banner 728x90

KKN di Desa Penari (v. chris_TWD) 2

banner 468x60

Hari sudah menjelang siang saat dua orang lelaki itu akhirnya tiba. Widya sudah menampakkan raut muka bersungut-sungut sepagian. Namun sepertinya hanya Nur yang menyadari hal itu.

Nur merasa sedikit tak nyaman. Sesekali ia mengerling ke Widya. Namun Widya memilih mengacuhkannya.

Lelaki yang tiba lebih dahulu menyapa Nur, lalu dengan canggung menganggukkan kepalanya ke arah mereka.

Wahyu, lelaki itu menyebut namanya. Suaranya berat dan sesekali diikuti batuk kecil.

Rambutnya ikal dipotong pendek. Perawakannya kurus tinggi dan berkulit gelap. Wahyu merupakan orang yang paling tinggi di antara mereka. Garis pipinya terlihat menonjol. Dengan pandangan mata yang agak sayu. Widya sesaat ragu jika lelaki itu hanya berusia dua tahun di atas mereka.

banner 300x250

Pria lainnya maju memperkenalkan diri. Anton, begitu ia dipanggil, mengenakan kemeja yang kebesaran dan ransel yang tak kalah besar di punggungnya.

Mereka mengatakan sesuatu tentang berkas administrasi yang sedikit bermasalah. Sehingga mereka datang terlambat.

Sedangkan Anton bertanya sesuatu tentang persiapan keberangkatan KKN kepada Bima, orang yang ditanya hanya menjawab singkat seraya mengangguk. Widya tidak terlalu memperhatikan ucapan mereka.

“Naik apa kita nanti?” kata Wahyu.

“Naik Elf mas.” Jawab Nur singkat. Elf adalah sebuah kendaraan umum berwujud minibus. Kendaraan yang jamak digunakan sebagai sarana transportasi jarak menengah di Jawa.

“Sampai di desanya naik mobil Elf, dik?”

“Nggak mas, nanti berhenti di jalur hutan D, lalu akan ada yang menjemput” sambung Nur.

Widya mendengar percakapan mereka. Ia menoleh ke Ayu yang sedang berbincang dengan Bima.

“Ayu, apa desanya nggak bisa di masuki mobil?”

Ayu menoleh sejenak. Lalu menggelengkan kepalanya. “Nggak bisa, tapi dekat dari jalan besar, sekitar 45 menit”

Widya memicingkan matanya heran. Tempat mana yang masih tak tertembus akses kendaraan roda empat di era ini?

Ayu menangkap keheranan Widya. Ia menyeringai sesaat sebelum kembali berbincang dengan Bima.

Di langit awan yang bergerombol mulai berarak menutupi matahari.

Angin bertiup kencang menerbangkan debu kering di halaman kampus. Suara pekik perempuan terdengar di beberapa sudut. Diikuti oleh gelak tawa lelaki di sekitarnya.

Langit gelap. Pertanda apakah ini?

Widya menarik napas panjang.

Rasa tak nyaman ini mungkin hanya kecemasannya saja.

Mereka akan baik-baik saja.

 

Semoga.

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply