banner 728x90

KKN di Desa Penari (v. chris_TWD) 3

banner 468x60

Angin kencang bertiup dari arah selatan. Menghamburkan debu jalanan hingga nyaris mengaburkan pemandangan menuju jalanan. Widya sekilas mendengar si sopir menggerutu.

Mobil Elf yang mereka tumpangi melaju dengan lincah di jalanan yang longgar. Sesekali terdengar suara klakson bersahutan. Tidak banyak penumpang sore itu, selain mereka berenam, hanya ada 2 penumpang lain yang ia tidak kenali siapa.

Ekonomi sedang kurang bagus belakangan. Satu dekade lebih sejak reformasi bergulir.., dan beginilah keadaannya sekarang. Dalam hati ia sering bertanya-tanya: Dimana ia akan berada nanti? Akankah ia akan mendapat pekerjaan yang layak? Bagaimana nasib keluarganya kelak?

banner 300x250

Widya menghela napas panjang. Ia menerawang jauh ke jalanan yang sepertinya tidak berujung. Yah, setidaknya satu beban telah hilang paska kelulusannya. Dan itu patut disyukuri.

Cuaca tak bersahabat belakangan ini. Angin kencang di siang hari. Hujan deras mengguyur pada sore hari.

Dalam hati Widya bertanya, mungkinkah pertanda alam?

Ia pernah membaca tentang hal itu. Ikan-ikan yang menghambur menuju pantai saat menjelang tsunami, hewan-hewan gunung yang berlari menuruni gunung saat terjadi erupsi.

Manusia tentu saja lebih adaptif daripada hewan dalam menghadapi kekuatan alam. Namun bukan berarti ia harus menerjang badai mempertaruhkan nyawa.

Bahaya ada untuk dihindari, bukan dilawan. Itu prinsipnya. Karena bagi Widya, hidup adalah tentang memilih, kapan harus terus maju, dan kapan harus berhenti. Sesederhana itu.

Dan kini, entah mengapa, semakin dekat mereka dengan lokasi KKN, batasan itu semakin remang-remang.

Sebagian dari dirinya menghendaki untuk melanjut. Namun sebagian sisanya mengajaknya pergi menjauh.

Bagai ikan-ikan melarikan diri ke pantai.

Lamunannya terhenti saat Nur terlihat mendekati si sopir. Mereka tampak berbicara dalam bahasa Jawa. Nur menunjuk-nunjuk sepucuk kertas yang Widya duga alamat yang mereka tuju.

Pak sopir mengernyitkan alisnya. Ada jeda keheningan sesaat sebelum akhirnya sopir mengatakan sesuatu dan meminta Nur duduk kembali.

Lima jam telah berlalu saat mereka akhirnya tiba. Ayu sibuk membangunkan Bima, Anton, dan Wahyu yang terlelap nyaris di sepanjang jalan.

Nur berdiri paling depan, kepalanya menoleh ke kiri jalan, seperti mencari-cari sesuatu.

Widya meregangkan badannya yang terasa kaku. Lalu merangkul ransel di kursi sebelahnya, dan berdiri.

Wahyu menjulurkan lengannya mempersilakan Widya turun terlebih dahulu. Widya menggeleng pelan. Pria itu berjalan sambil berbicara pelan dengan Anton.

Bima turun tak lama setelah Wahyu dan Anton, menyusul Ayu di belakang Nur.

Widya merundukkan kepalanya sembari menatap ke sekeliling. Ia memicingkan matanya. Gelap.

Pepohonan dimana-mana. Sepanjang mata memandang. Rimbunnya dedaunan menghalangi sinar matahari. Ditambah lagi cuaca temaram. Ia menatap jam tangannya. Sesaat ragu dengan angka yang ditunjuk jarum-jarumnya.

Ia menuruni Elf dengan malas. Sudut matanya melihat si sopir yang menatap mereka dengan tatapan janggal.

Widya menoleh ke arah si sopir. Bibirnya mencoba tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Namun tak ada suara yang keluar.

Tempat mereka turun adalah sebuah gubuk yang mungkin digunakan sebagai warung jajanan oleh penduduk setempat. Entahlah Widya tidak yakin.

Di sekitarnya tidak ada lagi bangunan. Hutan sepanjang mata memandang. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada sebuah jalan yang menembus hutan. Mungkin tempat yang mereka tuju ada disana? Widya menebak-nebak.

Berada di tempat ini saja sudah cukup membuat bulu kuduknya bergidik. Ia tak bisa membayangkan seperti apa desa yang akan mereka tuju nanti.

Nur mengatakan sesuatu tentang para penjemput. Bibir pucat perempuan itu tersenyum tipis, namun senyum itu tak dapat menutupi kegelisahannya.

Mungkinkah mereka semua merasakan hal yang sama? Batin Widya.

Mungkin instingnya benar. Mereka tidak seharusnya datang kesini.

Widya menarik napas panjang. Mencoba mengatasi kekalutannya. Mereka berenam disini. Dan agaknya selain Nur dan dirinya sendiri, tidak ada lagi yang merasa gelisah.

Hanya kecemasannya saja. Pikir Widya.

Semua akan baik-baik saja. Seperti segala kecemasannya yang lain. Tidak ada yang terbukti menjadi kenyataan.

Atau setidaknya belum ada

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply