banner 728x90

Saat Atasan Berbaju Priyayi

banner 468x60

Saya termasuk orang yang merasa bahwa kesopanan yang berlebihan adalah sama dengan pelecehan – kalau bukan penghinaan.

Silakan debat saya soal ini. Tak mengapa. Namun seperti itulah yang saya rasakan dan saya yakini.

Karena manusia itu hakikatnya merupakan makhluk yang berdagang, maka untuk apa yang orang lain jual kepada kita, sesungguhnya ada harga yang harus kita beli.

banner 300x250

Dan bila seseorang memperlakukan kita terlampau tinggi. Hati-hati, jangan-jangan ada harga mahal yang nyaris tak masuk akal di baliknya kelak, entah itu akan dibayar kontan atau belakangan.

Lalu mata kita semua terbelalak minggu ini, dengan puluhan juta pemirsa menyaksikan, betapa ribuan caci maki, dan cibiran warganet bertebaran bagai anai-anai di sore hari setelah turun hujan.

Apalagi kalau bukan tentang kasus Garuda.

Kasus penyalahgunaan wewenang yang kini merambat hingga ke kehidupan pribadi.

Saya yakin anda juga akan sependapat, kalau mau melihat dari sudut pandang yang lebih lebar, kasus ini muasalnya hanya pada dua barang yang dimasukkan secara ilegal oleh petinggi Garuda.

Namun yang justru ramai di dunia maya adalah berita-berita seru tentang betapa rusaknya tabiat para tersangka tersebut. Semua dijabarkan seterang benderangnya, diiris tipis-tipis kalau meminjam istilah di Twitter.

Itu dan semua hal lain yang sesungguhnya tidak ada hubungan langsung dengan motor Harley maupun si sepeda lipat.

Saya membaca banyak irisan-irisan tipis itu belakangan. Dan kemudian menyadari bahwa ada benang merah penghubung antara ketidaksukaan saya di paragraf pertama tulisan ini dengan apa yang disebutkan dalam irisan-irisan di Twitter.

Bahwa para tersangka, dan beberapa kroni mereka, memang bersikap bagaikan priyayi dalam kerajaan bernama Garuda. Seperti raja-raja yang boleh bertindak apa saja nyaris tanpa adanya mekanisme kontrol yang bisa meredam.

Dan yang terjadi setelah priyayi-priyayi itu jatuh, semua rakyatnya menjadi berebut memukuli, melampiaskan segala murka, termasuk caci maki dan sumpah serapah. Membongkar habis seluruh perilaku buruk priyayi-priyayi itu yang selama ini tak terendus oleh orang kebanyakan di luar sana.

Saya menjadi berpikir, bila memang seseorang berperilaku tidak sebagaimana mestinya, apakah harus menunggu orang itu jatuh tak berdaya sebelum diingatkan?

Dibiarkan terbang setinggi langit untuk kemudian dicampakkan, diinjak, dan dicabik-cabik?

Saya tidak sedang membela priyayi-priyayi itu. Saya boleh dibilang sama muaknya dengan para pencaci.

Tapi sekarang, apakah masalahnya memang ada di pimpinan yang tak mau diingatkan? Atau justru orang-orang di sekitar mereka yang membiarkan perilaku priyayi itu?

Alih-alih menegur, malah semakin membuat sekat yang nyata, meninggikan kesenjangan, mengipasi bara kesombongan mereka hingga tak lagi terkendali?

Saya meyakini bahwa semua orang patut memiliki perasaan mawas diri. Dan rasa itu hanya akan ada, bila kita dipelakukan sewajarnya oleh siapa pun dan kapan pun.

Karena perlakuan spesial cenderung akan mengakibatkan manusia menjadi lengah dan lupa. Bahwa mereka juga memiliki peran dalam sistem kehidupan.

Sistem kehidupan ini memang membuat ada sebagian orang yang menjadi bawahan, beberapa lain menjadi atasan. Namun sistem hanyalah sistem.

Dan sebagai bagian dari sistem, merupakan hal wajar bila ada kalanya bawahan dan atasan kelak akan bertukar peran.

Dalam bermain peran ini, ada beberapa pihak – saya yakin anda juga pernah temui mereka dalam hidup – yang menghargai anda secara berlebihan, memuja anda setinggi langit, yang mana anda tahu itu bukan hal yang sewajarnya anda dapatkan.

Berhati-hatilah menghadapi orang-orang itu. Mereka inilah para rentenir yang memaksa kita mengambil barang mewah yang sebetulnya tak kita perlukan. Untuk kemudian mencekik kita dengan harga yang teramat mahal di penghujung hari.

Chris_TWD

banner 468x60
Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply