banner 728x90

Surat Cinta untuk Pagar Alam

banner 468x60

Gunung Dempo dari sisi Timur

Kedatangan di Kota Pagar Alam

Juli 2018 lalu adalah saat pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota wisata Pagar Alam.

banner 300x250

Nama yang sudah lama saya dengar mengenai keindahannya. Namun belum sempat saya kunjungi selama periode saya tinggal di Sumatera.

Setelah setahun tinggal di Pagar Alam, dan banyak sudah tempat yang saya kunjungi. Kesimpulan saya berita yang selama ini saya dengar tidaklah benar.

Pagar Alam tidak indah. Ia menakjubkan.

Kemana Hilangnya Gema Pariwisata Itu?

Namun sayang. Semenjak kedatangan saya hingga kini, rasanya gaung kota dataran tinggi di Sumsel ini tidak bergema. Jangankan untuk turis mancanegara. Wisatawan lokal sekalipun agaknya berat.

Saya merasakan denyut-denyut usaha ke arah itu itu sejujurnya. Dan komitmen para kepala daerah sudah kuat. Namun entah mengapa rasanya cita-cita itu seolah tenggelam di tengah derasnya aliran sungai Lematang.

Versi video dari tulisan ini dapat anda simak disini.

Peluang Pariwisata Pagar Alam yang Luar Biasa

Peluang pariwisata Indonesia memang sangat besar untuk menjadi yang terbaik di dunia. Bukti paling aktual, Indonesia masuk deretan 6 besar negara terindah versi Rough Guides di Inggris Raya sana. Indonesia juga menempati nomor 7 dan menjadi satu-satunya negara ASEAN yang lolos top 10 versi Lonely Planet.

Downhill di Gunung Gare

Dan saya tidak sedang berhiperbolis saat mengatakan, Pagar Alam memiliki semua pesona Indonesia. Suasana sejuk pegunungan dengan hamparan hijau permadani kebun teh, gunung Dempo yang tinggi menjulang, situs-situs peninggalan purbakala yang misterius, budaya lokal yang menarik, hingga ratusan kalau tidak ribuan air terjun yang tersebar di kawasan Besemah.

Belum lagi kita menyebut hasil bumi berupa sayur mayur, teh, jeruk, salak pondoh, dan tentu kopi.

Pagar Alam Sebagai Paket Lengkap Wisata

Semua itu rasanya menjadi paket lengkap yang seharusnya bisa menjual. Karena sederhana saja. Saya yakin tidak banyak daerah yang memiliki paket selengkap ini di Indonesia.

Saya sebagai pendatang merasa sayang, bila pariwisata kota ini tidak maju. Karena itu berikut ada beberapa masukan yang saya ingin berikan. Semoga masukan dari TheWalkingDoctor ini bisa didengar.

Ciptakan Paket Wisata Menggoda

Pertama, ciptakan paket wisata yang menggoda. Menggoda disini bukan wisata negative loh ya, namun wisata yang unik, yang tidak dimiliki daerah lain, hal yang memaksa orang harus datang ke Pagar Alam.

Saya sudah beberapa kali singgah ke komplek megalith di Pagar Alam maupun Lahat. Meski kawasannya sendiri terurus dengan baik, namun ketidak beradaan pemandu ataupun keterangan di lokasi. Membuat kunjungan itu setengah hampa.

Saya berangkat dengan satu pertanyaan di kepala dan pulang dengan puluhan pertanyaan lain. Tanpa tahu harus mencari jawaban kemana.

Kunci Pariwisata Pagar Alam

Menurut pendapat saya, ini merupakan kunci dari wisata di Pagar Alam. Peninggalan para puyang yang harus dilestarikan sekaligus memantik rasa bangga dan memiliki.

Lebih unik lagi karena konon masih ada megalith-megalith lain yang tersebar di jagat Besemah yang belum ramai dikunjungi. Saking banyaknya peninggalan megalitikum, warga tak pernah menyangka di bawah kebunnya ada benda prasejarah yang memiliki nilai sejarah yang tak terhitung.

Wisata Edukasi Megalitik

Warisan budaya megalitik ini sendiri hanya dapat ditemukan di Pulau Nias, Sumatera Utara, di pedalaman Sumatera Utara, Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur, juga budaya Toraja di pedalaman Sulawesi Selatan.

Jadi seharusnya ini menjadi ciri khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia.

Pagar Alam Heritage Trail 2018

Pagar Alam Heritage Trail 2018

Memang acara untuk menggairahkan sektor ini pernah dilakukan. Tahun lalu digelar Pagar Alam Heritage Trail untuk kali pertama. Dan semoga saja acara senada akan terus digalakkan.

Mengapa tidak bisa dikemas dengan menarik, berselimut edukasi dari orang-orang yang kompeten. Sehingga batuan itu tidak hanya dibiarkan sekadar menjadi batu. Namun bisa sepopuler Stonehedge di Inggris?

Bagaimana Pagar Alam Bisa Menjadi Seperti Jogjakarta?

Mengapa tidak terpikir untuk menjual wisata megalith ini ke turis mancanegara? Jogjakarta bisa mendatangkan hampir 2 juta turis mancanegara tiap tahun. Sedangkan berapa total kunjungan turisnya? Dua puluh enam juta!

Mari berandai-andai. Jika Pagar Alam bisa mendatangkan 10% saja dari turis di Jogja. Itu artinya 2,6 juta turis per tahun. Itu artinya 50.000 turis tiap minggu.

Dan bila masing-masing turis katakanlah menghabiskan uang seratus ribu rupiah saja di Pagar Alam. Bisa dibayangkan, berapa besarnya perputaran uang disini? Lima milyar seminggu!

Dalam satu tahun, pemasukan itu akan mencapai 260 milyar rupiah. Seperempat dari APBD Pagar Alam sendiri. Dan itu kalau hanya Rp100.000,00 per turis.

Siapa Target Pemasaran Wisata Pagar Alam?

Kedua, target pemasaran wisata Pagar Alam harus ditetapkan. Ini serius, karena di zaman modern seperti sekarang, iklan di layar ponsel andapun disesuaikan dengan masing-masing individu. Mengapa saya bilang ini penting, karena secara geografis, kota Pagar Alam kurang menguntungkan. Jaraknya sekitar 8 jam perjalanan darat dari Palembang.

Pagar Alam dari Ketinggian

Curup Besemah dari Ketinggian

Pesawat pun tidak melayani penerbangan setiap hari. Itupun terbatas hanya pergi pulang ke Palembang.

Maka segmentasi disini berperan. Karena tidak semua keluarga dengan dua anak kecil bersedia datang berwisata kesini. Begitupun orang-orang muda dengan waktu kunjung terbatas. Waktu 2 hari di Pagar Alam bisa dapat apa?

Apakah para pensiunan bersedia berjalan kaki menempuh jalan naik turun bukit berwisata disini? Jadi bener deh, segmentasi ini harus serius.

Pastikan Paket Wisata yang Dijual Terlihat Jelas

Ketiga. Paket wisatanya harus mudah terlihat. Saya tahu ada beberapa penyelenggara wisata di Pagar Alam. Mengapa tidak bergabung dalam satu wadah dan membuat satu situs yang keren, memasarkan dengan satu pintu, namun semua lini media sosial dapat dijangkau. Mampu melakukan pemesanan melalui online. Ketimbang memasarkan sendiri-sendiri dengan segmen yang terbatas?

Ayo dong jangkau turis mancanegara.

Masalahnya, bagaimana cara turis bisa melihat, kalau promosinya sendiri tidak menggelegar. Semua butuh biaya memang. Karenanya, model pembiayaan dengan Equity Crowd Funding seperti pada UMKM bisa diadopsi.

Ketimbang melakukan pinjaman ke bank, atau berharap bantuan. Mengapa tidak bahu membahu menanamkan modal untuk sama-sama membangkitkan sektor pariwisata ini?

Pariwisata ini berpotensi menghasilkan devisa loh, menghasilkan uang. Yang diharapkan kelak menjadi pemasukan terbesar kedua setelah pajak.

Buat Situs Web yang Mobile Friendly

Keempat. Pastikan situs yang dibuat mobile friendly. Artinya mudah diakses lewat ponsel. Sebuah riset mengenai perilaku wisatawan menunjukkan, sebesar 87% wisatawan mengakses informasi mengenai tempat wisata mereka melalui ponsel.

Dan ini krusial. Coba saja anda cari di Google kata kunci “Wisata Pagar Alam”, saya sudah melakukannya sejah setahun lalu. Dan abra kadabra, hingga kini isinya tak banyak bergeser. Tak banyak hal berbeda disana. Tidak dinamis.

Bener deh, coba saja konsentrasi membuat satu saja situs yang paling lengkap tentang pagar alam, mobile friendly. Pasarkan vila disana, pemandunya sekalian, paket wisatanya. Dan jangan lupa: megalithnya!

Maksimalkan Promosi Melalui Video

Poin kelima adalah maksimalkan video. Youtube merupakan platform pencarian kedua terbesar setelah Google.

Sekali lagi saya menantang anda, ketikkan kata Pagar Alam di Youtube. Percayalah, isinya tak banyak berubah dari setahun lalu. Dan itu sangat disayangkan sejatinya. Cobalah sedikit kita komparasi dengan betapa ketatnya persaingan video wisata untuk daerah lain, semisal Jogjakarta, atau Jakarta.

Kembali ke video di bawah kata kunci Pagar Alam. Ada beberapa video saya disana. Dan untuk itu tentu anda tidak boleh lupa subscribe.

Kanal YouTube TheWalkingDoctor

Video merupakan kekuatan dahsyat. Riset menunjukkan, platform iklan di masa depan tidak lagi berupa tulisan atau gambar. Melainkan video. Banyak keputusan konsumen yang diambil paska melihat sebuah video, pun kebanyakan online marketer menggunakan video sebagai media promosinya kini.

Saya usul buatlah video yang apik, dikemas profesional, libatkan tenaga kreatif lokal. Dan secara terus menerus membanjiri media sosial.

Curup Maung

Saya yakin, tidak banyak tempat yang bisa menandingi kecantikan curup Maung. Atau Sunrise di Kampung Empat. Kebun dan pabrik teh bersejarah di Gunung Gare. Dan itu semua masih minim sentuhan tangan manusia. Belum banyak ternoda oleh jejak manusia.

Dan patut diketahui, ada begitu banyak media sosial untuk memasarkan video ini. Sebut saja Facebook, Vimeo, Kaskus, di luar dari YouTube. Dan pastikan semuanya bisa dipenetrasi.

Gunakan Travel Influencer

Poin terakhir, mengapa tidak menggunakan jasa travel influencer? Saya menilai, untuk kelas Pagar Alam, seharusnya tidak lagi hanya sekadar menarget turis lokal. Mengapa tidak sekalian turis mancanegara?

Dalam vlog saya yang sederhana saja, sudah ada turis mancanegara yang bertanya. Mengenai bagaimana cara mencapai kota Pagar Alam. Kemana ia harus menginap. Menggunakan transportasi apa. Semua hal itu memang saat ini masih menjadi kelemahan. Namun bukan berarti tidak dapat diperbaiki.

Dalam website yang apik tadi, buatlah jadwal pemberangkatan travel menuju Pagar Alam. Semua tertera jelas, lokasi travelnya, tarifnya, bagasinya, dimana mereka akan makan, berapa lama waktu tempuh dan rutenya. Dan itu bukannya tidak mungkin. Sangat mungkin sekali.

Dan Seharusnya Jeme Pagar Alam Bangga

Curup di Pagar Alam

Curup Maung

Sebagai penutup, dengan apa yang dimiliki oleh Pagar Alam. Seharusnya itu bisa menimbulkan kebanggaan. Rasa memiliki, dan rasa tanggung jawab.

Dan itu persisnya apa yang saya coba ingin katakan melalui video ini. Banyak dari rekan-rekan saya di Pagar Alam sendiri yang tidak tahu bahwa daerah mereka sebegitu moleknya. Bahkan tidak banyak orang lokal yang datang di akhir pekan, apalagi hari-hari biasa.

Tidak jarang saya hanya sendiri berada di lokasi wisata. Menanti orang lain yang tak pernah datang.

Dan tempat itu dibiarkan begitu saja. Tenggelam dalam hiruk pikuk kesibukan sehari-hari.

Bagi saya, Pagar Alam bagaikan kepingan surga yang tersembunyi. Tidak disembunyikan oleh alam. Bukan ditutupi oleh awan kelabu. Melainkan belum tersingkap oleh kesadaran para jeme Pagar Alam itu sendiri.

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply