Mukena Mewah dan Selembar Foto Rontgen

0
35
Ibu itu tampak kebingungan saat saya meminta anaknya yang bungsu untuk dirontgen. Ia seorang wanita berusia pertengahan 30 tahun, yang terlihat jauh lebih tua dari seharusnya.
Dan saya merasa sedikit bersalah karena kabar buruk tentang anak-anaknya siang itu ikut menambah kerut di wajah beliau.
Di samping ibu, berdiri si anak kedua yang baru saja saya diagnosis TBC. Ia hanya terdiam menunduk.
Anak perempuan itu kurus. Di lengan kanannya masih terlihat jelas lingkaran kemerahan diameter 18mm hasil tes Mantoux 4 hari lalu.
Ibu itu menunduk sesaat sebelum akhirnya bicara: saya tidak punya uang dok.
Dan perkataan beliau selanjutnya bagaikan menambah garam di atas luka.
Sang suami, yang menularkan TBC, saat ini sudah tidak bisa bekerja karena spondilitis membuat punggungnya tak lagi bisa tegak.
Hari itu H-4 jelang lebaran. Dan wajah murung si ibu menjadi kontras di tengah wajah ceria orang-orang di sekelilingnya.
Hey, ini lebaran bung. Siapa yang tidak senang?
Bukankah ekonomi selalu bergairah jelang lebaran? Para supir sibuk mengatur jadwal carteran, pedagang kue tersenyum karena dagangannya laris manis, pegawai gembira menyambut THR, bahkan pasien bangsal mulai ribut meminta pulang.
Namun tidak untuk satu ini.
Secara kebetulan hari itu juga hari pertama di bulan terakhir pengabdian saya.
Kedatangan dua orang ini menjadi seperti tamparan di muka.
Yang seakan-akan berkata nyinyir: ngapain aja sih sebelas bulan kemarin, kok pasien kayak ini masih juga ada?
Memang anak perempuan itu bukan pasien TBC terburuk yang pernah saya pegang. Namun momen kedatangannya di penghujung Ramadhan lah yang membuat ia menjadi berkesan.
Bahwa ternyata masih ada bagian di negeri ini yang masih harus menderita komplikasi TBC, dengan segala keterbelakangan mereka.
Mukena Setara 50 Kali Rontgen Syahrini
Mukena Setara 50 Kali Rontgen
Sementara di bagian lain, di waktu yang sama, beberapa orang yang beruntung bisa membeli sebuah mukena dengan banderol yang cukup untuk membiayai ongkos rontgen 50 orang.
Sahabatku yang baik,
Saya tidak mengatakan mukena yang anda beli kemahalan. Melainkan sekadar mengingatkan. Bahwa ada kalanya kita menjadi terlalu terbiasa dengan kehidupan.
Sehingga hal-hal yang bagi kebanyakan orang merupakan hal mewah, menjadi biasa saja.
Sebagai contoh, boleh jadi hampir separuh dari pengeluaran makan kita, sebetulnya digunakan untuk jajan makan di luar.
Dan hal ini menjadi ironi, mengingat bagi orang tak mampu, membeli makan bukan soal “makan dimana”, melainkan kebutuhan bertahan hidup.
Bahwa faktanya tentang ketimpangan ini, masih ada sekitar 16% penduduk Indonesia yang berpenghasilan di bawah 1,25 USD per hari.
Untuk perbandingan, seorang peserta WKDS hanya butuh 8 menit untuk menghasilkan jumlah yang sama, dengan asumsi bekerja 8 jam per hari, 6 hari seminggu.
Di sisi lain, memang ada fakta yang tak terbantahkan. Bahwa penggunaan uang pada masyarakat tak mampu sekalipun tidak selamanya tepat – dalam konteks bertahan hidup.
Masih banyak kita lihat, orang yang memaksakan diri menyelenggarakan hajat pernikahan besar-besaran, di luar dari kemampuan mereka, atau mungkin menggunakan sejumlah besar uang – yang alih-alih bisa ditabung – untuk membeli rokok.
Sebagai penutup, ketimpangan memang selalu ada.
Kapanpun, dimanapun.
Kebanyakan orang tak mampu saat ini boleh jadi tak akan pernah bisa mendekati gaya hidup masyarakat kelas menengah sampai kapanpun. Dan mungkin mereka lebih paham mengenai hal itu daripada kita.
Ketimpangan ini bagai ironi dalam hidup.
Bahwa terkadang manusia lebih menghargai kebahagiaan setelah melihat kesulitan, bersyukur akan ketenangan paska melalui keributan, dan menyadari pentingnya keberadaan sesuatu setelah kehilangannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here