Mitos Seputar Epilepsi Anak

Epilepsi pada Anak

Mitos Seputar Epilepsi Anak

Bahkan di era digital seperti sekarang ini, masih juga ada orangtua yang mempercayai mitos-mitos yang tidak benar mengenai epilepsi. Tidak hanya di daerah pedesaan, masyarakat perkotaan pun tak luput dari kepercayaan yang tidak tepat ini.

Kepercayaan bahwa penyakit pada anaknya disebabkan oleh kerasukan, sebagai contoh, membuat beberapa orangtua enggan membawa anaknya berobat.

Epilepsi dapat Disembuhkan dengan Penanganan Medis yang Benar

Padahal dengan penanganan yang benar, epilepsi dapat ditangani. Justru bila dibiarkan tanpa penanganan medis, epilepsi dapat mengakibatkan timbulnya penyakit komorbid (penyerta).

Beberapa komorbid epilepsi yang ditemukan pada anak adalah gangguan hiperaktif, disabilitas intelektual, dan juga depresi. Yang tentu pada gilirannya akan meningkatkan morbiditas pada anak, menambah banyak biaya berobat, menyebabkan gangguan pada prestasi sekolah, dan lain-lainnya.

Mitos-mitos Lain Seputar Epilepsi Anak

Berikut ini adalah mitos-mitos lain seputar epilepsi:

  1. Kejang epilepsi selalu tonik-klonik dan disertai hilangnya kesadaran.

Ada setidaknya 40 jenis kejang pada epilepsi, dan tidak semua epilepsi harus berupa gerakan tonik klonik (kelojotan), atau menghilangnya kesadaran. Ada jenis epilepsi mioklonik, atonik, absans, klonik, dan tonik. Untuk memastikan diagnosis, silakan konsultasikan dengan dokter anda.

     2. Paparan cahaya terang menyebabkan epilepsi kumat.

Hanya sekitar 3% saja penyandang epilepsi yang fotosensitif (peka terhadap rangsang cahaya), kebanyakan dari mereka memang anak-anak. Penyebab umum dari timbulnya serangan epilepsi antara lain adalah ketidakpatuhan menggunakan obat, kelelahan, dan stres.

    3. Penanganan penderita serangan epilepsi adalah dengan menahan badannya dan membuka mulutnya.

Kebalikan dari hal ini, justru menahan badan dan memaksa membuka mulut penyandang epilepsi yang mengalami serangan adalah hal yang membahayakan. Menahan gerakan anak dengan tubuh orang dewasa berpotensi menyebabkan patah tulang, mencoba membuka mulut anak yang terkatup, apalagi memasukkan gula, kopi, dapat menyebabkan anak menjadi tersedak, dan tidak dapat bernapas.

   4. Epilepsi merupakan penyakit yang jarang ditemukan.

Faktanya, justru sekitar 1,3-1,6 juta anak di Indonesia adalah penyandang epilepsi. Dan mungkin sebetulnya masih lebih banyak lagi, karena masih ada pasien epilepsi anak yang tidak dibawa orangtuanya untuk mendapatkan pelayanan medis yang memadai.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply