banner 728x90

Catatan Akhir Perjalanan (6)

banner 468x60
Chris menatap lemari kosong di hadapannya. Sebuah lemari susun yang nampak berjamur di beberapa sudut.
Seluruh isi lemari tumpah ruah di atas kasur. Sementara beberapa kardus berjejer di sekitarnya.
Ia menyeka dahinya yang tak berkeringat. Memandang ke arah kardus yang terdekat, dan mengisinya dengan setumpuk pakaian.
Sementara sebuah kardus besar di sebelahnya hampir penuh terisi oleh barang-barang pribadi Chris.
Ini merupakan acaran pengosongan lemari untuk yang kesekian kali. Chris tak ingat berapa kali tepatnya.
Ia sudah merantau sejak lulus SMA, dan hingga kini tak pernah lagi menetap.
Dari satu kota menuju kota berikut. Dari satu kontrakan menuju kontrakan lain. Berbagai jenis rumah dan lemari sudah pernah ia isi dan kosongkan. Bagai sebuah ritual.
Dalam hati Chris membatin, akankah akhirnya ia menetap?
Dimana perjalanan ini akan berakhir kelak?
Ia tak yakin akan jawabannya.
Atau mungkin memang pertanyaan itu tak perlu dijawab?
Sebuah rumah tua di Bogor adalah rumah paling lama yang ia tinggali. Rumah tersebut saksi bisu dari kehidupan masa kecil Chris.
Ia sudah 16 tahun keluar dari rumah itu, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkannya untuk berganti kepemilikan.
Mulanya ia berpikir bahwa akan berat meninggalkan Bogor. Namun kunjungan Chris 13 bulan lalu menyangkal hal itu.
Si rumah memang nyaris tak berubah. Kamarnya masih seperti yang dulu. Ruang tengah tempat favorit Chris masih tersusun serupa. Namun rasanya kini berbeda.
Kedua orangtuanya sudah pindah ke kota lain. Adiknya sudah memiliki tempat tinggal terpisah.
Sehingga Chris merasa meski rumah itu raganya masih sama, namun jiwanya kini kosong.
Sebagian besar tetangga yang dulu ia kenal, sudah tak lagi tinggal disana. Hanya menyisakan 2-3 sesepuh yang bahkan sulit mengingat wajah Chris saat ia datang.
Mungkin hal-hal tersebut memang penanda zaman. Bahwa sudah waktunya bagi Chris untuk pergi. Dan akhirnya perpisahan itu terjadi begitu saja. Tanpa uraian air mata. Tanpa perasaan berat sebagaimana yang Chris kira sebelumnya.
Sebuah truk melintas di jalanan depan rumah dinas. Kaca jendela di rumah tua bergetar saat kendaraan berat itu melintas.
Hari-hari berlalu dengan cepat dalam dua minggu terakhir. Dan tanpa terasa kini minggu terakhir Chris berdinas sudah separuh jalan.
Dalam hitungan hari ia sudah akan angkat kaki dari kota kecil penuh hujan ini.
Apakah ia akan merindukannya?
Ataukah mereka yang akan merindukan Chris?
Ia teringat kepada beberapa pasien yang memiliki janji untuk kontrol di bulan Juli.
Ia teringat bocah penderita TBC yang ayahnya cacat karena spondilitis.
Ia teringat bocah palsi serebral yang masih bergantung minum dari selang NGT.
Ia teringat bayi-bayi gagal tumbuh yang masih berjuang menaikkan berat badannya.
Ia ingat semua. Dan ia merasa cemas.
Akankah mereka baik-baik saja nanti?
Lebih dari itu, akankah ia baik-baik saja nanti?
Yang Chris tahu, dunia ini sudah tua.
Dan alam selalu menemukan keseimbangan.
Air hujan yang menyapu tumpukan debu.
Gelapnya malam yang menyelimuti siang.
Semua memiliki masanya.
Sedari dahulu begitu dan selamanya akan demikian.
Dengan, atau tanpa dirinya.
Chris menatap lemari kosong itu dan menutup kedua pintunya.
Dari cermin ia melihat bibirnya tersenyum.
Mungkin inilah sang penanda waktu kali ini bagi Chris: suatu pemikiran, pemahaman, dan kesadaran baru.
Dari sebuah kota kecil bernama Pagar Alam.
(bersambung)

banner 300x250
banner 468x60
Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply