Benarkah Stella Jeruk Menyebabkan Mabuk Perjalanan?

Segmen ini diambil dari jawaban-jawaban saya (Krisna Adhi) di id.quora.com. Dengan pertanyaan asli: “Mengapa mobil yang memakai pengharum Stella aroma jeruk bisa membuat penumpang mabuk perjalanan?”

Silakan ajukan pertanyaan kalian dengan bergabung di id.quora.com.


Sebagai dokter sekaligus mantan pemabuk (perjalanan) saya mau ikut urun rembuk memecahkan salah satu misteri paling hot belakangan ini.

Saya sangat rentan mengalami mabuk perjalanan (motion sickness), mabuk terparah saya adalah saat mengarungi laut dalam perjalanan enam jam menuju Karimun Jawa (yes! Enam jam penuh!).

Nah, berdasarkan pengalaman saya, bau-bauan memang punya peran dalam memperberat mabuk perjalanan, tapi bukan menjadi penyebab utama.

Bau pengap khas kendaraan umum membuat saya trauma dengan pengalaman mabuk sebelum-sebelumnya, sehingga (mungkin) menjadi semacam sugesti negatif bahwa saya akan kembali mabuk.

Tapi dalam dunia kedokteran sendiri, penyebab dari mabuk perjalanan sama sekali bukan berasal dari bau-bauan, apalagi pewangi mobil seperti yang ditanyakan.

Satu-satunya sebab dari mabuk perjalanan adalah gerakan berulang-ulang saat kita naik kendaraan menimbulkan adanya ketidaksesuaian antara persepsi yang diterima oleh organ keseimbangan di telinga bagian dalam (vestibulum) dengan persepsi yang diterima oleh mata.

Karenanya bagi para pemabuk, hindarilah membaca atau menonton atau menggunakan ponsel/tablet/laptop saat sedang dalam perjalanan, arahkan pandangan kepada objek yang jauh dan relatif tidak banyak berubah posisinya (misal ke arah pegunungan), atau lebih mudahnya, tidur saja selama perjalanan (works best for me!).

Lalu apakah bau-bauan khusus menyebabkan mabuk? Sebuah penelitian membuktikan tidak ada pengaruh dari bau-bauan pada mabuk perjalanan.

Pada tahun 2014, peneliti melakukan eksperimen kepada 18 orang subyek yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok, kepada mereka diberikan perlakuan untuk menginduksi mabuk perjalanan, kemudian disodorkan tiga macam bau-bauan yang berbeda (bau bensin, lemon, dan air (sebagai kontrol).

Hasilnya? Ternyata tidak ada pengaruh bau-bauan terhadap timbulnya mabuk perjalanan. Tapi memang ada sesuatu yang terjadi pada orang yang mengalami mabuk perjalanan: Sistem penghidu mereka menjadi lebih peka terhadap rangsang yang ada.

Karena berdasarkan penelitian yang sama, paska subyek diinduksi untuk mabuk, mereka merasakan intensitas bau menjadi lebih tinggi daripada sebelum mengalami mabuk perjalanan.

Semoga bisa membantu.

Sumber kutipan:

  1. Motion sickness
  2. Inner Ear. http://www.cochlea.eu/en/ear/inner-ear
  3. Is there a relationship between odors and motion sickness? – PubMed
  4. Asesmen Persepsi Olfaktorius. https://ualresearchonline.arts.ac.uk/id/eprint/12625/1/2018_Jacquot%20et%20al_AMHP.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *