Membersihkan Jejak Digital di Tahun Baru

Membersihkan jejak digital

Sampah-sampah Digital

Sebagai orang dusun, saya hampir tidak pernah terlalu bersemangat menyambut pergantian tahun. Baik itu selama tinggal di Bogor, Brebes, Palembang, Pagar Alam, Semarang, dan kota lainnya. Semua hari itu rasanya berjalan datar-datar saja.
Namun memang selalu ada hal yang saya lakukan di hari pertama setiap tahun: bersih-bersih.
Keinginan beberes terasa lebih besar di hari pertama tiap tahun baru. Entah mungkin hanya semacam sugesti saya aja, atau memang orang lain juga mengalami yang sama?
Dan tahun ini beberesnya berbeda dari tahun lalu. Selain barang yang saya miliki sekarang lebih sedikit, ada hal lain yang ternyata hampir tak pernah saya bereskan selama ini: sampah digital.
Ada begitu banyak foto, video, tulisan dalam ponsel dan laptop. Mulai dari video rekaman amatir pernikahan seorang kerabat (berupa video penuh goncangan dan terhalang punggung seseorang – hanya Allah dan si pengirim yang tahu kenapa video berkualitas seburuk itu dikirimkan).
Juga ada juga foto seorang rekan di lokasi wisata yang lebih dari separuh foto berisi wajahnya (bukan sentimen, saya memang bukan penggemar foto selfie).
Serta banyak sekali dokumen PDF tak bernama yang bahkan saya lupa kapan pernah saya unduh, oh ya tak lupa setumpuk kiriman materi kedokteran rekan-rekan yang tak pernah saya baca.
Saat itu saya menyadari, bahwa untuk menghapusnya saja menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
Pernah ada di masa lalu, saat sekeping floppy disk 3,5 inci hanya cukup menampung data 800-2,4 MB saja. Dan di kala itu juga, menghapus file yang tak terpakai adalah hal yang vital. Bukan saja menghemat tempat yang menang sudah sedikit. Namun juga menghemat uang.
Apalagi menyimpan floppy banyak-banyak bukanlah hal bijak juga. Karena floppy yang ada saat itu mudah rusak, dan bila ada korup di disk-nya, data itu hilang begitu saja.
Dengan makin majunya perkembangan teknologi digital. Harga piranti keras penyimpanan data sudah jauh lebih murah dan kegiatan menghapus data seolah menjadi kisah masa lalu.
Menghapus file lama kini mungkin hampir sama kunonya seperti mengirim sepucuk surat berprangko kepada seorang kekasih.
Bilapun ada “sampah” terakhir yang kita hapus boleh jadi itu adalah data di ponsel yang sudah kepenuhan tempat. Hal ini juga dalam beberapa tahun mendatang boleh jadi akan ikut punah, seiring makin murahnya ponsel dengan kapasitas 64 GB ke atas.
Jadi mengapa harus menghapus? Atau apa memang ada alasan bagus dari menghemat data digital kita?
Jawabannya adalah bahwa setiap data yang dikumpulkan, dihasilkan, dan disimpan sejatinya bukan perkara kosong. Ada emisi karbon yang dihasilkan dari tiap jejak digital.
Data oleh MacAfee menunjukkan, energi yang digunakan untuk menghapus pesan spam saja setara dengan energi untuk menyalakan listrik di 2 juta rumah di AS.
Emisi yang dihasilkan dari energi sebesar itu setara dengan emisi karbon dari 3 juta kendaraan. Edan!
Pada tahun memang 1999 sempat diramalkan bahwa kemajuan teknologi informasi akan menurunkan emisi, melalui berbagai penemuan digital (katakanlah mengenai trend paper-less, dan sebagainya) namun 2 dekade lebih setelahnya, ramalan itu justru terbukti sebaliknya.
Karena semua data yang kita buat secara online, semua jejak digital kita, membutuhkan ruang penyimpanan dan energi.
Menggunakan energi dari sumber yang terbarukan adalah satu jawaban yang bisa diambil. Namun bicara mengenai hal itu di negara kita, agaknya masih jauh panggang dari api, sejauh BPJS Kesehatan dari surplus.
Apalagi berbicara penggunaan energi terbarukan di kala penggunaan energi fosil masih marak dan terjangkau seperti sekarang ini, mungkin sama kecil peluangnya dengan kemungkinan anda mengangkat telepon dari nomor berawalan 021 hari-hari ini.
Bagi saya pribadi, jawabannya tidak perlu canggih-canggih amat. Kita cukup beranjak kembali ke era 20 tahun lalu. Saat ponsel belumlah secanggih sekarang.
Di kala kita menikmati momen pernikahan kerabat cukup dengan duduk khidmat.
Atau menikmati lokasi wisata yang kita kunjungi dengan sepenuh jiwa raga dengan orang yang kita cintai?
Dan sebelum membagikan apapun itu, coba pikirkan kembali apakah hal yang akan kita bagi bakal bermanfaat bagi sesama, ataukah hanya akan menjadi beban untuk dihapus oleh sang penerima pesan?
Dunia masih akan bergulir tanpa perlu tahu apa yang sedang anda makan malam ini.
Jadi, kenapa tidak sedikit meringankan bumi yang sudah renta dengan mengurangi jejak yang anda buang?
Tidakkah lebih indah untuk duduk diam dan menikmati sekeliling kita, tanpa perlu terlalu disibukkan oleh dokumentasi pribadi yang boleh jadi tak ada satupun orang yang berminat melihatnya.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply