Amankah Sering Mengkonsumsi Makanan Pedas?

Ah, ini juga satu dari pertanyaan klasik orangtua pasien saya. Biasanya, yang sakit adalah remaja putri, keluhannya apalagi kalau bukan sakit perut dan diare.

Si ibu biasanya akan menuduh jajanan pedas si anak sebagai tersangka utama. Sementara si anak meringis sambil nahan perutnya yang sakit. Kemudian saya akan memberi nasehat sembari memberat-beratkan suara saya. Dan sekali lagi, dunia terselamatkan.

Cabai Merah Pedas

Seberapa Pedaskah Level Pedasmu?

Benarkah Makanan Pedas Berbahaya?

Tapi tunggu dulu, bener nggak sih yang dibilang Ibu tadi itu?

Sebagai dokter yang berpengalaman (karena sering diomelin Ibu), saya biasanya akan bilang begini: Seorang Ibu itu selalu benar, jadi dengarkan apa kata Ibu (cari aman banget, gue tau).

Tapiiiii, dalam konteks makanan pedas yang bersih dan aman, sebetulnya makanan pedas itu menyehatkan.

Ehem, seperti biasa cerita dimulai dengan pengembaraan saya di dunia maya untuk mencari sumber yang paling shahih.

Dan ada!

Hubungan Antara Kebiasaan Makan Pedas dan Kesehatan

Pada tahun 2015, sekelompok peneliti merilis data hasil penelitian mengenai kebiasaan makan pedas dan kesehatan.

Jumlah sampelnya nggak nanggung-nanggung: 487.375 orang (usia 30–79 tahun), dengan lama penelitian antara 2004 sampai 2013!

Hasilnya, dari lama pengamatan tersebut, didapatkan angka kematian pada kelompok orang yang mengkonsumsi makanan pedas lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Bukan cuma itu, angka itu didapatkan setelah terlebih dahulu menyesuaikan keberadaan faktor risiko pada masing-masing kelompok (mereka dengan penyakit jantung koroner, stroke, kanker, penyakit penapasan dipisahkan dalam penghitungan).

Makanan Pedas Menurunkan Risiko Kematian

Dengan kesimpulan, mereka yang mengkonsumsi makanan pedas 6–7 hari seminggu, memiliki penurunan Relative Risk (peluang terjadinya kematian) sebesar 14%.

Lebih mencengangkan lagi, pada kelompok dengan penyakit berat di atas sekalipun, mereka dengan kebiasaan konsumsi makanan pedas tetap konsisten dengan memiliki angka kematian lebih rendah ketimbang mereka yang tidak!

Mengapa Bisa Begitu?

Sebetulnya, manfaat dari makanan pedas dan zat bioaktifnya seperti capsaicin sudah lama diketahui, dan banyak diteliti, di antaranya:

  1. Konsumsi cabai merah pada orang asia dan kulit putih memiliki khasiat menurunkan nafsu makan, dan dengan demikian menurunkan risiko kelebihan berat badan maupun obesitas.
  2. Bahan aktif dalam cabai juga diketahui memiliki peranan dalam kesehatan jantung dan pembuluh darah,
  3. Menenghambat aktivitas (beberapa jenis) bakteri,
  4. Mempengaruhi biota usus yang pada manusia bermanfaat dalam (mencegah) diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, sirosis hati, dan kanker.

Dengan berbagai bukti di atas, maka makanan pedas ternyata terbukti berpengaruh besar dalam (menurunkan) angka kesakitan maupun kematian manusia.

Kapan Makanan Pedas Bisa Berbahaya?

Nah, kembali ke pernyataan si ibu di atas. Yang sebetulnya memang ada benarnya.

Beberapa orang ternyata memang tidak cocok dengan makanan pedas.

Pada sebuah penelitian di Iran menunjukkan, kelompok yang mengkonsumsi makanan pedas lebih dari 10 kali per minggu 92% berisiko mengalami Irritable Bowel Syndrome (atau IBS, yakni salah satu gangguan fungsional tersering pada saluran cerna – dengan tanda dan gejala berupa nyeri perut dan konsistensi/ frekuensi BAB yang terganggu) dibandingkan kelompok yang tidak pernah mengkonsumsi makanan pedas.

Jadi kesimpulannya bagaimana nih? Makan pedasnya lanjut apa nggak?

Kalau saya boleh menyimpulkan, mitos mengenai makanan pedes berbahaya tidaklah benar. Ia justru menyehatkan. Namun tentu ada hal-hal lain yang harus juga diperhatikan, antara lain kebersihan proses penyiapan dan penyajiannya, frekuensi dan banyaknya.

Karena sebagaimana kata Ibu: segala yang berlebihan itu nggak baek nak!

Sumber:

  1. Consumption of spicy foods and total and cause specific mortality: population based cohort study
  2. Consumption of spicy foods and the prevalence of irritable bowel syndrome
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply