Kecelakaan Bus Pagar Alam: Sebuah Titik Balik

Evakuasi Korban dari Dasar Jurang

Evakuasi Korban Kecelakaan dari Dasar Jurang

Tragedi Akhir Tahun

Sebuah tragedi kembali terjadi di Jagat Besemah di penghujung tahun 2019. Dan kali ini bukan lagi sekadar menjadi berita lokal atau nasional, melainkan juga menjadi kabar di media-media Internasional.
Setelah sebelumnya diramaikan oleh beredarnya Harimau Sumatera di Pagar Alam dan Lahat. Dan belum usai kehebohan yang ditimbulkan hewan loreng tersebut, Senin (23/12) dini hari lalu, masyarakat kota Pagar Alam dikagetkan oleh banyaknya bunyi sirine ambulans yang bersahut-sahutan memecah keheningan.

Namun kali ini alarm berbunyi bukan karena jatuhnya korban serangan hewan langka tersebut, namun karena korban kecelakaan bus Sriwijaya yang terjun ke Jurang, tak jauh dari pusat kota Pagar Alam, dan dekat sekali dengan Curup Lematang Indah yang menawan itu.

Likuan Endikat Pagar Alam

Saya masih ingat dengan rupa jalan lokasi terjadinya kecelakaan, jalan itu baru saja selesai mengalami pemugaran di pertengahan tahun 2019 ini.

Jalannya lebar dan beraspal mulus. Sisi tebingnya dibeton dengan kokoh. Belokannya memang tajam, hampir serupa hairpin, namun tidak sesempit kelokan di Endikat.

Malahan cukup memadai untuk dilalui dua kendaraan sekaligus. Tidak seperti si Legenda likuan Endikat yang menghendaki kendaraan berjalan bergantian saat melaluinya.

Beberapa ratus meter di depan dari lokasi kecelakaan, saya ingat ada sebuah plang peringatan untuk pengemudi, bahwa daerah itu rawan kecelakaan dan mengingatkan bahwa jurang di bawah cukup dalam dan akan sangat menyulitkan penolong untuk turun menyelamatkan jika terjadi kecelakaan.

Dua Pertanda Sebelum Kecelakaan

Bus Sriwijaya di Dasar Jurang

Dalam hati kecil, saya merasa sesak mengetahui bahwa sebelum terjadi kecelakaan fatal tersebut, bus yang sama mengalami dua insiden yang sebetulnya tak bisa dianggap remeh.

Ada senggolan dengan kendaraan lain yang menyebabkan si sopir bus bertengkar dengan sopir kendaraan lain, yang kedua, roda bus sempat terperosok parit di daerah Pendopo, Empat Lawang. Bus sempat nyaris terjungkal namun akhirnya bisa kembali melaju melanjutkan perjalanan.

Dan akhirnya peristiwa itupun terjadi.

Saya ikut merinding membayangkan kisah penumpang selamat, yang mengatakan mereka sudah dicekam ketakutan setidaknya 2 kali sebelum akhirnya bus terjun ke jurang.

Bagaimana mereka berdzikir dalam pekatnya kegelapan malam itu. Tanpa bisa berbuat banyak.

Sebuah Titik Balik?

Saya ikut berduka dan merasa sedih akan apa yang terjadi. Namun dengan adanya dua peristiwa besar ini, mungkin inilah titik balik untuk kota Pagar Alam.

Saat pertama berpisah dengan Kabupaten Lahat di tahun 2001, sektor pariwisata adalah unggulan di Kota Pagar Alam. Digadang-gadang sebagai Bandungnya Sumatera Selatan, kota ini memang memiliki semua potensi yang dibutuhkan untuk menjadi besar.

Daerah pegunungan yang berhawa sejuk, kebun teh berusia ratusan tahun, pemandangan alam yang elok tanpa banyak bekas campur tangan manusia, puluhan peninggalan prasejarah yang tersebar di lembah dan bukitnya, dan ratusan curup indah menunggu untuk dikunjungi.

Setidaknya itu harapan semua orang.

Kini 18 tahun lebih berselang. Seperti saya ungkapkan dalam video Surat Cinta Untuk Pagar Alam, angan-angan itu sayangnya masih menjadi mimpi belaka ketimbang menjadi realita.

Dua peristiwa besar ini membuka satu hal yang mungkin menjadi masalah sekaligus sebuah solusi bagi keinginan luhur para pendiri kota Pagar Alam di atas.
Seperti halnya jodoh, jawaban yang dicari terkadang tidaklah jauh, dia dekat, namun belum disadari.

Keamanan Sebagai Pondasi

Jawabannya terletak dalam sebuah papan yang berdiri di setiap lokasi wisata di Pagar Alam. Saya yakin kita semua pernah melihatnya. Ada tujuh poin dalam Sapta Pesona Wisata, dan yang terletak di nomor satu adalah Keamanan.

Saya kembali teringat saat pertama kalinya saya datang ke Curup Maung, yang sampai saat ini masih saya anggap sebagai curup terindah di Sumsel.

Saya menanyakan kepada beberapa orang pemuda yang menjaga Wilayah tersebut mengenai akses permanen yang tak kunjung dibuat, sebagai catatan, curup Maung meledak popularitasnya pada tahun 2014, dan saya mengunjungi curup indah itu di medio 2018.

Dan oiya, buat anda yang Belum pernah mengunjungi Curup Maung, silakan saksikan keindahan sekaligus perjuangan menyusuri terjalnya perjalanan menuju curup itu di vlog saya.

Mereka beralasan saat itu, memang sengaja tidak membuat akses tangga permanen karena ingin membuatnya terlihat alami.
Entah itu memang jawaban resmi atau sekadar ngeles, hanya Allah SWT dan si penjawab yang tahu.

Pagar Alam Menuju Pengelolaan yang Lebih Baik

Bagi saya pribadi sebagai pendatang, masalahnya bukan alami atau tidak. Melainkan seserius apa pengelola menjamin keamanan pengunjungnya?

Dan masalah keamanan ini terbukti menjadi faktor lain yang di kemudian hari menjadi sebuah momok bagi Pagar Alam.

Tidak hanya aman dari alamnya, namun juga bagaimana sarana penunjang wisata lain, yakni transportasi dijamin keamanannya.

Pagar Alam Sebagai Bagian Jalur Lintas Sumatera

Tanpa adanya pengemudi yang sembrono sekalipun, jalanan lintas Sumatera – dan mungkin sebagian besar wilayah di Indonesia – Sudah cukup membahayakan medannya.

Penerangan yang kurang, jalanan rusak di beberapa bagian, ancaman tanah longsor, Belum lagi bicara jurang dan tebing yang setia mengikuti perjalanan dari dan menuju Pagar Alam.

Seorang sahabat pernah mengalami terjebak jalan longsor selama 18 jam saat menuju kota Pagar Alam dari perjalanan pulang dari Manna, Bengkulu Selatan.

Dan kalau mau jujur dibandingkan, jalur Manna – Pagar Alam sebetulnya masih lebih mengerikan daripada jalur jatuhnya bus Sriwijaya yang di antara Pagar Alam – Lahat (melalui jalur Endikat). Jalur Manna – Pagar Alam jauh lebih sempit, berkabut saat petang, dan rawan longsor di musim penghujan.

Keseriusan Semua Pihak Dibutuhkan

Maka keseriusan semua pihak patut dipertanyakan disini. Karena selayaknya standar keamanan tidak boleh diterabas karena alasan ekonomi, dan selamat tidaknya wisatawan tidak boleh disandarkan pada harapan.

Bahwa semua membutuhkan proses, saya yakin semua juga memahami itu. Namun proses sebesar apapun harus dimulai dengan langkah pertama. Dan itu yang ingin saya ingatkan melalui tulisan ini.

Standar keamanan boleh jadi tidak pernah sama bagi semua orang. Namun tentu segalanya memiliki aturan baku yang selayaknya ditegakkan tanpa pandang bulu.

Akses jalan yang aman menuju lokasi wisata harus dibuat. Pun pengelolaan objek wisata yang lebih serius dibutuhkan.

Permakluman Terhadap Ketidaksempurnaan

Tak lupa perhatian terhadap sarana prasarana transportasi tak memadai yang mungkin selama ini lebih banyak diberi permakluman ketimbang ditertibkan dan dibina (silakan baca penjelasan mengenai hal ini dalam serial “Catatan Akhir Perjalanan” di blog ini), semua itu adalah bagian penting yang selayaknya juga menjadi prioritas.

Karena saya masih percaya, Pagar Alam adalah satu dari tempat langka di Nusantara ini. Tempat yang memiliki paket wisata komplit yang jarang dipunya.

Sungguh sayang seribu sayang bila nama Pagar Alam menjadi tenggelam dalam kancah pariwisata nasional maupun dunia hanya karena isu keamanan yang sebetulnya bisa dintisipasi melalui kesadaran semua pihak yang terlibat.

Keamanan adalah poin pertama dan bukan tanpa alasan ia ditaruh di tempat teratas.

Tanpa adanya keamanan, tempat setertib, sebersih, sesejuk, seindah apapun, dengan penduduk seramah apapun dan jaminan kenangan tak terlupakan takkan ada artinya.
Kita semua hanya memiliki satu kali jatah kesempatan untuk hidup. Dan saya yakin, semua orang setuju untuk tidak mempertaruhkan harta satu-satunya mereka itu, hanya untuk sekadar berwisata.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply