Apa Saja Mitos yang Keliru Tentang ASI?

Segmen ini diambil dari jawaban-jawaban saya (Krisna Adhi) di id.quora.com. Dengan pertanyaan asli: “Apa saja mitos yang keliru mengenai ASI?

Silakan ajukan pertanyaan kalian dengan bergabung di id.quora.com.


Ada banyak sekali mitos, mungkin yang saya sebutkan disini hanya beberapa yang pernah saya alami sendiri dalam praktik yaa..

Bayi baru lahir

Bayi yang tidur perlu dibangunkan rutin untuk menyusu

1. Bayi baru lahir harus langsung minum. Karena jika tidak ia akan menangis kelaparan, maka jika ASI belum keluar banyak, susu formula harus diberikan.

Faktanya, bayi baru lahir (tentunya yang bugar) memiliki cadangan lemak coklat yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya hingga 36 jam pertama kehidupan. Sehingga kolostrum yang berjumlah sedikit saja sudah cukup. Bayi menangis tidak selalu karena lapar, jadi tidak perlu memberikan susu formula bila ASI belum keluar paska persalinan.

2. ASI pada ibu baru melahirkan merupakan susu “basi”, jadi harus dibuang dan tidak boleh diberikan pada bayi.

Faktanya, ASI yang baru keluar (disebut kolostrum) memang berwarna kekuningan kadang oranye dan kental, tidak seperti warna dan tekstur ASI pada umumnya, itu dikarenakan kandungannya yang unik, selain protein, lemak, vitamin, kolostrum juga mengandung sel kekebalan tubuh dalam jumlah tinggi. Oleh karenanya, kolostrum harus diberikan pada bayi baru lahir. Karena mengandung semua zat yang diperlukan bayi untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

3. Bila dipompa, ASI akan habis dan payudara akan kering.

Faktanya, ASI justru mengandung zat yang bernama Inhibin, zat ini akan menghambat dibentuknya ASI baru bila ASI yang berada di kelenjar payudara tak dikeluarkan. Dengan mengeluarkan ASI secara teratur, memenuhi kecukupan gizi ibu, maka ASI justru akan semakin banyak diperoleh.

4. Wanita yang tak bisa memiliki anak tidak bisa menghasilkan ASI.

Faktanya proses hamil dan melahirkan berbeda dengan menghasilkan ASI. Wanita dewasa yang seumur hidupnya tidak pernah hamil dan melahirkan sekalipun bisa saja memproduksi ASI dan menyusui bayi.

5. Bayi yang tidur tidak perlu dibangunkan untuk diberi ASI.

Faktanya, bayi sehat bisa tidur hingga 16 jam per hari, jika tidak dibangunkan untuk menyusu, maka ia akan tidur. Bangunkan bayi setiap 2–3 jam sekali untuk menyusu. Manfaat lainnya, jika bayi sering dibangunkan siang, malam hari orangtua bisa beristirahat lebih panjang. Karena siklus hidup bayi agak berbeda dengan orang dewasa, mereka akan aktif pada malam hari, dan tidur di siang hari.

6. Bila anak diberikan ASI, maka tidak perlu lagi diberikan Imunisasi.

Faktanya, ASI memang mengandung zat kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi. Namun itu bukan berarti ASI saja cukup, karena kekebalan yang diturunkan melalui ASI adalah kekebalan innate alias non spesifik. Kekebalan innate berguna untuk melawan semua kuman patogen yang menyerang, namun sifatnya tidak spesifik terhadap penyakit. Untuk memberikan kekebalan spesifik penyakit (misal kekebalan terhadap Difteri, Campak, Polio, dll) Imunisasi tetap harus diberikan kepada bayi, selain dari ASI.

7. Pada anak di atas 12 bulan, pemberian ASI masih tetap sekehendak si anak.

Faktanya, ASI tak lagi mencukupi kebutuhan anak. Memberikan ASI sesering mungkin pada anak usia ini, justru akan menghalangi masuknya makanan pendamping ASI, yang pada gilirannya membuat berat badan anak tidak naik dengan sebagaimana seharusnya. Berikan ASI cukup 6 kali saja, setelah memberikan makan pada anak. Prinsipnya, ASI tetap dilanjutkan sampai 2 tahun, namun tidak lagi menjadi makanan utama anak.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply