Mereka Menolak Vaksinasi

Ada beragam sekali alasan mengapa orangtua menolak anaknya diberi vaksinasi, mulai dari keyakinan agama hingga rasa takut akan kejadian ikutan paska imunisasi, yang mungkin saja bisa terjadi paska pemberian vaksin.

Tapi yang saya mau jabarkan di sini boleh dibilang salah satu penyebab yang jarang dibahas oleh teman-teman dokter maupun tenaga kesehatan lainnya, yaitu kelompok antivaksin yang justru tercipta dari kelompok provaksinasi.

Kenapa bisa begitu?

Well…, disadari ataupun tidak, hidup kita ini selalu dihantui oleh rasa ketakutan atau kecemasan akan masa depan. Saat bersekolah dulu, orangtua kita selalu mendorong anak-anak agar bisa berprestasi, apa alasannya? Salah satunya agar bisa mendapatkan kesempatan bersekolah lanjutan di tempat yang terbaik.

Mengapa anak-anak perlu mendapat sekolah yang terbaik? Karena persaingan masuk kampus dan fakultas favorit itu berat bro sis! Hanya mereka yang berkualifikasi aja yang bisa duduk di sana. Maka sekadar pintar aja nggak bisa jadi jaminan, karena untuk apa jadi rangking satu di sekolah yang reputasinya abal-abal? You harus jadi nomor wahid di sekolah favorit! Nah itu baru bener.

Selanjutnya untuk apa juga sih masuk fakultas dan kampus favorit? Ya supaya nanti bisa dapat kerjaan yang bagus, dibayar mahal, hidup nggak blangsak, nggak jadi beban keluarga seumur-umur. Apa kamu nggak liat si oom itu? Sampai sekarang kerja serabutan tuh, hidupnya senin-kamis, kerjaannya ngutang melulu!

Siapa yang masa kecilnya dicekoki dengan segala kecemasan seperti di atas? Saya nggak malu-malu mengakui bahwa sayalah salah satunya.

Sejak kecil orangtua kita mengajarkan kalau dunia ini takkan cukup untuk kita semua. Kursi sekolah favorit harus diamankan, kesempatan kuliah terbatas sekali, dan sumberdaya yang bakalan habis jika kita kalah bersaing.

Salahkah itu semua? Dalam hal memotivasi anak untuk memiliki etos kerja dan berdaya saing, tentu nggak salah. Tapi yang jadi problem, gejala individualisme makin menguat.

Orangtua dengan sumber daya yang kuat akan berupaya melakukan semua yang mereka bisa demi kepentingan anak-anak mereka, termasuk melindunginya dengan imunisasi, tak cukup dengan imunisasi program yang disediakan pemerintah mereka juga melengkapi dengan imunisasi yang dianjurkan oleh dokter anak.

Masalahnya di sini kesenjangan akan muncul dari kalangan yang kurang berada. Akses mendapatkan vaksin berbayar juga sangat terbatas karena masalah klasik: Duitnya kagak ada.

Maka kesenjangan ekonomi akan melebar ke mana-mana, termasuk pada cara pandang orang terhadap vaksinasi. Hingga muncul kalimat-kalimat semacam: “Ah dulu juga kami nggak dapat vaksin itu tetap hidup kok!”

Padahal vaksin sejatinya merupakan produk yang ditujukan kepada masyarakat, karena manfaat terbesar vaksin justru hadir dari kemampuannya melindungi komunitas terhadap penyakit infeksi, bukannya orang per orang aja. Bahwa individu tetap mendapatkan menfaat dari vaksinasi benar adanya, tapi poin utamanya kan melindungi komunitas. Ini yang seringkali luput dari benak kebanyakan orang.

Gambar: Bagaimana herd immunity melindungi satu populasi.

Yang terjadi justru pola pikir: Anak lo ya urusan lo aja!

Sehingga apa yang diyakini oleh kebanyakan orang sekarang, vaksinasi itu adalah pilihan. Dan konsekuensi logis dari suatu pilihan tentu ia boleh dipilih boleh juga tidak. Berbagai narasi yang sifatnya individualistik inilah yang pada gilirannya akan memunculkan kelompok-kelompok antivaksin tadi.

Jadi apa yang bisa kita lakukan sekarang? Sebagai praktisi dalam dunia kesehatan anak, saya menghimbau kepada saya pribadi dan rekan-rekan semua untuk mengedepankan empati dalam pendekatan kepada pasien dan keluarganya. Karena yang berhak untuk sehat tidak hanya mereka yang berpunya saja, tapi tentu semua anak juga.

Mari belajar untuk meyakini bahwa dengan menjaga kesehatan anak-anak lain di lingkungan kita, artinya sama dengan menjaga kesehatan anak kita sendiri.

Pandemi Covid-19 ini mengajarkan kepada kita, bahwa kesehatan diri dan keluarga saja tidak akan cukup tanpa diikuti oleh lingkungan dan masyarakat yang juga sehat.

Bahwa kita tidak akan bisa melakukan semuanya sendiri.

Sumber Kutipan:

  1. WHO: Menolak Vaksin Sebabkan Kasus Campak Meningkat
  2. Anti-Vaccination Movement – Pediatrics – MSD Manual Professional Edition
  3. Herd immunity won’t solve our COVID-19 problem
  4. What I Learned from Parents Who Don’t Vaccinate Their Kids. Jennifer Reich. TEDx. https://youtu.be/CTj_xoCuhPU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *