banner 728x90

Catatan Akhir Perjalanan (7)

banner 468x60
Baling-baling pesawat ATR 72-600 itu berputar. Awalnya Chris bisa melihat bilah-bilah itu bergerak, namun dalam beberapa detik, perputarannya berakselerasi dengan amat cepat hingga tak terlihat lagi.
Suara bising yang ditimbulkannya seolah menjadi sirine penanda pesawat akan segera terbang.
Chris duduk di sisi kanan pesawat, tepat di sebelah jendela. Pandangannya menerawang jauh ke kaki sebuah pegunungan. Pegunungan itu yang telah menemaninya setahun terakhir ini, kini terutup awan. Seolah bersedih karena Chris tinggalkan.
Mata Chris terpejam sesaat ketika pesawat itu mulai bergerak di landasan pacu.
Jadi inilah akhirnya. Guman Chris.
Hari-hari yang selalu dinanti. Hari yang dihitung mundur sejak awal kedatangan mereka disini.
Ia tak tahu apakah harus bersorak kegirangan, ataukah menangis sedih. Atau mungkin keduanya? Tapi apakah itu mungkin? Entahlah, ia belum bisa memutuskan.
Yang pasti ada satu kekecewaan Chris siang itu. Rasa kecewa yang bergumpal di dalam lambungnya. Dan sumber rasa kecewa itu tepat akan mereka lewati sesaat lagi.
Petualangan terakhir Chris akhir pekan kemarin tidak berjalan mulus.
Padahal tak terhitung sudah berapa puluh lokasi yang ia datangi setahun terakhir di wilayah ini. Mulai dari yang termudah hingga yang tersulit. Tebing curam hingga jalanan beraspal. Semak belukar berduri hingga padang rumput luas. Air terjun tertinggi hingga sungai terderas.
Itu mengapa mungkin ia merasa curup Besemah juga akan seperti yang lainnya: dapat ia taklukkan.
Curup itu mudah sekali terlihat dari ketinggian. Berkali-kali Chris melihatnya dari atas pesawat. Curup yang berarus deras dan tinggi. Airnya melimpah ruah ke sungai Lematang. Jurangnya yang berbatu tampak menonjol di antara rindangnya pepohonan.
Bahkan dari ketinggian ini Chris dengan mudah jatuh cinta.
Namun cinta hanyalah cinta. Satu dan lain hal terjadi, dan Chris gagal mencapai lokasi.
Seorang pemandu yang telah ia siapkan jauh-jauh hari mendadak membatalkan kepergiannya.
Petunjuk lokasi yang ia harapkan, ternyata satupun tak pernah ada.
Penduduk sekitar yang bisa ia andalkan tak bisa ia jumpai.
Jalanan setapak bercabang liar nyaris di seluruh persimpangan.
Ia berputar-putar di dalam hutan, menuruni lembah, mendaki bukit seorang diri, namun tak juga berhasil menemukan jalannya.
Ia tahu curup itu ada disana. Suara gemericik air bagai memanggil namanya.
Hanya tinggal sekitar 1000 meter lagi. Dan ia gagal.
Ia memutuskan berhenti setelah menyadari bahwa tak ada orang lain di hutan itu selain dirinya dalam 2 jam terakhir.
Ia tersesat.
Perbekalannya sebetulnya lebih dari cukup untuk berjalan 6 jam sekalipun. Namun ia sadar, memaksakan diri lebih jauh mungkin hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Dan Chris merasa dirinya masih lebih akan berguna bila ia tetap hidup.
Apalagi, dalam hitungan hari ia sudah harus pergi meninggalkan kota.
Maka dengan berat hati Chris memutar. Mencoba menemukan kembali jalan setapak yang sudah jauh ia tinggalkan.
Matahari sudah di atas kepala saat Chris akhirnya tiba ke titik awal perjalanan. Ia berhenti di sebuah Masjid, tak lama setelah adzan Lohor berkumandang.
Sepatu dan celananya dipenuhi rumput belulang, lengannya kotor oleh sisa-sisa potongan tubuh puluhan nyamuk yang menyerangnya di hutan, rambutnya basah oleh keringat.
Dalam hati Chris meragu, apakah keputusannya berhenti merupakan hal yang benar.
Mungkin bila ia menunggu beberapa saat lagi seseorang akan datang.
Mungkin bila ia mencoba beberapa jalur lain ia akhirnya akan sampai.
Mungkin bila ia tak sendiri, ia bisa mencapai curup itu.
Dan ada begitu banyak kemungkinan lain yang bisa ia pikirkan sekarang.
Satu hal yang Chris tahu. Ia kembali dengan selamat.
Dan mungkin itu sudah cukup bagus untuk saat ini.
Ia mungkin gagal mencapai curup idamannya itu. Bahkan dengan segudang pengalamannya.
Ia mungkin memutuskan berhenti berusaha. Meskipun sebetulnya ia mampu untuk melaju terus.
Ia mungkin menyerah kali ini. Namun itu bukan berarti ia menyerah selamanya.
Chris terhenti dari lamunannya saat pesawat itu melewati sebuah sungai.
Dan ia melihatnya.
Curup itu. Berarus deras dan tinggi. Airnya yang melimpah ruah ke sungai Lematang.
Bayangan bibir Chris tersenyum dari balik kaca jendela ATR.
Akan ada kesempatan lain. Dan ia akan sabar menunggu. Mempersiapkan dirinya lebih baik lagi dari sebelumnya.
Untuk menyelesaikan apa yang seharusnya ia lakukan.
Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi.
(Selesai)

banner 300x250
banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply