Hidup Seperti Lumut

Lumut di pohon konon selalu menghadap utara.

Jika tersesat di hutan, lihatlah lumut di batang pohon, sisi dimana lumut tumbuh, disitulah arah utara berada.
Semua yang mengaku pernah menjadi anak pramuka rasanya tahu hal ini. Termasuk saya, meski ilmunya belum pernah saya terapkan, karena ternyata sampai dengan setua ini saya belum pernah tersesat di hutan.

Namun belakangan saya menjadi teringat lagi perihal si lumut.
Dengan begitu banyaknya kegaduhan di sosial media dan masifnya pemberitaan di televisi mengenai Pemilu 2019. Dalam hati kadang saya merasa geli, membaca dan atau mendengar pernyataan beberapa orang yang seolah-olah tak bisa hidup bila tokoh yang didukungnya tidak menang.

Bagi saya pribadi, siapapun yang pemenangnya, tidak akan ada pemutusan hubungan sebagai warga negara Indonesia, begitupun hal sehari-hari lainnya masih akan berlangsung seperti biasa: matahari masih akan bersinar, pasien poliklinik masih membludak, dan lumut masih akan tumbuh di seluruh penjuru benua.

Lumut dan Kesederhanaan
(Image by Pexels from Pixabay)

Yang menggelitik lagi, kali ini dari lumut. Bahwa tidak seperti kita manusia, lumut ternyata tumbuh dan berkembang nyaris di semua tempat, teramat dingin atau panas, basah atau kering. Ia juga diyakini sebagai bentuk tanaman pertama yang hidup. Terakhir, lumut pernah, masih, dan terus akan hidup dalam semua rezim apapun yang memerintah di muka bumi.

Maka kenapa kita manusia tidak bisa?

Tentu naif bila menyamakan manusia yang teramat kompleks dengan seonggok lumut.
Namun ada yang bisa kita pelajari dari onggokan hijau itu: kesederhanaan.

Karena lumut ternyata tidak memilih dimana dia tumbuh. Bahkan di sisi selatan pohon sekalipun.
Dia tidak butuh tanah yang gembur karena akarnya toh masih bisa melekat meskipun dangkal, dia tak butuh sumber air karena dapat meraihnya dari uap air di udara.
Ketangguhan yang hadir dari kesederhanaan.

Kita manusia modern disuguhi banyak pilihan dalam hidup. Dan itu merupakan hak. Namun masalahnya, selain dari beragamnya pilihan, manusia juga akan dihadapkan dengan beragamnya kenyataan. Dan semua orang pun seharusnya menyadari, bahwa kenyataan takkan selalu sejalan dengan pilihan.

Maka menyederhanakan pilihan dan menerima kenyataan, merupakan kunci bertahan yang bisa kita pelajari dan wariskan kelak.

Hal yang juga menakjubkan bagi saya, ternyata kedua hal itu juga merupakan kunci dari kesehatan dan umur panjang manusia.
Tengoklah warga desa Acciaroli di Italia, desa Ogimi di Jepang, atau tak perlu jauh-jauh, warga desa Sukamulya di Bogor.
Semua kakek dan nenek disana memiliki pola hidup yang nyaris serupa, makanan alami yang diolah secara sederhana, serta memelihara stres dalam kadar teramat rendah. Dua hal tersebut yang ironisnya amat jarang dimiliki oleh manusia modern.

Temanku yang baik.
Dengan segala hormat saya mengajak, sebelum menjadi gusar dan dibuat berang oleh keadaan. Mari kita menilik sejenak, apa yang mendasari kegusaran dan kemarahan itu? Apakah masalahnya bisa disederhanakan? Bisakah kenyataan ini kita terima?

Bila jawabannya adalah iya, bahagiakan diri anda dengan keduanya.
Dan mari hidup di bumi yang indah ini, sedikit lebih lama lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *