Harimau-harimau Pagar Alam

Harimau pagar alam
Harimau Pagar Alam

Tiba-tiba saja saya merasa merinding mendengar berita kemunculan harimau Sumatera di wilayah Pagar Alam beberapa minggu terakhir.

Sudah ada empat orang korban, dengan dua di antaranya meninggal dunia.

Bukan main-main, angka itu merupakan statistik yang bisa menciutkan nyali tak peduli seberapa gagahnya seorang manusia.

Dan pikiran saya kembali ke masa-masa itu. Di kala saya berburu sunrise di pagi buta di kebun teh Gunung Gare dan Kampung Empat. Paska salat subuh. Sendirian di tengah kebun teh. Saya masih ingat betul.

Mungkin baru setelah 1,5 jam berlalu di kebun teh pagi itu, hingga akhirnya seseorang melintas, tatapan heran pria itu kepada saya pun masih saya ingat dengan lengkap.

Atau saat berupaya menembus rimba, menuju curup Besemah di desa Mingkik, dekat sekali dengan Jembatan Endikat yang masyhur itu.

Ada 4-5 penduduk setempat yang sempat melarang saya bepergian sendiri – dan tentu anda semua tahu, larangan itu tak saya gubris.

Berjalan dan terus berjalan memasuki belantara, tanpa petunjuk, tersesat selama 2-3 jam dan kembali dengan tangan penuh darah bekas gigitan nyamuk tanpa pernah melihat sedikitpun curup yang dituju.

Pernah juga saya menuruni jurang curam seorang diri tanpa keberadaan tangga/ alat bantu memadai di curup Maung, desa Padang Muara Dua – lokasi yang sebetulnya cukup populer sebagai tempat wisata, namun entah kenapa saat itu kosong – lalu berada di sekitar curup selama 1-2 jam, dan kembali ke lokasi awal, tanpa bertemu seorang pun dari awal sampai akhir.

Ada juga momen saat saya berdua dengan seorang rekan, berjalan berjam-jam, sejauh belasan kilometer, melewati kebun, hutan, diguyur hujan di separuh jalan pulang. Hanya untuk memupuskan rasa penasaran akan keberadaan sebuah curup di ujung jalan sana.

Rasanya saat itu juga ada terceletuk omongan akan kekhawatiran kami bertemu dengan hewan buas.

Semua itu terjadi tanpa pernah terpikirkan akan keberadaan sosok bernama harimau. Dan membayangkan bahwa makhluk itu bisa saja berada di tempat dan waktu yang sama dengan saat saya disana sudah cukup membuat benak saya bergidik ngeri sekarang.

Pada masa itu, tak ada satupun warga yang pernah menyinggung tentang keberadaan harimau Sumatera. Anjing ada dimana-mana, Babi hutan iya, Beruang iya – meski saya tak pernah berjumpa – namun tidak dengan harimau. Entah memang terlupakan, atau tak diketahui keberadaannya.

Jadi rasanya, saya mengalami kejadian ‘near miss’ berulang-ulang tanpa pernah disadari.

Bagaimanapun, kami hidup dan selamat. Dan saya kini ikut merasakan keprihatinan yang sama.

Saya bisa membayangkan rasa cemas dan ketakutan yang mendera para penduduk yang tinggal jauh dari keramaian.

Bagaimana teror bagi para petani kopi yang biasa tinggal di dukuh-dukuh terpencil di tengah hutan rasakan.

Rangkaian serangan ini akan dan sudah memukul sektor pariwisata Pagar Alam, dan mungkin hanya Allah yang tahu untuk berapa lama.

Dari lubuk relung saya yang terdalam. Doa saya menyertai. Semoga saja badai cobaan ini segera berlalu.

Chris_TWD

1 thought on “Harimau-harimau Pagar Alam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *