Catatan Akhir Perjalanan

catatan akhir perjalanan WKDS

Bagian Pertama

Pria itu menutup pintu mobilnya. Sebuah minibus tua berwarna abu-abu kusam. Dan semakin terlihat lebih tua dari seharusnya karena keadaannya yang tak terawat.

Jam tangan di lengan kanan Chris menunjukkan hampir pukul 7 pagi. Suasana jalanan sekitar mulai ramai oleh kendaraan roda empat.

Si sopir mengucapkan sesuatu dengan dialek lokal kepada seorang penumpang di depan. Tak lama terdengar suara tawa. Mungkin ia mengucapkan lelucon. Entahlah, Chris hanya bisa menduga.
Ia hampir selesai menjalani tugas di kota ini, namun tak kunjung juga menguasai aksen setempat. Ada 3-4 dialek yang berbeda disini, dan ia tak yakin bisa menggunakan secara tepat antara satu sama lain.
Maka setelah percobaan yang berakhir dengan gelak tawa perawatnya di beberapa bulan awal, ia menyerah.

Lamunan Chris terhenti saat si sopir memalingkan wajah kepadanya kala mobil itu berhenti di sebuah perempatan yang padat.

“Kalau kamu terburu-buru. Lain kali naik mobil yang di tempat kami tadi be. Tempat kamu nunggu tadi mobilnya dak kan berangkat-berangkat” Tuturnya singkat.
Ia memang sempat menunggu hampir 30 menit di sebuah kendaraan lain. Sebelum akhirnya dilimpahkan ke mobil minibus ini.
Chris hanya tersenyum kepada si sopir. Yah itu satu pelajaran untuk lain kali.
Masalahnya, mungkin tidak ada lain kali baginya.
Perjalanan ini mungkin yang terakhir. Dalam 3 minggu ke depan, masa tugas akan selesai. Dan ia sendiri tidak yakin akan mau datang kembali.
Meskipun secara umum lokasi kerjanya menyenangkan. Namun perjalanan 12 jam ini terasa kian melelahkan bagi Chris.

Apalagi 8-10 jam dari total perjalanan harus ditempuh menggunakan transportasi darat seperti sekarang.

Cukup mencengangkan bagi Chris karena ternyata si mobil tua masih bisa berjalan dalam keadaan dijejalkan penumpang di atas 60 kilometer per jam.

Dan belakangan ia mulai berpikir, sesungguhnya suatu keajaiban tersendiri bahwa ia bisa selamat sampai di tujuan.
Masalahnya mungkin sama di semua pelosok bumi ini. Terutama di negara dunia ketiga. Fasilitas publik yang serba minim. Baik secara kualitas maupun kuantitas.
Mobil yang seharusnya diisi 7 penumpang, kini berisi 11 orang. Belum ditambah beberapa karung di belakang. Kondisi mobilnya sendiri terkelupas di hampir semua tempat. Car abuse – kalau meminjam istilah anak Jaksel – dalam artian sesungguhnya.
Chris ragu kalau kendaraan ini pernah di-kir. Plat mobilnya saja hitam.
Masalah kelayakan jalan, mungkin hanya Allah dan sopirnya saja yang tahu. Oh iya, jangan-jangan bahkan si sopir pun juga tak tahu.
Jika kemungkinan mengalami kematian akibat mengendarai kendaraan ada di angka 1:470. Tapi untuk kendaraan macam ini, Chris tidak berani menebak.
Apalagi jika ia berada di dalamnya.
Sebuah lagu lama mengalun dari kabin kendaraan. Suara seorang perempuan dari awal tahun 1980-an. Iramanya nyaris bersahut-sahutan dengan suara klakson yang memang rajin ditekan si sopir.
Chris mengerling ke arah ponselnya. Ada beberapa pesan masuk, namun ia tak menghiraukannya. Matanya masih terasa berat oleh perjalanan semalam. Lagipula membaca teks di atas kendaraan seperti ini hanya akan membuatnya mabuk perjalanan.
Udara mulai terasa sejuk oleh hawa pegunungan. Suara lagu yang mendayu-dayu, hembusan angin, membuat matanya terpejam tak lama kemudian.
Tiga minggu lagi, batinnya.
Lalu apa selanjutnya?
Kembali ke daerah asalnya? Itu memang rencana awal Chris. Namun kini setelah kian dekat dengan hari-H, ia mulai meragu.
Sudah lima tahun lebih sejak ia meninggalkan kota itu.
Situasi mungkin sudah jauh berbeda sekarang. Lebih baik atau lebih buruk. Ia tak yakin yang mana.
Menghadapi hal baru memang selalu mencemaskan. Sama halnya seperti kali pertama ia datang di tempat tugasnya. Tanpa kerabat satupun. Berjarak 1.500 km jauhnya dari keluarga Chris.
Dan.. hey, bukankah semuanya berjalan baik hingga kini?
Omong-omong, apa itu kriteria dari “berjalan baik” versi Chris?
Apakah yang didapatkan Chris memang seperti yang diharapkannya?
Atau mungkin ia sekadar menurunkan harapan agar sejajar kenyataan?
Apapun itu. Ia bahagia. Dan itu hal yang terpenting.
Chris nyaris terlelap saat kendaraan itu meliuk menghindari jalan berlubang.
Sejenak ia merasa kecemasannya akan kumat.
Si sopir masih asyik mengobrol dengan perempuan yang duduk di depan. Agaknya ia lebih mengandalkan ingatan ketimbang penglihatan.
Ah.. ya sudah, kalau begitu sepertinya mereka akan baik-baik saja.
(bersambung)

2 thoughts on “Catatan Akhir Perjalanan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *