Adi menduga-duga. Atau menghilangnya matahari lah yang membuat perasaannya menjadi tidak enak selama berhari-hari ini? Ia pernah membaca kisah tentang depresi musim dingin di negara empat musim, apakah mungkin ia mengalami gejala seperti itu? Apalagi sang surya juga sudah berhari-hari tak menampakkan dirinya di kawasan lereng pegunungan ini.

Pintu ruangan puskesmas berderit saat Adi mendorongnya perlahan. Ia benci suara itu, dan semakin lama berada di musim penghujan, bunyi itu makin menjadi-jadi. Adi belum sempat masuk ke dalam ruangannya saat seseorang memanggilnya.

“Dok, dokter Adi..” Ada nada gelisah dari suara itu, perasaan Adi bertambah tidak nyaman. Seorang perawat menghampirinya dengan tergesa-gesa.

Adi memandang ke arah Dika, perawat yang kini ada di hadapannya, wajahnya tampak kusut dan rambutnya acak-acakan. “Ada pasien yang jelek ya?” Tanya Adi. (Pasien jelek merujuk kepada kondisinya, bukan penampilan.) Yang ditanya seperti meragu sesaat, ia hanya menjawab singkat: “Sebaiknya dokter lihat sendiri deh.”

Puskesmas tempat Adi bekerja merupakan puskesmas perawatan, artinya mereka juga memiliki ruangan rawat inap. Tidak banyak tempat tidur yang tersedia memang, tapi cukup menolong untuk warga sekitar yang memang lokasi tempat tinggal mereka jauh dari rumah sakit. Adi bukan sekali dua mendapati kasus sulit yang jelas bukan peruntukan puskesmas merawatnya, hanya saja keluarga penderita menolak untuk dilakukan rujukan, apalagi urusannya kalau bukan soal kesulitan biaya.

Merawat pasien dengan sakit berat dan berusia renta hanya akan menghabiskan biaya, begitu yang Adi tangkap, bukan dari apa yang keluarga mereka katakan memang, tapi pernyataan tadi jelas terlihat dari gestur tubuh mereka.

Terkadang ia membatin, apa yang akan mereka rasakan bila suatu ketika giliran ini jatuh kepada mereka sendiri? Saat anak cucu mereka menyerahkan hidup matinya kepada petugas puskesmas yang jelas tak bisa berbuat banyak untuk memberikan pertolongan?

Dika membawa Adi ke sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar mandi petugas. Beberapa orang tampak berkumpul di satu sudut ruangan, berbisik-bisik saat melihat Adi datang. Ia tak mendengar jelas apa yang mereka katakan, sekilas ia mendengar kata “dokter” disebut dalam percakapan itu.

Ruangan yang dituju berada dalam keadaan temaram, seingat Adi mereka jarang menggunakan ruangan itu, kecuali seluruh tempat tidur yang ada sudah terpakai oleh pasien lain, dan itu sudah lama sekali. Dua orang keluar dari ruangan saat Adi berdiri di dekat pintunya, keduanya menganggukkan kepala ringan kepada Adi.

Adi menahan napasnya, apa yang ia lihat di dalam ruangan membuatnya terkejut.

Rupanya pria itu.

Jujun, pria yang dimaksud berada dalam posisi terbujur di atas ranjang pasien. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dari napasnya yang sesekali muncul, selain itu, ia nyaris tak bergerak. Tubuhnya yang kurus terbalut kaus hitam kumal dan celana hitam yang tak kalah kumalnya. Ada perasaan tidak nyaman dalam diri Adi melihat pria itu. Meski saat ini si pria sedang dalam keadaan tak berdaya atau setengah hidup, Adi sendiri tidak yakin.

Adi menepuk pundak Jujun sembari memanggil namanya. Suara Adi terdengar parau. Ia menelan ludahnya. Tidak ada respon dari yang dipanggil.

“Tanda vital?” tanya Adi kepada Dika. Yang ditanya tergagap mengatakan bahwa napasnya sudah lambat sejak datang di puskesmas dini hari tadi.

“Kesadaran?” Tanya Adi lagi, kali ini Dika hanya menunjuk ke arah si pria, “seperti inilah dok” sambungnya lemah.

Adi menekan tulang dada pria itu dengan kepalannya, tidak ada respon. Kemudian ia mengeluarkan sebuah senter kecil dari saku kemejanya, dan dengan cekatan ia memeriksa kedua pupil Jujun.

Terdengar suara berbisik dari balik ruangan. Adi merasa ada semakin banyak orang yang merapat ke sekitar ruangan ini semenjak ia mulai memeriksa tadi. Sejenak ada perasaan ragu dalam diri Adi, ia tidak suka diawasi saat bekerja, tapi di sisi lain ia tidak bisa menyalahkan orang-orang itu.

Semua butuh kepastian. Apakah orang ini akan mati atau tidak?

Adi memeriksa dengan lebih lambat dari biasanya, ia tahu kasus ini dengan segera akan menjadi sorotan, bukan enggan terlihat salah, Adi hanya tidak mau gegabah. Ia memeriksa denyut nadi pria itu sekali lagi. Masih terasa, batin Adi. Melambat tapi masih ada dan kuat.

Dika menyodorkan lembar catatan medis pasien kepada Adi. Dalam cahaya remang sulit bagi ia untuk melihat dengan jelas, tapi bahkan dalam keremangan itu matanya masih bisa menangkap jelas tulisan itu: Dextro.

Adi beranjak meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun. Dika mengikutinya dengan tergesa-gesa. Ia tampaknya enggan menjadi sasaran pertanyaan lebih jauh dari kerumunan massa tadi.

“Siapa yang mengantar? ” Tanya Adi. Orang yang ditanya sejenak menoleh ke belakang lalu menukas, “beberapa dari mereka dok, saya tidak hapal yang mana-mana, tapi salah satunya anaknya haji Udin.”

“Yang bilang dia minum dextro siapa?” sambung Adi.

“Mereka juga dok. Katanya beberapa puluh tablet.”

Ada jeda keheningan sesaat sebelum Adi akhirnya menuliskan sesuatu di lembar catatan medik. Dika menjelaskan kronologis kejadian dini hari tadi. Katanya sekitar 4-5 orang mengantar Jujun sekitar pukul 4 dini hari. Saat diantar Jujun sudah dalam keadaan tidak sadar, tubuhnya harus digotong oleh dua orang di antara mereka. Salah satu dari mereka berkata, Jujun tidak sadar setelah menenggak puluhan pil dextro.

Adi menanyakan apakah ada insiden kehilangan di gudang penyimpanan obat belakangan? Yang ditanya menggelengkan kepala. Ia sudah menghubungi bagian perlengkapan obat, dan mereka bilang sudah enam bulan lebih tidak pernah menyimpan dextro lagi, pun tidak ada kejadian pencurian ataupun pembobolan gudang obat.

Ada berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Adi. Sebagian dari dirinya seolah mengingatkan bahwa sebagai dokter, tugasnya adalah menyelamatkan nyawa, tanpa memandang siapa orang yang ia akan tolong. Tapi di sisi lain, ia merasa “sedikit senang” karena orang itu terbaring di sana sekarang. Salah satu perasaan itu membuatnya sedikit tidak nyaman, tapi ia tidak tahu yang mana – bisa saja keduanya.

Si pembuli.

Tidakkah pria itu memang pantas menerimanya? Setelah apa yang dilakukannya bertahun-tahun. Mungkin inilah cara alam menyingkirkan salah satu penyakitnya. Siapa yang tahu?

Menjadi dokter yang bekerja di tempat ia tumbuh besar tidak selalu menyenangkan. Terutama karena satu hal ini: Adanya ikatan emosional di mana-mana. Tak terhitung berapa kali ia menolak dibayar oleh pasiennya karena alasan itu. Pak Haji Udin misalnya adalah guru mengajinya dulu. Adi tidak enak harus menerima uang pemberian dari pak Haji Udin. Meski akhirnya karena pak Haji terus mendesak, ia pun akhirnya mau menerima saat pak Haji mengatakan ia hanya akan membayar uang pengganti obatnya saja.

Dan tentu saja semua mengenal Jujun. Si pria pengangguran pembuat onar, bahkan sejak masa kecil mereka dulu reputasinya sudah buruk. Jujun berusia sekitar 2-3 tahun lebih tua daripada Adi, meski mereka tumbuh di desa yang sama tapi orangtua Adi tidak pernah mau menyekolahkan anaknya di desa itu, sehingga ia tidak pernah mengenal Jujun di bangku sekolah.

Kesempatan mereka berkenalan ada di lapangan sepakbola satu-satunya di desa mereka. Adi mengingat Jujun kecil sebagai pribadi yang kasar dan tak segan memukul teman sebayanya.

Tak terhitung jumlah korban penindasan Jujun di masa kecil dulu. Badan Jujun memang lebih besar dari kebanyakan mereka, lebih tua juga, sehingga kawan-kawan Adi yang lain lebih suka menghindari Jujun ketimbang harus berhadapan langsung. Dari yang Adi ingat, Jujun tidak memiliki orangtua sejak lama. Ayahnya minggat entah ke mana, sementara ibunya meninggal ketika ia masih kecil, sehingga ia dibesarkan seorang diri oleh kakeknya.

Dulu orang bilang perilaku minus Jujun terjadi karena ia mencari perhatian yang ia tak pernah dapatkan dari kedua orangtuanya. Banyak yang mulanya bersimpati pada anak itu, tapi rupanya perilaku liar tadi justru semakin tak terkendali. Ada banyak keonaran yang ia timbulkan di masa itu, bahkan dari apa yang Adi ingat saja: Mencuri ternak milik tetangga, memanen hasil kebun orang lain, hingga nyaris memicu pertikaian dengan warga kampung sebelah.

Hal yang unik dari Jujun, kenakalannya seolah terhenti pada fase remaja. Ia tidak menjelma menjadi perampok bengis, monster pemerkosa, atau hal-hal mengerikan semacamnya. Semua yang ia kerjakan terbatas hanya di kejahatan kelas teri – bahkan untuk ukuran kampung. Sehingga warga desa enggan melaporkannya ke polisi. Sesekali mereka mendatangi rumah si kakek renta itu dan menyampaikan unek-uneknya.

Adi sendiri tidak paham apakah si kakek itu mengerti apa yang mereka sampaikan. Ia bahkan tidak ingat jika si kakek pernah berbicara tentang apapun. Apakah ia bisu tuli? Entahlah.

Bagaimanapun Adi tidak menyukai Jujun. Menurutnya Jujun tidak pernah menghargai siapapun dalam hidup. Padahal itulah hal yang sangat penting bagi Adi, “saling menghargai” adalah satu-satunya pembeda dalam hal interaksi manusia dan mereka yang bukan manusia.

Karena derajat kemanusiaan diukur bukan dari bagaimana tingginya jabatan atau panjangnya gelar seseorang, tapi sesederhana bagaimana cara mereka menghargai keberadaan orang lain. Apakah hal ini terlalu banyak untuk diminta? Rasanya tidak.

Dan hal ini tidak pernah ia temukan dari Jujun – atau orang-orang yang setipe dengannya. Bahkan beberapa kali mereka bertemu setelah Adi menjadi dokter, perlakuan Jujun masih sama seperti saat mereka dulu masih kecil. Jujun masih memanggilnya “Acil”, julukan yang dulu ia berikan kepada Adi sebagai olok-olok karena postur tubuh Adi yang dulunya kecil. Adi membenci olok-olok itu.

Jujun juga pernah beberapa kali meminta uang kepada Adi, meski tidak dengan cara mengancam. Jumlahnya pun tidak banyak, sekadar “uang rokok” kata Jujun kala itu. Dalam beberapa kesempatan, Adi memberikan uang ala kadarnya, hanya untuk menghindari kontak lebih lama dengan si pembuli. Ia tidak tahan bercakap-cakap lebih lama dengan Jujun.

Beberapa pemuda setempat mendatangi Adi paska insiden itu, mereka menawarkan jasanya untuk memberi Jujun sedikit pelajaran, tapi Adi menolak. Entah apakah Jujun mengetahui cerita itu atau tidak, karena setelahnya ia tak pernah meminta uang lagi kepada Adi.

Adi menarik napas panjang, mungkinkah keterikatan emosional ini yang sedang membuatnya bertambah gelisah? Apakah rasa senang yang muncul di dalam hatinya tadi disebabkan karena kebencian? Mungkinkah ia menjadi tidak netral dalam hal ini?

“Apa kata orang-orang?” Tanya Adi.

Dika menoleh ke arah kerumunan yang agaknya masih sabar menanti keterangan dokter. “Maksudnya dok?”

“Apa orang-orang itu minta kita menolongnya?” Adi menatap wajah Dika lekat-lekat.

Yang ditanya tampak memucat. Ia tampak ragu sebelum menjawab, “Nggak dok. Beberapa malah nanya ngapain diinfus segala?”

“Ada keluarga yang bisa dihubungi?” Sambung Adi.

Dika menggeleng, “hanya simbah, dokter tahu kan?”

Adi memicingkan matanya, ia tidak melihat pria tua itu di antara kerumunan. Berapa usianya sekarang? Apakah itu kakek atau kakek buyutnya? Adi meragu. Seingat Adi si kakek sudah teramat tua di masa itu, berapa tahun waktu sudah berlalu kini? Delapan? Atau sepuluh?

Catatan medis itu sudah selesai diisi saat beberapa warga datang mendekat ke meja perawatan. Adi melihat ada anak haji Udin di antaranya, pria itu menganggukkan kepalanya kepada Adi, yang kemudian dibalas Adi dengan senggungan senyuman.

“Pak dokter, bagaimana hasil pemeriksaan si Jujun?” Seorang pria berpeci hitam maju ke depan. Posturnya tinggi besar, kulitnya kecoklatan terbakar matahari, ia masih mengenakan sarung dan baju koko, agaknya belum pulang sejak salat subuh tadi. Adi mengenali laki-laki itu, pak Sukandar adalah ketua RW setempat, anak-anaknya sebaya dengan Adi. Pak Sukandar pastilah memahami masalah si Jujun ini sampai ke sumsum tulangnya.

Adi memegang lembar catatan medis itu di tangan kanannya. Suaranya terdengar serak saat ia mulai berbicara. Ia berupaya menjelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami warga, dan senetral mungkin.

“Kami tidak bisa menangani kasus ini di puskesmas, ia butuh dirujuk.” Tutup Adi.

Beberapa warga terlihat tidak senang dengan kalimat penutup tadi. Beberapa orang saling berbisik-bisik di belakang pak RW, sedangkan pria besar yang bertanya tadi hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Adi.

“Kalau tidak dirujuk bagaimana dok?” Tanya pria itu lagi.

Adi menghela napas panjang, ada jeda keheningan sejenak sebelum ia membuka mulutnya kembali. “Saya khawatir pasiennya tidak selamat.”

Suara bisik-bisik berubah menjadi keriuhan. Pak Sukandar menoleh ke kelompok orang itu meminta mereka diam.

“Berapa lama lagi dok??” Seorang pria dari kerumunan bertanya.

Adi menggelengkan kepalanya perlahan, “saya tidak tahu pak, penyebabnya pun saya belum bisa memastikan mengapa, itu sebabnya…”

“Orang itu kalaupun hidup cuma bikin susah dok!” Seorang lainnya menimpali dari belakang

“Betul..betul..!!” Seru beberapa lainnya.

Pak Sukandar membalikkan tubuhnya, ia mengatakan sesuatu kepada warga yang Adi tak bisa mendengarnya dengan jelas dari jarak ini. Ada suara tawa tertahan yang Adi tangkap dari kerumunan itu. Saat itu Adi merasakan satu sensasi aneh yang menjalar di tubuhnya.

Orang-orang yang ada di hadapannya ini, untuk apa mereka membawanya ke puskesmas jika tidak berniat untuk menolongnya sejak awal? Apakah sekadar untuk menggugurkan kewajiban mereka sebagai “warga yang baik”? Atau mungkin hanya karena mereka tidak mau ada seseorang mati di dekat rumah mereka?

Adi memalingkan pandangannya ke arah ruang perawatan tadi, dalam bayangannya ia melihat Jujun sedang memohon kepadanya untuk ditolong. Jujun menangis tersedu-sedu, mungkin menyesali apa yang selama ini ia perbuat, tapi tak memiliki satu orangpun yang mau membela dirinya sekarang. Tidak pula si kakek yang bisu tuli itu.

Lagipula meski semua manusia memang akan mati, tapi tidakkah semua manusia juga berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua?

Kerumunan bertambah ramai sekarang. Suara pak Sukandar mulai terdengar meninggi beberapa kali, ia berupaya mengendalikan massa. Sementara Dika terlihat gugup di balik meja perawat. Adi menepuk pundak pria itu, “tidak apa-apa, kamu tidak salah.” Ujarnya.

Suara pak Sukandar terdengar dominan sekarang, ia berhasil membuat orang-orang itu terdiam.

“Pak dokter, jika pasien kami bawa pulang saja bagaimana?” Tanya laki-laki itu, kedua matanya menatap Adi tajam.

“Pada dasarnya kami tidak memaksa, tapi siapa yang akan bertanggung jawab nantinya?” Suara Adi terdengar bergetar.

“Bapak-bapak harus ingat kalau Jujun juga seorang manusia, meski kita tahu seperti apa hidupnya selama ini.” Sambung Adi, “kita tidak akan pernah tahu, kalau mungkin bila ia bisa selamat kali ini, ia kelak akan berubah.”

Ada jeda keheningan setelah ucapan itu.

Dalam hatinya Adi merasakan kalau satu kubu mulai membalikkan keadaan. Tapi ia menyadari kalau orang-orang yang ada di hadapannya mungkin takkan membiarkan ia menolong Jujun terjadi tanpa pertikaian. Mereka semua membenci Jujun, termasuk Adi. Tapi sebagai dokter ia tidak bisa membiarkan pasiennya mati begitu saja.

Seorang pria maju lalu berkata, “kami ini cuma petani pak dok, kami bodoh dan miskin, tapi setidaknya kami tidak menyusahkan orang lain.” Ia menelan ludah lalu meneruskan, “masalahnya anak itu lain, sepanjang hidupnya bikin susah orang lain. Kami tidak berniat membunuh, dia sendiri kok yang ingin mati!”

Orang-orang berteriak setuju. Keriuhan suasana puskesmas pagi itu nyaris mengalahkan situasi saat Pilkada tempo hari.

Di saat itu Romi, anak haji Udin maju ke barisan depan. “Kalau saya tandatangani surat penolakan dirawat bagaimana dok? Jadi si Jujun tetap dibawa pulang.”

Adi terdiam.

Suara keramaian mulai mereda seakan menunggu jawaban Adi.

Dalam kondisi pasien tidak sadar, yang diminta persetujuan memang keluarga, dan dalam kasus keluarga tidak bisa dimintai persetujuan, seorang wali yang kompeten bisa menggantikannya.

Tapi Adi meragu, bisakah mereka bertindak sebagai wali di saat apa yang mereka tuju jelas-jelas bertentangan dengan kepentingan si pasien?

Tidakkah seharusnya Adi – sebagai seorang dokter – juga bisa memutuskan apa yang terbaik untuk pasiennya?

Adi mengenal Romi sejak kecil, ia orang baik yang berasal dari keluarga yang terpandang di desa. Siapa yang tidak mengenal ayahnya, haji Udin? Nyaris semua orang sebaya dengan Adi sekarang, pernah menjadi murid mengaji beliau dulu, semua orang punya hutang budi kepada keluarga haji Udin.

“Saya tidak sedang melindungi Jujun, mohon tidak salah paham. Sebagai dokter saya hanya ingin bertindak benar. Jujun adalah pasien saya, dan saya punya kewajiban memberikan yang terbaik kepada pasien saya.” Adi mencoba terdengar tegar, tapi suaranya malah terdengar melengking di akhir.

“Dan yang terbaik untuk pasien ini sekarang adalah dilakukan perawatan di rumah sakit.” Tutup Adi. Ia menatap kerumunan itu satu per satu. Tidak ada satupun yang membalas tatapannya.

Adi tidak yakin kalau orang-orang ini akan membiarkan Jujun dirawat dengan semestinya. Karena sekalipun ia dikirim ke rumah sakit, siapa yang akan mendampinginya di sana? Siapa yang mau menanggung biayanya?

“Apa dokter bisa menjamin kalau dia selamat, dia akan berubah jadi baik??” Seseorang berseru dari belakang.

“Saya tidak tahu, pak. Saya hanya berusaha melakukan sesuatu yang benar.” Jawab Adi.

“Dan kami juga melakukan yang benar dok! Orang itu memang tidak layak ditolong!” Jawab seseorang lainnya. Suara gemuruh mulai terdengar dari kerumunan.

Nggak ada orang yang akan menyalahkan dokter kalau dia mati.” Sahut seseorang lainnya, dan disambut dengan pekikan “betul…betul…!!”

Memang tidak akan ada, batin Adi. Termasuk kakek renta itu. Bahkan mungkin kematian Jujun takkan berpengaruh pada kehidupan si kakek juga. Tapi bagaimanapun Adi adalah seorang dokter yang sudah disumpah. Dan bukankah melindungi pasien merupakan satu prinsip yang sangat mendasar dalam kedokteran?

Apalah artinya seorang dokter tanpa prinsipnya? dan tidakkah ini merupakan satu sebab, mengapa dokter dihormati? Karena mereka berpegangan pada prinsip-prinsip tersebut sekuat tenaga mereka meski kepentingan mereka harus dikorbankan karenanya?

Kehormatan, kemuliaan, semua hal itu merupakan sesuatu yang diraih, bukan diminta. Diraih karena seseorang mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang kebanyakan. Karena pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan. Karena ia bertahan di saat semua orang menyerah.

Semua itu adalah bagian dari sebab akibat. Karena jelas takkan pernah ada asap tanpa ada api. Kita takkan pernah bisa memanen apa yang tak pernah ditanam. Sesuatu yang banyak sekali dilupakan saat ini.

Kerumunan itu tampak gusar sekarang. Romi memalingkan wajahnya kepada pak Sukandar.

Tak lama serombongan orang lain masuk, di antaranya ada kepala puskesmas dan pak lurah, raut wajah mereka terlihat serius. Pak lurah menghampiri pak Sukandar dan bercakap-cakap, sementara kepala puskesmas mengatakan kalau ia akan menangani masalah ini dan berembuk dengan perwakilan warga. Adi hanya mengangguk pelan.

Tujuh orang mengikuti kepala puskesmas dan pak lurah ke dalam ruangan pertemuan puskesmas. Sementara sisanya tetap berada di tempat semula.

Tidak butuh waktu lama sebelum sembilan orang tadi menyelesaikan pembicaraan. Kepala puskesmas menghampiri Adi lalu menepuk pundaknya. Ia mengatakan sesuatu kepada perawat jaga pagi tentang melepaskan infus.

Adi paham apa yang akan terjadi. Mereka akan membawa Jujun pulang. Entah ke mana. Mungkin ke gubuk tempat kakek tua itu tinggal?

Akankah kakek renta itu tahu apa yang telah terjadi pada cucunya? Bisakan ia merawat Jujun di saat jelang kematiannya?

Tidak ada yang tahu dan boleh jadi takkan ada yang mau tahu.

Awan mendung masih menggantung di langit saat esoknya Adi tiba di puskesmas. Suasana pagi itu tampak lenggang, seperti hari-hari biasanya. Seorang perawat jaga menyapanya saat ia memasuki ruangan.

Adi meregangkan lehernya yang kaku. Ia tidak tidur nyenyak dua hari ini. Kemarin karena hujan, dan semalam karena kasus itu. Ia tahu bahwa ia tak mungkin bersikeras dengan pendapatnya. Tapi ia tidak bisa menerima begitu saja keputusan yang diambil.

Ia merasa seakan-akan seluruh warga telah bersepakat untuk melakukan sesuatu yang salah. Membuat dirinya mempertanyakan prinsipnya sendiri sebagai dokter, dan hal itu membuat dirinya tidak nyaman.

Apakah rasa tidak nyaman ini hadir karena ia merasa dirinya tersakiti, ataukah karena ia mengetahui bahwa pasiennya mati dengan tidak mendapatkan perawatan yang layak? Sungguh ia tidak yakin yang mana.

Sinar matahari menembus awan mendung. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir.

4 thoughts on “Si Pembuli”

    1. Betul bu. Dilema etik ya. Saya mau aminkan doanya tapi saya mau tambahkan dulu, semoga kita juga senantiasa dijaga kehormatan profesinya dari hal-hal yang bisa mencemarkan. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *