Kisah Pilu Si Buku Pink

Buku Pink atau buku KIA seharusnya menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari pelayanan kesehatan anak (dan juga ibu). Tapi yang saya sering temukan, buku ini bukan hanya nggak terpakai, melainkan disia-siakan.

Kenapa bisa begitu? Boleh jadi karena ia dibagikan secara gratis, sehingga dianggap sebagai sesuatu yang kurang/nggak berharga. Yang jangankan disimpan dengan baik, dibaca pun juga nggak!

Hal menyedihkan ini bukan hanya menjangkiti orang awam, tapi ironisnya juga tenakesnya.

Banyak dari kita yang mengeluhkan kurangnya sarana prasarana ini dan itu dalam dunia kesehatan. Saya nggak bisa bilang itu salah, tapi dalam beberapa hal, jawabannya bukan karena ketiadaan, melainkan karena apa yang telah ada justru nggak diberdayakan.

Maka di tengah badai pandemi, yang entah kapan akan usai ini. Kita sama-sama yuk, meniti kembali satu per satu apa yang menjadi dasar dari dunia yang kita geluti bersama ini: Suatu prinsip yang sangat fundamental dalam dunia kedokteran, bahwa pencegahan akan selalu lebih baik dari pengobatan.

Dan buku pink sejatinya memang banyak berbicara tentang pencegahan. Tentang bagaimana mempersiapkan kelahiran, mengurus bayi baru lahir, imunisasi, pemberian makan pada bayi dan anak, dan sebagainya. Itu semua tadi adalah pencegahan.

Seringkali kita merasa ada begitu banyak kesulitan dalam hidup, tapi rupanya solusinya nggak pernah jauh-jauh dari kita. Dan bagi saya, satu hal yang dekat tadi adalah buku pink.

Tidakkah benar begitu? Saya akan senang sekali membaca pendapat Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *