Mengapa Kita Perlu Kompetisi?

mengapa kita perlu kompetisi

Hari minggu lalu saya membuatkan akun reseller pulsa untuk si sulung. Saat berdiskusi tentang keuntungan per transaksi ia protes, mengapa untungnya sedikit sekali?

Saya bertanya berapa keuntungan yang ia harapkan? “Dua puluh ribu” jawabnya tegas.

Bukan, saya bukan berniat mengajarkan ia cari duit. Saya mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar lagi: Apa yang diperlukan dalam berkompetisi.

Karena hidup adalah kompetisi. Bahkan sejak pembuahan hingga mencari pekerjaan, kita semua bersaing dengan seseorang, atau sesuatu. Apa yang kebanyakan kita tidak ketahui, kita tidak harus memenangkan semuanya. Pada kebanyakan kasus, tujuan kita hanyalah untuk bisa selama mungkin berada dalam kompetisi.

Hal ini menarik untuk diajarkan, karena kompetensi memerlukan konsistensi. Orang-orang paling sukses adalah mereka yang paling konsisten dalam bidangnya. Sebagaimana tidak ada orang yang menjadi profesor dengan berpindah-pindah bidang keilmuan.

Berada dalam satu bidang yang sama selama bertahun-tahun membuahkan kedalaman pengetahuan, pengalaman, dan akhirnya kebijaksanaan. Dan seseorang yang bijak mengetahui bahwa ada satu hal yang lebih penting dari sekadar cuan, yaitu kesinambungan.

Berpihak kepada kesinambungan berarti adanya kesadaran untuk menerima bahwa terkadang keuntungan harus dipangkas demi mendapatkan pasar lebih besar. Bahwa mendapatkan keuntungan Rp20.000 dari sepuluh orang terkadang lebih baik daripada mendapatkan angka yang sama dari satu orang.

Kesadaran akan kesinambungan berarti memahami bahwa mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi sama saja dengan menanam bom waktu bagi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, untuk bisa sampai kepada kesimpulan kenapa kami hanya mengambil untung Rp1.500 per transaksi, diperlukan penjelasan yang lumayan panjang dan pemahaman yang cukup kompleks tentang kompetisi, konsistensi, dan pada puncaknya: Kesinambungan.

Maka agak sulit bagi benak saya untuk menerima. Bagaimana bisa, ada orang yang sudah banyak sekali pengalamannya, namun sama sekali tidak memikirkan kesinambungan sebagai sesuatu yang penting?

Ataukah ini satu bukti lainnya, bahwa usia dan kebijaksanaan memang tidak selalu berjalan beriringan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *