KKN di Desa Penari (v. chris_TWD) 1

0
40
KKN Desa Penari

Angin bertiup sangat pelan siang itu. Matahari bersinar terik di penghujung tahun 2009, sementara awan-awan hujan bergumpal di pojok langit, seolah-olah tak sabar menanti giliran mereka untuk menurunkan hujan.

Widya menatap ke kerumunan di sekelilingnya. Wajah-wajah antusias mereka entah mengapa tak tercermin juga di wajahnya. Ia sesekali mengerling ke sekelompok mahasiswa yang tertawa terlalu keras. Ia tak tahu apa yang mereka tertawakan. Widya memicingkan matanya sesekali. Tak banyak yang ia kenal disana. Namun ia yakin pernah melihat wajah mereka sesekali.

Mereka semua – atau setidaknya sebagian besar – adalah teman seangkatan Widya dari tahun 2005/ 2006. Setelah empat tahun kuliah yang berlalu bagai merayap. Kini ia berada di ujung waktunya sebagai mahasiswa.

Skripsinya sudah selesai. Dan kini satu tahapan akhir harus dilaluinya sebelum ia benar-benar meninggalkan kampus ini: KKN.

Lamunannya terputus saat bunyi ponsel itu mengagetkan Widya. Ia membiarkan ponsel itu berdering sekali lagi sebelum akhirnya mengangkatnya.

Widya belum sempat mengatakan “halo” saat suara di seberang sana bicara dengan lantang, nyaris berteriak.

“Aku sudah dapet tempat untuk KKN!”

Widya dapat merasakan bibirnya tersenyum,

“Dimana?” balasnya.

Suara di seberang mengucapkan lokasi kotanya dalam satu tarikan napas. Widya hanya mengangguk kecil. Pembicaraan mereka berakhir tak lama setelahnya.

Widya mencoba mengingat nama tempat itu. Sebuah desa di kecamatan K, kota B. Berapa jauh tempat itu? Ia sendiri belum pernah pergi sejauh itu.

Namun ada banyak program kerja yang bisa mereka kerjakan. Setidaknya itu kata Ayu, si penelpon tadi.

Widya tak berpikir panjang lagi, ia bergegas menyiapkan proposal KKN yang telah mereka susun. Dengan ini, hanya kurang satu syarat lagi. Gumannya.

Program KKN di kampusnya menyaratkan jumlah peserta minimal 6 orang dari dua fakultas yang berbeda.

Semua orang di kerumunan di sekitar Widya nampaknya sudah melengkapi semua syarat itu. Kecuali kelompok mereka. Ia mendengus.

Ayu memintanya untuk tidak terlalu memikirkan masalah itu. Namun ia meragu. Agaknya semua orang sudah mendapatkan kelompoknya. Akankah masih tersisa setidaknya dua orang saja?

Pertanyaan Widya tak perlu menunggu untuk dijawab. Tak lama seorang lelaki dan perempuan menghampirinya.

Perempuan bernama Nur itu menyapanya. Posturnya tak lebih tinggi dari Widya, dengan kulit berwarna cokelat, berjilbab rapi dan sederhana. Usianya mungkin sama dengan Widya, entahlah, ia sendiri tak pernah menanyakan langsung tepatnya.

 

Wajah Nur tidak terlalu cantik namun nampak manis dan serasi dengan setelan yang dikenakan.

Orang seperti Nur, adalah tipe orang yang ia butuhkan untuk memastikan KKN ini berjalan baik. Batin Widya. Sebut saja ini insting, tapi setidaknya itulah yang Widya rasakan.

Si pria berdiri dengan canggung di sebelah Nur. Ia mengenal pria itu, Bima. Tingginya mungkin hampir 10cm di atas Widya. Wajahnya cukup tampan, berkulit cokelat dengan pakaian yang terawat baik tanpa bekas lubang abu rokok. Widya tak ingat persis kapan ia mulai kenal dengan Bima, namun pria itu tampaknya selalu menghindari tatapan mata Widya.

Nur mengatakan, kelengkapan anggota kelompok mereka sudah selesai dan disetujui. Wajahnya tampak semringah. Dalam hati Widya bertanya-tanya, apakah Nur juga senang bisa segera mengakhiri perjalanan ini?

Suara seorang perempuan lain terdengar dari belakang Widya.

“Siapa yang bergabung, Nur?”

Widya menoleh, rupanya Ayu, orang yang menelponnya barusan.

Suaranya tampak riang siang itu. Ia menyodorkan lengannya yang putih untuk berjabat tangan dengan Bima dan Nur.

Nur kemudian menjelaskan dua orang tambahan di kelompok mereka. Rupanya dari dua angkatan di atas. Dan keduanya laki-laki.

Dalam hati WIdya merasa lega. Dengan demikian, semua sudah lengkap. Peserta dari minimal 2 fakultas berbeda, serta program kerja untuk individu dan kelompok. Dalam enam minggu ke depan, semuanya akan selesai.

….

Widya menguap tertahan, ia menutup mulutnya dengan tangan kiri. Kepalanya terasa agak berat. Mungkin karena kurang tidur, batinnya.

Pagi itu matahari masih bersembunyi di balik awan. Udara dingin akhir tahun menyambut mereka di kampus.

Ia menatap jam di ponselnya dengan cemas. Mereka berempat telah berkumpul di lokasi pembekalan.

Seharusnya dua orang itu sudah datang. Gumannya.

Pandangan matanya tertuju ke ponsel di tangan kanannya. Jarinya menekan tombol panggilan. Ada nama ibunya di daftar panggilan terakhir.

Ia menelengkan kepalanya sesaat.

Beberapa hari lalu ia menceritakan tentang KKN ini kepada ibunya.

Mengenai kelompoknya yang akan berangkat, juga lokasi KKN yang akan dituju nanti.

Raut ibunya terlihat tidak suka saat ia menceritakan tempat itu. Apa tidak ada tempat lain? Tanya si ibu.

Di sana hanya ada hutan, tidak cocok untuk ditinggali manusia. Sambungnya.

Widya mencoba melunakkan hati ibunya. Ia menjelaskan bahwa pemilihan tempat itu tidak dilakukan serampangan. Beberapa rekannya sudah terlebih dahulu datang dan melihat lokasinya.

Ibunya berkata perasaannya tidak enak tentang KKN ini. Dan meminta Widya mengundurnya.

Namun Widya bersikeras untuk tetap pergi. Menunda KKN ini artinya ia akan menunda kelulusannya hingga tahun depan.

Dan itu tidak ada dalam rencananya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here