Nilai dan Prinsip: Semua Akan Resign pada Waktunya

Hujan di Penghujung Tahun 2020

Semua akan resign pada waktunya

Sudah genap delapan hari berlalu sejak memasuki bulan Desember 2020, dan saya masih tidak bisa memutuskan apakah tahun ini terasa begitu lama ataukah sebaliknya.

Hujan tak henti mengguyur tanah Jawa minggu lalu, dan memaksa saya berada di dalam rumah jauh lebih lama dari sebelumnya. Pada momen seperti itu, waktu terasa berjalan sangat lambat dan menyiksa, mungkin ini sebabnya tahun 2020 berjalan begitu lambat.

Namun di sisi lain, saya teringat berbagai rencana yang telah disusun pada waktu yang hampir sama di tahun 2019 lalu. Saat di mana semua harapan dan rencana untuk tahun 2020 disusun dengan penuh antusias dan semangat. Untuk kemudian tertutup oleh pandemi, dan rencana demi rencana berlalu begitu saja tanpa mampu diwujudkan. Dan hanya pada momen ini, tahun 2020 terasa begitu cepatnya berlalu.

Apapun itu, tahun ini sudah akan berakhir dalam hitungan pekan. Menyisakan banyak kenangan yang mungkin ingin dilupakan oleh sebagian besar penghuni bumi, termasuk saya.

Semua Akan Resign pada Waktunya

Saya menutup tahun ini dengan berbagai perasaan berkecamuk: Semacam perpaduan unik antara rasa senang, kecewa, sedih, optimis, dan gelisah yang ditumbuk menjadi satu kemudian ditambah sakarin sebagai pemanis.

Rasa senang karena pada tahun ini ada dua peristiwa besar yang terjadi: Kelahiran anak ketiga dan terbitnya buku kedua saya. Rasa kecewa dan sedih pada beberapa harapan saya yang tidak terwujud sebagaimana mestinya karena berbagai hal yang di luar kendali saya. Rasa optimis yang lahir dari berbagai pengalaman baru dan teman-teman baru yang hadir berkat terbitnya buku Boros Itu Murah. Dan yang terakhir rasa gelisah akan hal-hal yang selama ini seolah dibiarkan berjalan di luar koridor prinsip yang benar.

Semua rasa tadi berakumulasi (iya termasuk sakarinnya) menjadi sebuah keputusan besar, yakni keluar dari pekerjaan saya sebagai dokter di sarana pelayanan medis swasta, yang menurut saya tidak lagi bisa menjawab semua kegelisahan saya akan apa yang terjadi.

Meskipun begitu, saya memilih untuk tidak melakukannya dengan kasar atau menyakitkan. Karena banyak hal yang telah kami jalani bersama, dan banyak sudah jasa mereka kepada saya. Maka untuk menunjukkan rasa bersyukur dan berterimakasih, saya memutuskan menjalani kontrak sampai dengan waktu yang kami sepakati berakhir, dan tidak melanjutkannya meski berat untuk melepas.

Jadi rupanya benar apa kata mereka: Semua akan resign pada waktunya.

Berdiri di Atas Nilai-Nilai

Mulanya saya mengira saya merupakan sosok yang aneh sendiri. Bahwa saya tidak bisa menerima berbagai hal yang menurut saya tidak selayaknya terjadi. Bahwa saya menjalani hidup saya terlampau idealis hingga melupakan realita. Bahwa saya sosok yang tidak adaptif dan tidak bisa bergaul.

Sejak kecil saya selalu diajarkan untuk melihat ke dalam diri sendiri apabila ada sesuatu yang buruk terjadi, yang berarti berupaya melakukan evaluasi diri, sebelum menunjuk hidung orang lain.

Dan begitulah juga mulanya yang saya rasakan. Bahwa selama ini saya mengira ada sesuatu yang salah pada diri saya, sehingga berbagai upaya perbaikan diri terus menerus saya upayakan. Sampai dengan suatu saat, saya melihat bahwa memang ada saat di mana masalahnya bukan hanya ada pada diri saya, melainkan pada orang lain.

Perbedaannya di sini, saya tidak bisa mengubah orang lain. Mempengaruhi mungkin bisa, namun untuk mengubah? Seumur hidup pun saya tak yakin mampu.

Oleh karenanya meskipun pahit dan getir, keputusan tetap harus diambil. Untuk menyelamatkan diri saya, nilai-nilai yang saya yakini, dan tentunya masa depan saya.

Jika Anda kebetulan membaca tulisan saya di buku Boros Itu Murah, Anda mungkin akan mengetahui kalau saya berupaya mempengaruhi sebanyak mungkin kalangan untuk bisa menyadari akan keberadaan sebuah entitas yang disebut dengan Nilai dan Prinsip.

Antara Nilai dan Prinsip

Semua manusia memiliki nilai yang ia yakini, entah itu disadari ataupun tidak. Nilai adalah hal yang mendasari segala ucapan, pikiran, dan tindakan Anda dalam hidup. Nilai adalah sesuatu yang membuat Anda memilih mengambil satu keputusan dibanding keputusan lainnya.

Nilai ini sangat mungkin akan berbeda di antara satu orang dan lainnya. Bahkan di antara pasangan suami istri yang sudah puluhan tahun menikah sekalipun.

Dan nilai yang diyakini ini sangat erat hubungannya dengan apa yang menjadi tujuan hidup orang tersebut. Ia yang memiliki tujuan menjadi yang terkaya, boleh jadi akan menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan materi. Entah itu melanggar norma atau tidak. Bahkan kadang tidak lagi berpikir apakah yang ia lakukan akan melanggar hukum ataukah tidak.

Berbeda dengan nilai yang bisa bervariasi, prinsip berlaku universal dan sama untuk semua orang. Prinsip bisa dibilang mirip dengan hukum alam, misalkan gravitasi.

Gravitasi berlaku bagi siapapun dan kapanpun. Tak memandang apakah si manusia sedang berbuat mulia ataukah tercela. Tak melihat apakah si pelaku cantik jelita ataukah buruk rupa.

Demikian, ada banyak prinsip berlaku dalam berbagai bidang. Masalahnya tidak semua orang mengetahui seperti apa prinsipnya. Sebagaimana seorang anak yang tidak menyadari bahwa ia akan terjatuh bila menggelundung begitu saja dari atas kasur.

Berbagai prinsip ini diketahui oleh mereka yang berilmu. Masalahnya makin pelik mengingat masih rendahnya tingkat literasi di negeri ini. Masalah nilai ini juga bukanlah sesuatu yang diajarkan sebagai suatu lifeskill dalam pendidikan formal.

Dan Tidakkah Anda Merasa Iba?

Saya sudah hidup cukup lama di dunia untuk bisa berkata bahwa ada begitu banyak orang yang hidup tanpa mengetahui apa tujuan hidup mereka. Dan ini tidak hanya khusus bagi mereka yang tidak berpunya, sebab ada begitu banyak orang kaya yang juga memiliki masalah yang serupa.

Orang-orang seperti yang dimaksud ini adalah orang-rang yang hari-harinya habis oleh masalah sehari-hari yang seolah tak kunjung usai. Beban utang yang makin menggunung tiap harinya. Yang kemudian masih ditambah lagi dengan kesalahan pengambilan keputusan, serta pengaruh dari lingkungan sosial yang buruk.

Mereka ini boleh jadi bukan orang-orang jahat, sebaliknya boleh jadi mereka merupakan tetangga kita yang paling santun dan baik hati. Tetapi sayang karena sepertinya hidup selalu tidak berpihak kepada mereka.

Apakah ini semata masalah nasib buruk, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang mendasari kemalangan tadi?

Dalam pemahaman saya, mereka ini adalah orang yang tidak mengerti apa yang menjadi tujuan hidup mereka. Kehidupan mereka tidak dipandu oleh nilai yang berdiri di atas prinsip yang benar. Sehingga manusia-manusia seperti ini selayaknya pelaut yang berlayar tanpa tahu arah. Untuk kemudian diombang-ambingkan oleh ombak kehidupan.

Dan tidakkah Anda merasa iba dan terpanggil untuk menolong manusia-manusia seperti itu?

Harapan Selalu Ada

Saya menutup tahun ini dengan cara yang paling tidak saya sangka. Tapi siapa yang bisa menyangka kalau 2020 akan menjadi seperti ini sih? Setahun yang lalu rasanya tidak ada.

Namun di era normal baru, di mana ketidakpastian adalah satu-satunya faktor yang pasti ada, selalu terdapat harapan. Harapan menuju sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, lebih kokoh daripada sebelumnya.

Saya lebih banyak menulis daripada sebelumnya, bicara lebih banyak kepada orang lain yang saya baru kenal, mengekspos kekurangan saya di sana-sini yang membuat saya terlihat rapuh tapi sekaligus membangun ikatan kokoh dengan teman-teman saya.

Dan itulah satu hal yang menurut saya, merupakan hal terpenting yang saya pelajari di era pandemi ini. Bahwa menunjukkan kelemahan bukan berarti tidak berdaya. Justru hal-hal seperti itu yang membuat saya terlihat lebih seperti manusia dan mampu membuat saya terhubung dengan mereka yang meyakini nilai-nilai yang sama seperti yang saya yakini.

Semoga kita masih diberikan waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *