banner 728x90

Kisah Selembar Uang 2000

banner 468x60
Seorang penjual martabak memajang foto di media sosialnya.
Foto itu uang Rp2.000 yang ditambah satu angka “0” di belakang. Sekilas mirip dengan uang pecahan Rp20.000. Dan dalam ceritanya, ia tak menyadari satu ekstra nol palsu itu sampai telah jauh terlambat.
Ada banyak reaksi dari foto tadi. Banyak yang mengecam, beberapa bersimpati.
Namun apapun itu, pastinya satu loyang martabak sudah melayang pergi. Dan sekadar kecaman tidak akan mengembalikan apapun.
Suatu kali, saya pernah memiliki hanya 1 lembar uang Rp10.000 sebagai pecahan terbesar dalam dompet. Sisanya ada beberapa lembar uang Rp1000 dan satu kaleng bekas minuman soda penuh uang 500 perak di kost.
Uang Rp10.000 kala itu sengaja tidak dibelanjakan, demi menjaga harkat dan martabat dompet. Sedangkan untuk menjaga harga diri, saya menggunakan pecahan Rp1000 yang dikombinasikan recehan saat membeli makan di warteg.
Hari ini hampir 2 dekade berselang dari kejadian itu, Alhamdulillah kejadian pembobolan celengan tak pernah terulang.
Jadi kisah heroik selembar Rp10.000 penjaga marwah dompet hanya tinggal sejarah. Bahkan kini kadang saya teledor meninggalkan lembar uang Rp10.000 di saku celana begitu saja.
Kembali ke kasus si mamang martabak. Saya kemudian bertanya-tanya kepada diri sendiri: apakah saya yang sekarang tidak lagi menghargai uang seperti dulu?
Secara ekstrim kalimatnya bisa dipertajam: apakah benar orang yang mapan tidak menghargai uang sebagaimana mereka yang (maaf) miskin?
Sahabatku,
Apabila anda memiliki uang sebesar Rp1.000.000 untuk disumbangkan hanya pada satu orang. Dan kebetulan orang yang anda pilih untuk disumbang adalah Bill Gates. Maka kecil kemungkinan uang tersebut akan dimanfaatkan sebagaimana anda harapkan.
Bahkan mungkin beliau juga tak akan sadar kalau anda pernah mengirim uang.
Karena sebagai salah satu manusia terkaya sejagat, Bill Gates memiliki kekayaan 95,4 milyar dolar Amerika. Itu sekitar 16 digit angka dalam rekening kalau dirupiahkan. Maka 6 digit rupiah yang anda transfer jelas tidak bermakna.
Namun lain ceritanya bila si pedagang martabak di cerita pertama yang anda sumbang. Dengan 6 digit uang anda, mungkin beliau akan segera lupa dengan uang Rp20.000 jadi-jadian tempo hari.
Beliau dapat memodali dagangannya selama seminggu, membayar beberapa hutang-hutang, dan menggunakan sisa uangnya untuk mengajak keluarganya berlibur ke taman kota.
Dalam konteks di atas, mungkin benar bahwa mereka yang mapan tidak menghargai nilai rupiah sebesar mereka yang papa.
Tapi sahabatku,
Kesejahteraan tidak selalu diukur dari banyaknya harta.
Itulah mengapa kisah-kisah dokter rekan sejawat kita yang rela mengabdi di pedalaman akan selalu ada.
Jika memilih harta, tentu beliau-beliau akan memilih kembali ke daerah yang lebih mapan. Bekerja di 1 RS elit, dan menikmati penghasilan yang jauh lebih besar.
Namun kenyataannya bukan itu yang beliau pilih.
Hal yang belakangan saya mulai sadari setelah mengalami dua titik ekstrim tersebut (meski tentu saya belum sekaya Bill Gates), bahwa ternyata kesejahteraan saya yang hidup 2 dekade lalu dengan saya saat ini rasanya tak terlalu berbeda.
Bila diukur dari harta semata, seharusnya saya yang saat ini ribuan kali lebih sejahtera. Namun nyatanya tidak.
Saya tetap makan 2-3 kali sehari, bisa tidur di atas ranjang yang cukup nyaman, dan tetap memiliki banyak teman. Jadi ternyata nilai sejahtera bukan diukur melalui jumlah angka nol di rekening.
Apa yang menyebabkan perbedaan antara keduanya? Jawabannya adalah tujuan hidup.
Dokter di pedalaman boleh jadi tidak merasa kecewa dengan penghasilan mereka. Karena tujuan beliau toh sudah tercapai. Masalah harta itu relatif. Lagipula memang ada jaminan anda akan lebih berbahagia di atas sebuah sedan Lamborghini ketimbang naik sebuah minibus sederhana?
Maka sahabatku yang baik,
Suatu kala kita bisa saja merasa sedih, terpuruk, tak dihargai, terbuang.
Namun di titik itu mari kita menilik jauh ke dalam hati kita. Menengok kembali kemana tujuan hidup kita diarahkan.
Boleh jadi kekurangan yang anda alami saat ini tak akan lagi terasa berat, jika menyadari bahwa kita tengah berada dalam jalur yang tepat untuk mencapai tujuan hidup.
Dan boleh jadi mamang martabak itu sesungguhnya tidak sedang bersedih. Mungkin tujuan hidup beliau adalah membahagiakan orang lain melalui kelezatan martabaknya.
Dan malam itu ia pulang dengan rasa bangga, bahwa ia – di tengah semua keterbatasan, sudah mensubsidi kebahagiaan seseorang.

banner 300x250
banner 468x60
Rate this article!
Kisah Selembar Uang 2000,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

One Response

  1. author

    Nadya Adi Kusuma9 months ago

    Renungan yg mantap

    Reply

Leave a Reply