Kala Hujan Turun di Pagar Alam

Bukan sore yang cerah di Pagar Alam, sama seperti hari-hari sebelumnya di bulan ini. Kota yang penuh dengan hujan, guman Dicky.

Ia menoleh ke saku kemejanya, masih tersisa sebatang rokok lagi di sana. Dicky tergoda untuk memantik, tapi hujan agaknya masih akan berlangsung lama. Ia menimbang.

Kala Hujan Turun di Pagar Alam

Pria berkulit hitam itu menoleh ke sekelilingnya. Ada sebuah toko di seberang jalan. Mungkin sekitar 200 meter jauhnya. Yang dalam kondisi hujan seperti sekarang, berlari menuju ke sana bakal terasa seperti 1 kilometer. Dengus Dicky.

Angin kencang berembus menyipratkan sebagian air hujan ke wajah Dicky. Ia nyaris tak berkedip.

Motor tuanya basah kuyup terparkir di pinggir jalan, seolah tampak lelah dengan keadaan. Bulan ini bulan Juli. Tapi hujan masih turun dengan derasnya.

Untuk sesaat ia merindukan panasnya Pulau Jawa. Di Semarang hari ini pasti akan terik sekali. Matahari akan dengan senang hati membakar jalanan di pertengahan tahun seperti sekarang.

Ban-ban truk lebih sering pecah di bulan-bulan ini, Dicky mengenang. Ia teringat suara dentuman raksasanya dan meringis.

Seorang perempuan tua berjalan menuju tempatnya berdiri. Ia menggunakan sebuah payung yang mulai oleng diterjang angin. Perempuan itu menggumankan sesuatu saat melewati Dicky.

Angin kencang kembali berhembus. Membawa lebih banyak cipratan air hujan ke emperan toko tempat mereka berdiri. Dicky membiarkan wajahnya basah oleh air hujan.

“Anginnya terlalu kuat” ujar perempuan itu terkekeh.

Dicky tersenyum dan mengaguk pelan ke arahnya. Seharusnya ia membawa mobil. Batin Dicky. Tempat ini sama sekali tidak ramah untuk mengendarai motor. Di hari-hari cerah memang menyenangkan. Masalahnya hari-hari seperti itu jarang ada.

“Tinggal di mana mas?” suara perempuan itu kembali terdengar. Dicky menjawabnya singkat dengan menyebut nama sebuah perumahan di kota.

Dicky memandang perempuan itu agak lama. Apakah ia mengenalinya? Mungkin mereka pernah bertemu di rumah sakit tempatnya bekerja, entahlah.

Ia menambahkan jawabannya dengan sebuah komentar terhadap cuaca belakangan. Basa-basi demi sopan santun.

“Hujan memang harus turun, mas.” Sahut si perempuan seraya tersenyum ke arah Dicky. Kerutan di pipi dan dahinya terlihat jelas saat ekspresi mukanya terbentuk. Usianya mungkin lebih dari 70 tahun. Atau mungkin lebih. Dicky tak yakin.

Pakaiannya sebuah terusan berwarna putih gading dengan  model yang tak kalah tua dari si pengguna.

“Seperti pertemuan kita hari ini.” Sambungnya. “Semua sudah takdir.”

Dicky tersenyum mendengar jawaban tadi: Takdir.

Benar sekali. Perjalanan panjang bernama takdir yang juga membawa dirinya menjauh dari tempat kelahirannya.

Sudah berapa tahun lamanya ia pergi? Dalam hati ia menghitung. Hampir dua windu lamanya. Dan Dicky bahkan hampir melewatkan hitungannya setelah sekian lama.

Setelah tiga tahun pertama yang begitu berat, tahun-tahun berikutnya terasa mengalir begitu saja. Ia tak begitu peduli pada yang terjadi. Pun tak berambisi besar pada hal apapun. Semua terjadi begitu saja.

Beruntung baginya, bahwa perjalanan yang separuh autopilot selama ini tak membuatnya terjerembab ke dalam jurang penderitaan.

Seorang teman yang ia kenal sudah meninggal bertahun-tahun lalu karena overdosis obat. Betapapun kacau dirinya, ia tak pernah tertarik untuk jatuh ke lumpur yang satu itu. Hal yang ia tak pernah sadari, atapun syukuri selama ini.

Entah sudah berapa kota yang ia tinggali selama bertahun-tahun itu. Begitu banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupnya.

Dicky menahan diri untuk tidak mengambil sepuntung rokok terakhir dari saku kemejanya. Ia tidak merokok di depan perempuan, apalagi yang tua. Namun memikirkan hal seperti ini membuat benaknya tak nyaman.

Hujan masih turun dengan deras dari langit. Menimbulkan suara gemuruh di atap bangunan tempat mereka berteduh.

Gemuruh yang sama kini sedang terjadi juga di dalam hatinya.

Ia menatap sebuah pohon yang berjuang melawan tiupan angin di seberang jalan. Daun-daunnya berterbangan dan beberapa dahannya telah patah.

Lena.

Nama orang itu. Nama perempuan itu Lena.

Dan Lena kini memiliki tiga orang anak. Begitu  kabar yang Dicky dengar suatu hari lalu.

Semuanya perempuan. Ia membayangkan ketiga anak itu akan berparas secantik ibunya.

Ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya jika ia mengingat Lena. Sesuatu yang bahkan belasan tahun ini, belasan kota berbeda itu belum mampu melunturkannya.

Sebuah mobil sedan merah melintas di jalanan depan mereka. Mobil pertama yang lewat setelah beberapa menit lamanya. Kota ini sepi. Dan dalam cuaca seperti ini, sepinya kian menjadi-jadi.

“Masnya bukan asli sini. Keluarga ada di mana?” Perempuan itu menatap wajahnya, wajahnya tampak semringah.

“Keluarga di Jakarta, sebagian di Bogor” jawab Dicky singkat.

“Istri? Anak-anak?” Lanjut perempuan tua itu, bibirnya masih terkembang.

“Belum menikah.” Dicky tersenyum.

Perempuan itu masih tersenyum, “kenapa?” Tanyanya kembali.

Untuk sesaat, Dicky merasa kaget. Biasanya pertanyaan senada akan memantik kekesalannya. Tapi kali ini entah kenapa ia tak merasakan riak kemarahan itu muncul. Mungkin dinginnya cuaca ini akhirnya berhasil meredakan panas di kepalanya.

“Belum ada yang mau” jawabnya seraya tertawa.

Untuk sesaat, si perempuan tampak seperti akan terbahak. Namun dengan segera ia mengendalikannya. Hampir selihai pemain opera.

“Bahkan di usia Ibu sekarang, ibu merasa kamu laki-laki yang menarik” sahutnya riang, “pasti bukan itu jawabannya.”

Dicky tersenyum lebar. Senyumnya yang paling tulus sejauh percakapan ini.

Ia sudah berusia hampir 40 tahun sekarang. Di saat yang sama ketika teman-teman seangkatannya sedang sibuk bercengkrama dengan anak mereka di jam-jam seperti ini. Dan ia justru berada di sini, terjebak diinterogasi oleh seorang nenek.

“Belum ketemu jodohnya, bu” jawab Dicky sopan.

Perempuan itu terdiam. Ia tersenyum sejenak menatap mata Dicky lalu menggeleng pelan.

“Kamu sudah punya orang yang kamu cintai, mas” ucapnya pelan.

Dicky terdiam. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan perempuan tua itu.

Benar. Ia mencintai Lena.

Dan hanya Lena.

Seorang yang tak bisa dimilikinya.

“Kenapa dengan perempuan itu, mas?” Suara itu terdengar lembut. Dicky nyaris tak mampu menatap mata si penanya.

Kepala Dicky tertunduk.

Ia merasa tatapan perempuan itu seolah sedang menelanjangi dirinya perlahan-lahan. Tapi ia tak kuasa melawan.

Hujan masih turun dengan deras. Suara gemercik air menutup keheningan di antara mereka.

Dia tak bisa memiliki seorang yang sudah menikah. Itu jawabannya. Tapi lidah Dicky terasa kelu untuk bisa mengatakannya. Hal yang bodoh. Batinnya.

Perempuan tua itu tidak meneruskan pertanyaannya. Ia terdiam.

Ada keheningan sekitar 5 detik penuh sebelum ia bicara kembali. Pandangannya mereka kini teralih dengan menerawang ke jalanan.

“Kamu masih mau menunggu dia, mas?”

Dicky mengangguk pelan. Lidahnya tercekat. Ada satu perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Perasaan yang lama tak pernah lagi dirasakannya.

Perasaan yang ditutupinya dengan semua ketangguhan diri yang dibangunnya secara susah payah selama ini.

Perasaan yang tersembunyi di balik otot bisep dan trisepnya yang kekar.

Sesuatu yang ia tutupi di balik karirnya yang gilang gemilang. Di balik kekayaan yang dibangunnya.

Dan itu semua rasanya runtuh dalam sekejap mata. Bagai air hujan yang ditumpahkan dari awan mendung.

Perempuan itu tersenyum. Ia kembali menatap wajah Dicky. Ada satu perasaan aneh yang menyelubungi Dicky saat ini. Untuk sejenak ia merasa tak ada gunanya menutupi sesuatu di hadapan perempuan tua ini.

“Apakah seburuk itu?” Suara Dicky bergetar, “menunggu bukan pekerjaan yang hina, bukan?”

“Penantian itu tanda cinta sejati. Semua orang bisa saja bilang “cinta”, tapi tak semua mampu menunggu dan membuktikan bahwa cintanya nyata” Dicky berusaha terdengar tegar. Namun nada suaranya malah terdengar melengking.

Perempuan tua itu tersenyum lagi. Kali ini kerutannya tampak lebih jelas terlihat. Wajahnya terlihat cantik, bahkan untuk wanita seusianya. Jika mereka bertemu di zaman yang sama, rasanya akan sulit bagi Dicky untuk tak menyukai perempuan itu.

Perempuan itu menoleh kembali ke arah jalanan yang kian gelap dan sepi.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sementara hujan mulai menunjukkan tanda akan mereda setelah sekian lama.

“Semua orang punya tanggung jawab, mas”, perempuan itu berbicara dengan lembut, ada sedikit nada getir dalam suaranya.

“Dan tanggung jawab terbesar setiap orang adalah mencintai dirinya sendiri.”

Ada jeda sesaat sebelum perempuan itu menutup perkataannya.

“Orang yang mencintai dirinya sendiri, akan tahu kapan dirinya merasa cukup.”

Dicky terdiam.

Ia tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.

Ia tak pernah membicarakannya dengan siapapun sebelumnya.

Paska perpisahannya yang menyakitkan dengan Lena, ia mengubur dirinya dalam kesedihan, lalu menutupi kesedihan itu dengan semua yang ia bangun di sekitar dirinya.

Dicky tahu, bahwa ada sebagian dari dirinya yang tak pernah memaafkan dirinya sendiri karena telah membuatnya kehilangan perempuan itu.

Seonggok perasaan dari masa lalu yang terus berteriak kepada dirinya setiap bangun dari tidur. Sesuatu yang ia coba kunci dengan rapat di tempat yang terdalam. Tapi ia sendiri tahu, kalau “sesuatu” itu masih hidup dan berdenyut.

Dicky pernah berusaha membunuh perasaan itu. Namun ia sendiri tak yakin kalau dirinya bisa melakukannya. Seolah sama mustahilnya dengan membunuh separuh dari dirinya sendiri.

Ia juga benci membiarkannya tumbuh dan berkembang seperti dahulu kala. Karena ia tahu bahwa kenyataan pada akhirnya tak pernah berpihak pada dirinya.

Ia benci hidup dalam bayangan semu, sama seperti ia membenci kenyataan kalau ia tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu.

Maka itulah yang terjadi sepanjang tahun-tahun ini. Sebuah penantian yang ia sendiri tak tahu, apakah akan ada hasilnya. Satu api cinta yang ia jaga apinya agar tak pernah padam.

Hanya satu hal yang ia inginkan dalam hidup. Dan Dicky tahu persis akan hal itu.

Tapi kata-kata perempuan tua tadi seolah-olah seperti menaruh sebuah cermin dalam hatinya.

Cermin yang menunjukkan satu belahan lain dari hatinya, yang selama ini ia tak perhatikan.

Selama ini ia hanya berfokus pada satu belahan hati, tanpa sekalipun teringat, bahwa ini pernah memiliki satu belahan lain dari hati itu.

Belahan hati yang tetap setia menemani dirinya selama belasan tahun belakangan. Yang merawatnya dan memastikan bahwa dirinya dalam keadaan siap menghadapi apapun.

Termasuk menghadapi kemungkinan kembalinya Lena dalam hidupnya.

Cermin yang menunjukkan bahwa semua yang ia kerjakan, bukanlah cinta yang seutuhnya. Melainkan hanya separuh dari sebuah kepingan utuh.

Cermin yang menunjukkan kepingan yang ia sendiri tak sadari kalau ia pernah memilikinya: Dirinya sendiri.

“Bagaimana ibu bisa…” Dicky menoleh ke arah perempuan tua itu berdiri dan tak mendapati seorang pun di sana.

Hujan sudah berlalu. Menyisakan jalanan yang bertambah gelap tersiram air sepanjang sore.

Lampu mulai menyala di semua penjuru kota Pagar Alam.

Dicky masih berdiri mematung.

Ia mengambil batang terakhir dari bungkus rokok di saku kemeja dan menyalakannya.

Rokok itu entah mengapa terasa tidak enak sama sekali kali ini. Ia menatapnya lekat-lekat lalu mematikan rokoknya setelah isapan pertama.

Dicky tertawa tergelak. Tawanya yang paling lepas setelah bertahun-tahun lamanya. (KrisnaAdhi)

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply