Akhir Penantian Review Monetisasi YouTube

Review Monetisasi YouTube

Akhir Penantian Review Monetisasi YouTube

Berapa Lama Review Youtube Berlangsung?

Berapa lama review monetisasi YouTube berlangsung? Bagi para vlogger pemula, termasuk juga saya. Hal ini tentu akan menjadi pertanyaan bernilai satu juta dolar saat pertama kali merintis vlog.

Ya karena sederhananya saja, tujuan utama kebanyakan vlogger memang untuk mendulang rupiah dari monetisasi video.

Cita-cita luhur yang banyak ditampilkan oleh berbagai media arus utama sebagai gaya hidup kekinian. Para vlogger yang bergaya hidup bak selebrita di kancah nasional.

Bagi saya pribadi sekalipun, mimpi indah macam itu bukannya tidak pernah menghampiri.

Saat Jawaban Review YouTube Itu Tiba

Dan pertanyaan itu akhirnya terjawab Sabtu (02/11/2019) lalu. Setelah menanti hampir 4 bulan lamanya, sejak syarat monetisasi kanal saya terpenuhi. Dan review dari YouTube akhirnya terkuak.

Bila menghitung sejak dimulainya karir vlog TheWalkingDoctor, maka jarak penantian itu menjadi sekitar 16 bulan.

Waktu yang cukup singkat sejatinya. Karena kebanyakan sumber yang saya baca, menyatakan jangka waktu 24 bulan adalah angka yang wajar untuk berharap Surat Keputusan dari Google itu akhirnya keluar sejak mulai merintis kanal YouTube.

Tentunya waktu 24 bulan itu harus juga diiringi dengan konsistensi dalam berkarya dan membangun pelanggan kanal sebanyak-banyaknya.

Awal Mula Kanal YouTube TheWalkingDoctor

Oiya, perlu saya tegaskan. Saya sama sekali bukan vlogger profesional. Keputusan untuk terjun ke ranah ini sebetulnya lebih karena memenuhi hasrat pribadi (bahasa kerennya dari mengisi waktu luang).

Kisah dimulai saat saya ditugaskan mengabdi di kota Pagar Alam nan indah di ujung Sumatera Selatan. Jauh dari keluarga, memiliki waktu luang, dan banyak potensi wisata di kota itu, membuat saya nekad terjun.

Modal awalnya hanya sebuah kamera saku yang sudah nyaris jebol, sebuah laptop berusia senja, serta koneksi internet dari Indi Home. Tidak ada yang istimewa. Video pertama saya pun begitulah keadaannya. Tidak begitu membanggakan sejujurnya.

Saat pertama memulai. Saya mendambakan sebuah pekerjaan sampingan yang kelak akan bernilai ribuan dolar tiap bulannya. Ekspektasi saya tidak muluk-muluk. Saya berharap dalam 24 bulan, vlog itu akan bisa mulai menghasilkan. Dan kini akhirnya sudah.

Antara Passion dan Profesionalisme

Tidak usah heran. Pekerjaan sampingan model saya ini jamak dijumpai dimana-mana bahkan dikatakan menjadi salah satu pekerjaan pilihan bagi anak-anak muda sekarang.

Dan hal ini sama sekali tidak aneh. Ada jutaan orang maniak dunia teknologi dan informasi yang bermain di dunia maya. Mencari sesuap nasi lewat perantaraan Google dan lainnya.

Di luaran sana, lebih banyak lagi manusia yang mendambakan penghasilan pasif model ini, bersenang-senang sembari menghasilkan uang, berjoget-joget di akhir pekan, memasukan hal-hal yang sebetulnya sederhana dalam kehidupan sehari-hari ke balik layar, dan kemudian mendulang dolar.

Hidup yang sepertinya nikmat bukan main.

Kenyataan Perasaan Seorang Vlogger

Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini, setelah sampai di titik merengkuh SK Google: bahwa memenuhi hasrat dalam hidup sekaligus menghasilkan (banyak) uang sejatinya merupakan utopia.

Kalau mau jujur, banyak video-video saya yang sebetulnya buruk. Bahkan tidak laku ditonton setelah setahun lebih diunggah.

Melirik video pertama yang saya unggah dulu, kini malah mengundang gelak tawa alih-alih decak kagum. Video terbaik saya sekalipun biasa-biasa aja. Sama sekali tidak ada unsur “wow”.

Padahal semua proses di balik itu luarbiasa beratnya. Pengambilan gambar oleh orang amatir macam saya, rasanya sama sulitnya seperti berdandan dengan mata tertutup. Akan tetap ada hasilnya memang. Namun tentu tidak akan pernah sama seperti yang dikerjakan orang ahli, dengan mata terbuka tentu.

Ada waktu tunggu berjam-jam untuk mengolah video ke dalam bentuk yang layak diunggah.

Ada proses promosi kanal YouTube yang tak kenal lelah disana. Belum lagi jika berbicara berapa banyak dana yang dihabiskan untuk investasi peralatan selama ini.

Ada proses menanti review YouTube yang tidak seorangpun tahu berapa lama akan berlangsung. Dan tak ada yang dapat dilakukan selain dari menunggu.

Jadi, setelah mencapai titik ini. Saya pun akhirnya menginsyafi. Bahwa sampai kapan pun, penghasilan profesional saya lah yang akan selalu menjadi andalan dalam hidup.

Batas Antara Hobi dan Sampingan

Sahabatku yang baik. Mengikuti hasrat sejatinya memang baik. Namun merubah hasrat hidup menjadi profesi mungkin bukan jalan hidup yang cocok bagi kebanyakan orang.

Kebanyakan dari mereka yang sukses, adalah orang-orang yang mendedikasikan diri, sumber daya, dan waktu mereka untuk satu hal yang mereka ingin kuasai.

Maka setelah 16 bulan ini. Saya menyadari bahwa vlog (dan juga blog saya), sama sekali bukanlah sebuah kerjaan sampingan yang menghasilkan sebagaimana pernah saya impikan. Melainkan sekadar hobi.  Dan itu saja. Sebuah pengisi waktu luang yang kebetulan bisa menghasilkan sejumlah uang.

Dan itu bukan hal yang buruk.

Terlepas dari segala kekurangan dan cacatnya. Vlog saya ternyata banyak diminati oleh komunitas orang asli Pagar Alam, maupun daerah sekitarnya seperti Lahat, Empat Lawang, Muara Enim, Lubuk Linggau, hingga Bengkulu Selatan.

Menjadi semacam pelipur rindu bagi mereka yang telah merantau jauh dari rumah mereka disana.

Menjadi semacam etalase mini dalam keriuhan pasar di jagat dunia maya.

Membawa sebuah nama kota hijau kecil di ujung Sumsel itu ke hiruk pikuknya lalu lalang informasi.

Ada ratusan komentar, ada ribuan acungan jempol, ada tujuh ribu jam tayang, ada lebih dari seratus delapan belas ribu penayangan dari 80 video saya selama 365 hari terahir.

Dan disitu, saya menemukan arti lain dari vlogging.

Ada banyak kenangan menyenangkan dari video-video itu. Yang terekam oleh kamera, maupun terekam oleh memori. Kenangan indah yang akan menemani sepanjang sisa kehidupan.

Dan akhirnya sayapun belajar, bahwa di dunia yang semakin renta ini, masih banyak hal-hal yang lebih bisa dihargai dari sekadar uang.

Tags:
author

Author: