Berenang, Kehamilan, dan Pseudo-sains

Berenang dan kehamilan
Mungkinkah Kehamilan Terjadi dari Sini?

Malam itu hujan deras mengguyur Bumiayu, membuat kegelapan semakin bertambah pekat. Saya duduk di atas gerbong restorasi kereta di depan dua orang pemuda.
Yang dari bentuk wajahnya, saya taksir mereka belum melewati usia pubertasnya.

Keduanya berbicara banyak sepanjang jalan.
Mengenai biaya cucian di kost, hingga situasi terkini dunia kerja Indonesia.
Saya jadi teringat, kalau perbincangan “serius” serupa juga pernah saya bincangkan bersama beberapa teman di Bogor maupun Semarang. Dan perbincangan itu terjadi pada suatu hari di sekitar 20 tahun lalu.

Yang menarik, ternyata ada begitu banyak hal-hal yang dulu pernah saya yakini ternyata sekarang juga masih mereka percayai.
Misalnya cerita tentang biaya “seleksi” di beberapa sekolah kedinasan yang konon mencapai ratusan juta (20 tahun lalu puluhan juta), cerita sulitnya menembus ujian PNS, hingga cerita impian untuk berwiraswasta.

Dua puluh tahun lalu, di tahun 2000, internet baru sebatas ada di warnet atau kantor. Itupun kecepatannya memprihatinkan. Ponsel pertama saya yang bisa mengakses internet baru saya miliki bertahun-tahun setelahnya.

Maka obrolan warung kopi macam di atas, seringkali kebenarannya jadi sulit dibuktikan.

Namun fakta bahwa dua dekade setelahnya rumor itu masih beredar agaknya membuktikan setidaknya dua hal:
Cerita turun temurun masih menjadi sumber informasi utama dan kurangnya sikap skeptis di kalangan masyarakat kebanyakan.
Ketimbang melakukan penyusuran informasi secara benar, kebanyakan orang kita lebih suka menelan mentah-mentah cerita turun temurun, kisah-kisah pseudo-sains dalam forum-forum, berita hoaks, dan semacamnya.

Alasan mengapa hal di atas terjadi adalah karena cerita-cerita pseudo-sains jauh lebih menyederhanakan persoalan ketimbang kompleksitas yang sesungguhnya terjadi.

Orang kebanyakan akan lebih suka memercayai cerita nanas sebagai pencegah/ obat kanker ketimbang menjaga gaya hidup sehat, karena memakan nanas tiap hari jauh lebih mudah ketimbang menghentikan kebiasaan merokok.

Begitu juga alasan mengapa banyak orang lebih memilih pengobatan kankerĀ  alternatif yang hanya berdasarkan testimoni, karena kemoterapi teramat rumit untuk dilakukan dan berbiaya sangat mahal.

Alasan berikutnya adalah karena kebanyakan orang belajar sains hanya sebagai hafalan di bangku sekolah, dan kemudian ingatan itu memudar di kemudian hari.

Belum lagi kita harus ingat, bahwa sains merupakan cabang ilmu yang rumit, butuh ketekunan. Dan kebanyakan orang menghindari berurusan dengan hal-hal demikian.

Kalau boleh saya berasumsi, mungkin itu juga latar belakang kenapa kisah mengenai salah seorang komisioner yang menyebut kehamilan terjadi karena berenang terjadi.

Sebuah cerita lama yang sempat ramai jadi isu di masa lalu. Yang mungkin saja beliau pernah dengar atau bicarakan dan kemudian terceplos begitu saja di saat wawancara.

Saya tidak sedang ingin menghakimi beliau. Bahwa semua orang pernah berbuat salah saya memahaminya. Dan lagi pula, bukan ciri khas saya untuk tidak menulis cara memahami orang lain, bahkan mereka yang paling toksik sekalipun.

Apabila alasannya adalah karena tiga hal di atas, maka sudah seharusnya kita bersikap bijak dengan memaafkan dan mengambil kasus ini sebagai pelajaran bagus.

Bahwa betapa berbicara di depan publik menuntut tanggung jawab, dan oleh karenanya bersikap skeptis terhadap informasi, menelaahnya, dan mencari dasar ilmiah merupakan hal mendasar yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin.

Namun ada satu alasan lagi mengapa teori-teori “nyeleneh” pseudo-sains ini sering diambil, yakni karena hal-hal tersebut seringkali lebih populer ketimbang sains-nya sendiri.

Dan untuk alasan terakhir ini, sedihnya, banyak orang yang mencari makan dengannya. Memanfaatkan ketidaktahuan awam demi mendulang rupiah.

Bila hal terakhir ini yang terjadi, dan malah diperkuat dengan pengkultusan, menafikan ilmu pengetahuan dengan mempercayai hal yang salah.
Maka di titik inilah, kita semua pada hakikatnya sedang menanti datangnya bencana.

Karena kebanyakan elemen-elemen utama dalam peradaban modern dunia ini begitu bergantung pada sains dan teknologi. Namun di sisi lain, semakin banyak juga orang yang tidak memahami sains dan teknologi itu sendiri.

Sebagai contoh nyata dalam hal iniĀ  adalah penolakan terhadap imunisasi yang padahal sudah jelas memiliki banyak bukti ilmiah dalam peranannya mencegah kerugian ekonomi, kesakitan, bahkan hingga kematian. Namun ironisnya justru ditolak dengan berbagai argumen yang landasan ilmiahnya dipertanyakan, bahkan kadang tidak ada sama sekali kajian ilmiahnya.

Maka kelak pada gilirannya, kombinasi ketergantungan dan ketidaktahuan itu akan meledak di depan muka kita sendiri.

Yah, setidaknya, letupan itu sudah terjadi di hadapan bu Komisioner sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *