Ada banyak hal yang berubah seiring dengan terjadinya Pandemi Covid-19. Batas antarkota, jarak antarnegara yang dulu tampaknya menipis karena efek globalisasi, kini seperti mulai tersekat-sekat kembali.

Pandemi juga membuka mata saya akan betapa rapuh dan tak siapnya diri saya pribadi serta lingkungan sekitar saya berada dan bekerja dalam menghadapi kejadian sekaliber pandemi. Padahal ini jelas bukan pandemi pertama dan pastinya juga bukan yang terakhir.

Ketidaksiapan ini tergambar jelas dalam beragam episode yang telah tersaji selama pandemi berlangsung. Mulai dari habisnya stok masker, pemborongan hand sanitizer, kelangkaan obat pel lantai, penolakan jenazah di berbagai tempat, hingga ragam berita hoax yang hingga kini masih saja bertebaran di sosial media.

Sepertinya sedang ada sebuah kegagapan skala nasional dan bahkan global dalam beberapa bulan terakhir. Kegagapan yang kemudian memunculkan satu pertanyaan besar dalam diri saya: bahwa bukankah prinsip-prinsip pencegahan infeksi sejatinya sudah sejak lama diketahui? Sebuah pengetahuan yang sudah dikenalkan bahkan sedari tingkat taman kanak-kanak?

Lalu mengapa kita tidak menggunakan saja berbagai prinsip tadi, dan menerapkannya sebaik mungkin, alih-alih membuat berbagai “inovasi baru” yang justru tidak solutif? Sebagaimana kita semua menyaksikan betapa maraknya kegiatan penyemprotan disinfektan pada permukaan jalan raya, kendaraan, hingga manusia terjadi di mana-mana.

Padahal bukankah berbagai prinsip pencegahan yang ada, sudah teruji kebenaran dan akurasinya, bahkan jauh sebelum pandemi terjadi? Lalu mengapa kita lebih suka melakukan hal-hal yang cenderung tidak rasional, dan tanpa berbasis bukti? Mengapa kita justru menempatkan prinsip belakang, alih-alih membiarkannya menuntun kita?

Apakah ini karena kita selama ini sudah melupakan apa itu prinsip dan upaya pencegahan, sebab sudah terlalu asyik bermain di lingkungan pengobatan dan rehabilitasi semata? Sehingga saat dihadapkan pada situasi di mana kita tak bisa melakukan pengobatan secara efektif dan efisien, dan satu-satunya pilihan adalah hanya dengan mencegah, kita seakan mengalami gegar budaya?

Boleh jadi begitu, karena ternyata saya juga mengalami gejala yang serupa. Dan pemikiran tersebut kemudian menyeret saya lebih jauh lagi, dan membawa saya pada satu fakta yang tak menyenangkan: betapa selama ini kita melupakan apa yang menjadi prinsip dan nilai dalam hidup.

Di saat kita mengakui mencegah lebih baik daripada mengobati, namun pada kenyataannya, nyaris seluruh pikiran, ucapan, dan tindak tanduk kita tidak sejalan dengan prinsip tersebut. Kita menjunjung kesehatan sebagai nilai, namun mengapa pengambilan keputusan kita tidak didasarkan terlebih dulu kepada nilai itu?

Mengapa kepentingan seperti keuntungan finansial, jauh lebih mendominasi alasan di balik pengambilan keputusan kita selama ini?

Mungkin kita semua terlalu disibukkan oleh beragam kepentingan yang  menguntungkan dalam jangka pendek, namun membiaskan pandangan kita akan bahaya-bahaya besar yang mengancam di masa yang akan datang.

Dan sekali lagi, kita akan tergagap dalam menjawabnya.

Mungkinkah pandemi ini merupakan salah satu pengingat yang dikirimkan oleh Tuhan kepada saya dan kita semua, bahwa apa yang kita lakukan belum sejalan dengan prinsip yang telah Ia tetapkan? Karena prinsip-prinsip yang kita kenal sejatinya merupakan sesuatu yang dilahirkan, bukan diciptakan manusia. Prinsip-prinsip itu telah ada sebelum kita lahir dan masih akan ada jauh setelah kita meninggalkan dunia ini kelak.

Maka saya menulis sebagai sebuah kebutuhan pribadi guna meneguhkan keyakinan, agar saya senantiasa membiarkan keputusan dan perilaku saya dipandu oleh nilai-nilai yang saya yakini.

Dan dengannya, membuat saya terhubung dengan banyak orang lain di bawah nilai-nilai tersebut.