Perlukah Pantangan Makanan pada Anak?

“Dokter, anak saya ada pantangan makan apa ya?”

Itu kalimat populer yang sering ditanyakan oleh orangtua saat membawa anak mereka berobat. Dan tidak hanya di kalangan orang-orang desa saja, mereka yang urban sekalipun kadang masih menanyakan masalah ini loh.

es krim TWD

Es krim: Salah satu tersangka.

Seputar Fakta Ilmiah dalam Pantangan Makan

Saya pribadi tertarik mengupas ini menjadi sebuah buku tersendiri, karena saya merasa jawaban kebanyakan teman dokter (termasuk saya) kurang ilmiah kalau bicara tentang pantangan makan, hahaha.. Mudah-mudahan nanti bisa lahir sebagai buku kelima atau keenam ya.

Kurang ilmiahnya salah satunya (mungkin) tercermin dari kenapa tidak disebutkan berapa jumlah maksimal konsumsinya sih, kalau meminta benar harus memantang sesuatu? Tidakkah dosis juga berpengaruh?

Jawabannya iya dan tidak.

Potensi Bahaya di Balik Zat Makanan Anak

Dalam kasus anak, bahaya zat makanan bisa berarti banyak hal, apakah itu terkait kepada:

  1. Keracunan,
  2. Sebagai pemicu alergi,
  3. Tekstur dan cara pemberian,
  4. Memperberat suatu gejala/tanda yang ada,
  5. Menjadi pemicu kondisi khusus, atau
  6. Kombinasi dari hal-hal di atas.

Dalam kasus keracunan, dosis punya peran penting. Beberapa zat yang dikonsumsi dalam jumlah tertentu bisa berkhasiat, tapi dalam jumlah besar bisa menimbulkan masalah, bahkan kematian. Contohnya yang mungkin kebanyakan kita pernah dengar yaitu kasus keracunan singkong atau keracunan tempe bongkrek.

Dosis Sebagai Pembeda antara Manfaat dan Mudharat

Pertanyaannya, berapa banyak dosisnya? Dalam literatur memang disebutkan dosis toksik pada manusia, misalkan dosis hydrogen cyanide per oral yang bisa mematikan adalah sebesar 0,5–3,5 mg/kg berat badan, artinya jika berat seorang dewasa 60 kilogram, dibutuhkan 30mg hydrogen cyanide untuk bisa membunuhnya. Nah sekarang berapa kadar sianida dalam singkong itu sendiri? Ternyata variasinya luas sekali, yakni antara 15–400mg/kg singkong.

Sementara kebanyakan singkong yang digunakan sebagai kudapan memiliki kadar sianida di bawah 50mg/kg, yang angka itupun masih akan berkurang dengan proses pengolahan yang benar, dan tubuh sendiri masih bisa melakukan proses “menawar” efek racunnya, selama tidak melebihi dosis mematikan tadi. Masalahnya singkong yang berkadar sianida tinggi lazimnya memang tidak dikonsumsi oleh manusia (kita sering menyebutnya sebagai “singkong pahit”), melainkan digunakan sebagai bahan pembuatan tepung tapioka.

Oke, balik lagi ke masalah dosis, kalau kita berpatokan pada data di atas, 30 mg hydrogen cyanide bisa membunuh orang dewasa, maka ia harus mengkonsumsi setidaknya 2 kilogram singkong (atau mungkin lebih, bila singkongnya diolah terlebih dahulu) dalam sekali makan, yang mana agak mustahil dilakukan seorang dewasa, apalagi anak-anak.

Pengalaman Terkait Budaya/Adat Setempat

Hal lainnya, karena kebanyakan dokter di Indonesia adalah klinisi murni, artinya ia bekerja menangani kasus sesuai dengan kompetensinya saja, sebagai klinisi pengalaman memegang peranan yang penting, terutama dalam kaitannya dengan adat/budaya setempat. Misalkan kebiasaan mengkonsumsi tempe bongkrek tadi kan memang tidak kita jumpai di seluruh wilayah Indonesia. Akan tidak relevan melarang seseorang mengkonsumsi tempe bongkrek, sementara ia tinggal di kawasan elite ibukota bukan? Bisa jadi orangtua pasiennya sendiri nggak pernah tau apa itu tempe bongkrek, hehe..

Terkait poin nomor 2–5, ini tidak melulu berhubungan dengan masalah dosis, sebagai contoh seorang bayi yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi apabila terpapar dengan susu sapi dalam dietnya, maka gejala alerginya bisa langsung timbul, meskipun yang terkonsumsi hanya sedikit, atau dengan kata lain, sifatnya tidak dose-dependent.

Adakah Data yang Mendukung?

Penyebab lainnya boleh jadi karena memang ketiadaan data yang mendukung. Misalnya, berapa banyak sih es krim yang boleh dikonsumsi oleh seorang anak? Well, saya belum pernah terbaca satupun yang membahas hal ini (dan mungkin juga belum pernah diteliti), literatur yang saya temukan hanya membahas mengenai kapan es krim boleh mulai diberikan dan apa yang perlu diawasi saat pemberiannya (terkait alergi protein susu sapi, dll).

Baca juga: Benarkah Es Krim Membuat Anak Batuk Pilek?

Zat makanan yang ada batasnya pada anak itu salah satunya adalah garam, yakni maksimal 2 gram per hari untuk anak usia 1–3 tahun, dan 3 gram per hari untuk anak 4–6 tahun, sementara orang dewasa sendiri dibatasi agar tidak lebih dari 6 gram per hari.

Contoh lainnya gula pasir, yang dibatasi agar konsumsinya tidak lebih dari 25 gram (sekitar 6 sendok teh) per hari untuk anak usia 2–18 tahun.

Dalam dua contoh terakhir ini, yang menjadi sorotan adalah jumlah konsumsinya yang berlebihan dan dalam jangka waktu panjang. Yang mana itu pun tidak selalu seragam efek buruknya pada semua orang karena kondisi masing-masing orang (genetik, lingkungan, pola pengasuhan) yang juga tidak sama, plus tidak selalu hanya ada satu faktor tunggal dalam penyebab penyakit/kematian seseorang.

Kesimpulan

  • Jadi sebagai kesimpulannya, melakukan pantangan makanan haruslah disertai bukti yang cukup, baik itu dari segi ilmiah maupun klinisnya. Tugas dokter adalah mengumpulkan bukti klinis yang ada pada pasien lalu mencari data ilmiah yang sesuai,
  • Memantang makanan tertentu boleh jadi akan memberikan manfaat sebagaimana juga ia berpotensi menyebabkan anak mengalami kekurangan satu zat penting dalam nutriennya,
  • Jumlah makanan yang dipantang tidak selalu pasti jumlahnya, dalam kasus alergi, jumlah yang sedikit sekalipun bisa memicu terjadinya reaksi alergi.

Semoga bisa membantu.

Sumber Kutipan:

  1. Naturally Occurring Toxins in Vegetables and Fruits
  2. Waspadai Toksoflavin dan Asam Bongkrek Yang Dihasilkan Bakteri Pseudomonas cocovenenans
  3. Mengenal Zat Beracun pada Singkong. http://ik.pom.go.id/v2016/artikel/Mengenal-Zat-Beracun-Pada-Singkong.pdf
  4. Ice Cream for Baby: Age to Introduce and How Much Is OK
  5. Salt: the facts
  6. Sugar Recommendation Healthy Kids and Teens Infographic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *