Boros itu Murah

Boros itu Murah (BIM)

Boros Itu Murah adalah sebuah buku bergaya storytelling yang mengambil tema tentang prinsip dan nilai.

Buku ini dibuka dengan kisah pak Udi, sebuah keluarga petani dengan empat orang anak. Kehidupan mulanya berjalan baik dalam keluarga mereka, sampai suatu ketika hal-hal buruk terjadi pada keluarga mereka.

Pak Udi dan keluarga tidak mengerti, mengapa mereka sampai ditimpa berbagai masalah secara beruntun seperti itu. Padahal mereka sudah bekerja keras, mereka berupaya menjadi orang baik dalam kesehariannya.

Apakah semua hal-hal buruk tadi murni merupakan sekadar “suratan nasib” ataukah ada hal-hal lain yang selama ini belum mereka sadari?

Tanya Jawab Seputar BIM​

Ada banyak hal terjadi terkait dengan pandemi Covid-19, fenomena-fenomena menarik sekaligus ganjil (misal penyemprotan jalanan dan manusia dengan disinfektan) yang tersaji di setiap harinya membuat kami berpikir: Kenapa kita banyak melakukan hal-hal yang sebetulnya tidak sesuai dengan prinsipnya sih?

Karena bukan kali ini saja loh ada virus di sekitar kita, jauh sebelum Covid-19 datang, bumi ini sudah dijejali oleh yang namanya mikroorganisme, termasuk virus. 

Lalu mengapa di saat pandemi ini akhirnya tiba di Indonesia, kemudian melahirkan banyak sekali perilaku ajaib (dalam kacamata dunia kesehatan) seperti penyemprotan disinfektan tadi.

Negara kita adalah negara terbesar ketiga dalam kasus TBC di dunia, apakah kita pernah melihat penderita TBC disemprot dengan disinfektan sebelum masuk mall?

Apakah kita dulu pernah sewaspada ini saat mengetahui seseorang batuk di dalam ruangan yang sama dengan kita?

Dulu sebelum pandemi Covid-19, apakah kita mencuci tangan serajin ini saat menjenguk seseorang di rumah sakit?

Jawaban ketiganya boleh jadi tidak.

Tapi faktanya, kita sempat mengalami kelangkaan hand sanitizer, obat pel lantai, hingga sabun cair. Masker medis sampai kini harganya masih belum kembali ke nilai normalnya sebelum pandemi.

Yang kalau menurut apa yang kami pahami, terjadi sebuah kegagapan dalam skala nasional, mungkin juga global.

Kegagapan yang timbul karena selama ini kita tidak terbiasa bekerja berdasarkan prinsip yang benar.

Sebagai contoh: Pandemi ini menjadi sebuah peneguh dari sebuah prinsip “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Karena kita sedang menghadapi suatu penyakit yang sekalipun Anda berada dalam perawatan di institusi kesehatan terbaik sekalipun, tidak ada jaminan Anda akan keluar dengan selamat.

Apalagi bila institusi kesehatan sedang kebanjiran pasien, maka peluang Anda untuk tertolong pun akan semakin rendah.

Jadi tidak ada jalan lain kecuali sebisa mungkin jangan sampai sakit. Cegahlah sakit hingga batas maksimal. Itu kan kesimpulannya?

Yang lucu, apa yang terjadi di masyarakat justru sebaliknya. Berapa banyak dari kita yang berolahraga 150 menit per minggu sebagaimana dianjurkan?

Berapa banyak dari kita yang berhenti merokok di masa pandemi ini?

Berapa banyak yang tertib menggunakan masker saat berada di tempat-tempat umum/keramaian?

Kami rasa, semua orang tahu kalau “mencegah lebih baik daripada mengobati”, sayangnya tidak semua orang paham apa yang dimaksud dengan prinsip itu dan bagaimana cara menerapkannya dalam hidup.

Buku ini membahas tentang dua hal saja: Nilai dan prinsip.

Nilai merupakan sesuatu yang mempengaruhi ucapan, keputusan, dan perilaku seseorang. Nilai ini boleh jadi akan sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya dan itu tidak harus menjadi masalah besar, atau dengan kata lain, sifatnya subjektif.

Prinsip sebaliknya berlaku seperti hukum alam, seperti gravitasi bumi. Ia tidak akan pernah memandang apakah seseorang ini rupawan atau buruk rupa, gravitasi ya gravitasi saja.

Tidak ada beauty privilage saat berbicara tentang hukum alam. Cantik ataupun tidak, seorang perempuan tetap akan bisa merasakan panasnya api bila tersentuh bukan?

Lalu apa kaitannya antara nilai dan prinsip?

Begini, Anda boleh saja menjunjung tinggi nilai-nilai yang Anda yakini, tapi untuk bisa mencapai tujuan hidup, Anda memerlukan satu hal lainnya: Memahami apa prinsipnya.

Sebagai contoh sederhana, seseorang boleh saja meyakini bahwa kesehatan adalah nilai yang penting dalam hidupnya.

Ia menggunakan gelang kesehatan berharga jutaan, meminum suplemen mahal setiap hari, tapi ia tak pernah sekalipun menjaga makanannya, olahraga pun nyaris tak pernah.

Apakah saat di kemudian hari ia terkena penyakit jantung koroner atau diabetes, itu berarti karena ia tak pernah menghargai kesehatannya? Tidak juga. Ia menghargai kesehatannya dengan harga yang sangat mahal, hanya saja ia tidak mengetahui bagaimana “prinsip” mengatur kehidupan manusia.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa mempelajari prinsip-prinsip tadi?

Ah, Anda sepertinya butuh buku kami.

Belajar dari pengalaman menulis sejak zaman SMA, kami akhirnya memahami bahwa kebanyakan orang kita (Indonesia) memang tidak gemar membaca.

Karenanya kami menyusun buku Boros itu Murah dalam bentuk storytelling dengan tujuan agar memudahkan pembaca untuk bisa menuntaskan buku dalam sekali duduk sembari minum secangkir teh/kopi (ya kami serius). 

Buku Boros itu Murah dibuka dengan kisah keluarga pak Udi, seorang petani dengan 4 orang anak yang mengalami berbagai kemalangan dalam hidupnya. Mereka bukan orang-orang yang jahat, justru sebaliknya, pak Udi dan keluarganya merupakan sosok tetangga yang baik hati, mereka adalah tipikal manusia yang para ibu takkan segan bertukar masakan dengannya, atau para bapak takkan ragu meminjamkan tangga kepada mereka.

Sayangnya terlepas dari kebaikan mereka, keluarga pak Udi seolah “dikutuk”. Apakah ada sesuatu yang salah dengan mereka? Ataukah ini semata-mata perputaran roda kehidupan saja?

Nah, sudah mulai tertarik rupanya?

Sasaran buku ini adalah para kader kesehatan, rekan-rekan paramedis, sejawat dokter, dan komunitas-komunitas yang peduli terhadap masalah kesehatan.

Ada banyak sekali orang di luar sana yang terlalu sering mengambil keputusan yang salah dalam hidupnya.

Mereka yang membiarkan anak-anaknya putus sekolah, mereka yang mengawinkan anak gadisnya terlalu dini, mereka yang enggan memiliki asuransi kesehatan di kala ongkos berobat semakin tinggi, dan seterusnya.

Orang-orang ini bukannya tidak mau, hanya saja mereka boleh jadi tidak mengerti bahwa ada prinsip yang mengatur kehidupan ini. Bahwa tidak akan ada akibat tanpa adanya sebab.

Yang apabila dibiarkan dalam kegelapan, maka selama bergenerasi-bergenerasi lamanya mereka akan tetap berada dalam kondisi yang sama: Terpinggirkan dalam kehidupan.

Pandemi Covid-19 ini mengajarkan kepada kita, bahwa kesehatan kita tidak melulu bergantung kepada bagaimana kita menjaga diri dan keluarga kita. Tapi juga bagaimana lingkungan di sekitar kita memegang peranan yang tak kalah pentingnya.

Bahwa apabila kita “berinvestasi” kepada keluarga lain, sesungguhnya kita juga sedang berinvestasi pada keluarga kita sendiri.

Manusia memiliki kecenderungan untuk mengikuti mereka yang punya kesamaan nilai dengan dirinya.

Itu mengapa teman-teman dalam lingkaran terdekat Anda seringkali merupakan orang-orang yang bisa dibilang sebelas dua belas dengan diri Anda.

Maka buku Boros itu Murah secara sederhananya adalah cara kami menunjukkan nilai-nilai yang kami yakini, dan dengannya kami berharap bisa terhubung dengan lebih banyak orang yang meyakini nilai yang sama.

Kami ingin mengubah wajah dunia kesehatan di negeri ini, dengan mengajak lebih banyak orang untuk melayani dengan mengedepankan nilai.

Kami bermimpi bahwa kelak prinsip-prinsip kesehatan dijadikan pondasi dalam setiap keputusan yang diambil dalam institusi kesehatan, dalam lingkungan keluarga.

Bahwa kelak prinsip-prinsip seperti “mencegah lebih baik dari mengobati” bukan hanya sekadar menjadi jargon semata, tapi ia menjelma menjadi pola pikir, ucapan, dan tindakan.

Tanya Jawab Seputar BIM​ (2)

Kalau secara keseluruhan dalam satu cerita seperti dalam bukunya, tidak. Tapi kalau apa yang dialami masing-masing tokoh, memang ada kejadiannya di dunia nyata.

 

Dalam pandangan kami, dunia nyata memang tidak pernah secerah postingan di Instagram. Ada berbagai kepahitan dan kegetiran di sudut-sudut kota maupun desa. Dan keduanya bukan hal yang 100% buruk. Karena justru melalui kedua hal tadi, manusia lebih bisa memetik pelajaran.

Tanpa Anda sadari, sesungguhnya sejak kecil kita semua belajar tentang prinsip-prinsip dalam kehidupan. Seorang anak yang tahu bahwa api bisa membakar tidak akan mau menyentuh si api dengan tangannya.

Seorang petani tidak membunuh ular yang berada di sawahnya karena ia mengetahui bahwa si ular memiliki peran penting di ekosistem sawah untuk mengendalikan populasi tikus. 

Tukang bangunan melakukan pencampuran bahan-bahan adukan semen dalam komposisi tertentu karena ia tahu hanya dengan campuran ini hasil cor-coran akan menjadi kuat.

Dokter memeriksa kontak erat dari penderita Covid-19 karena sebagai penyakit infeksi ia dapat menular.

Semua hal di atas adalah prinsip-prinsip. Masing-masing ahli dalam bidangnya tahu menganai prinsip yang bekerja di bidang tersebut dan menerapkannya dalam pekerjaannya sehari-hari.

Mengetahui prinsipnya menurut kami sama pentingnya dengan mengetahui bagaimana suatu alat bekerja.

Tanpa mengetahui caranya, bagaimana kita bisa bekerja dengan benar?

Well, sebetulnya semua orang memiliki nilai-nilai yang mereka yakini dalam hidup, baik itu disadari atau tidak.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: Haruskah kita mengidentifikasi nilai-nilai yang kita yakini? Dan menurut kami jawabannya adalah iya.

Dengan mengetahui apa nilai yang Anda yakini, secara tidak langsung Anda sedang “mengenali diri Anda sendiri”, dan dengannya segala pemikiran, ucapan, perilaku, maupun keputusan yang Anda ambil akan lebih konsisten, terlepas dari masalah yang sedang dialami.

Masalah ini kami jabarkan secara cukup jelas dalam buku Boros itu Murah di bab “Apa Nilai yang Anda Miliki”. Belum punya bukunya? Pesan di sini sekarang!

Tentu saja bisa. Salah satu cara termudah mengetahui nilai yang Anda (ingin) miliki yaitu melihat kepada daftar nilai-nilai. Pilihlah 3-5 nilai dari daftar tersebut yang menurut Anda paling cocok dengan diri Anda, kemudian susun urutannya berdasarkan prioritas.

Selanjutnya silakan renungkan kembali nilai-nilai tadi, bagaimana kecocokannya dengan tujuan hidup Anda? Apakah Anda merasa senang memiliki nilai-nilai tadi? Dan apakah nilai yang Anda yakini ini mewakili sesuatu yang Anda akan perjuangkan meskipun Anda mendapat tentangan berat karenanya?

Mengerjakan semua hal ini mungkin akan jadi sesuatu yang baru bagi kebanyakan orang, dan karenanya bisa saja menjadi sulit. Tapi begitu Anda terbiasa memutuskan segalanya berdasarkan nilai yang Anda yakini, hidup akan menjadi lebih mudah, karena Anda tahu bahwa Anda melakukan sesuatu yang benar.

Apa Kata Mereka Tentang Buku Boros Itu Murah?

BIM's History (so far)