Catatan Akhir Perjalanan (4)

Pria tua pengemudi ojek mengucap terimakasih kepada Chris. Senyum si bapak tampak semringah memandang uang kertas di tangannya.
Dalam hati Chris berharap pria itu tak membeli rokok.
Memang bukan hal aneh untuk laki-laki yang merokok, apalagi di Pagar Alam. Jangankan orang dewasa, disini anak SD pun merokok.
Suhu dingin nyaris sepanjang waktu agaknya memang menjadi alibi yang sempurna untuk menyalakan sebatang berikut. Lagi dan lagi.
Lagipula, apalagi yang lebih nikmat dari merokok ditemani secangkir kopi sih? Chris tahu jawabnya: kesehatan.
Dan mengingat rokok ini membuat hati Chris merasa tersayat. Ada begitu banyak anak-anak yang merokok. Dan ia belum bisa berbuat banyak untuk mengerem, apalagi menghilangkan kebiasaan itu.
Rasanya juga omong kosong bicara pengendalian tembakau pada anak, sementara orangtua dan kakek-neneknya merokok.
Bagai menabur garam di air laut.
Pintu garasi berderit saat Chris membukanya. Rumah dinas di hadapannya masih tampak utuh sama seperti saat ia tinggalkan. Kabar baik gumannya.
Chris selalu kuatir rumah tua itu akan rubuh suatu saat. Namun sekalipun hal itu benar terjadi. Ia harap bukan di kala ada seseorang di dalamnya.
Masalah klasik. Batin Chris.
Aset-aset yang terbengkalai. Tak terawat baik sebelum sesuatu yang buruk akhirnya terjadi.
Tak jauh berbeda dengan kendaraan dinasnya. Beroda gundul dan nyaris tanpa rem belakang. Untungnya pajak plat nomornya juga mati sejak 6 tahun lalu.
Eh tunggu dulu, kenapa dua kalimat buruk disambung kata “untungnya”?
Ah sebodo amat.
Lagipula Chris lebih menyayangi nyawanya daripada sekadar uang Rp300.000.
Kesalahan Chris adalah. Ia terlalu malas untuk mengulang komplain yang sama.
Untuk apa terus berbicara bila tak didengar.
Dan itu adalah satu persoalan klasik lainnya – setidaknya bagi Chris pribadi – bahwa ia dan mungkin juga banyak dari orang lain di Nusantara ini, yang cenderung malas untuk berkonflik.
Banyak berita yang mencuat di permukaan karena viral. Namun kemudian hilang ditelan bumi. Terlupakan. Tapi tak terselesaikan.
Pertikaian antar individu yang alih-alih diselesaikan, didamaikan, namun dibiarkan berakhir menjadi perang dingin.
Bukankah hal jamak di negeri ini, untuk beramah tamah paska Lebaran untuk kemudian saling mencaci kembali di belakang setelahnya?
Konflik mungkin tak pernah sampai meruncing. Tak pernah cukup besar untuk menyulut peperangan. Namun baranya tetap menyala bertahun-tahun. Bahkan bergenerasi-generasi.
Dan konflik itu terjadi merata mulai dari tingkat pedagang bakso di komplek rumah Chris, hingga para pucuk pimpinan tertinggi.
Yah, bagaimanapun semua juga manusia biasa pada akhirnya.
Chris berusaha menghindari konflik semata karena hitungan politis. Yang dari hitungannya, ia sama sekali tak merugi – setidaknya hingga saat ini.
Beberapa detailnya memang mengecewakan, namun secara garis besar, Chris merasa dirinya masih berada dalam rel yang tepat.
Toh, sebagian besar dari hal mengecewakan itu dilakukan bukan karena kesengajaan.
Namun terjadi murni karena keterbatasan keadaan.
Maka sebetulnya tidak tepat bila disebut Chris menghidari konflik. Mungkin lebih pas bila ia merekonsiliasi diri sendiri, jauh sebelum terjadi konflik.
Lebih pas lagi, sesungguhnya Chris bersikap masa bodoh untuk perkara detail yang baginya tak terlalu penting.
Lagipula bukankah menyalahkan keadaan sama tak bergunanya dengan merutuki gagalnya panen kopi karena turunnya hujan.
Bagai menabur garam di air laut.
Eh tunggu, bukannya peribahasa itu sudah dipakainya tadi?
Ah sebodo amat.
(bersambung)

2 thoughts on “Catatan Akhir Perjalanan (4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *