Rumah Dinas (22)

0
58

Pagi itu berjalan dengan cepat di Mesuji.

Hanya ada 3 pasien rawat inap di bangsal. Dan Ackman memulangkan dua di antaranya.

Satu lagi yang tersisa mungkin besok akan dipulangkannya juga.

Bulan-bulan sepi pasien.

Tidak banyak yang bisa Ackman harapkan.

Sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari bertani atau menjadi buruh tani sawit.

Dan harga sawit sedang anjlok.

Kehidupan sedang sulit disini. Batin Ackman.

Dan kebanyakan orang akan menunda berobat bila tidak dirasa perlu.

Atau mungkin mencari alternatif lain yang lebih murah.

Bahkan bagi mereka yang terjamin asuransi sekalipun.

Karena untuk transportasi pun kadang mereka merasa berat. Meski berobatnya tidak perlu membayar lagi.

Dalam hati Ackman merasa nelangsa.

Bagi kebanyakan orang. Hidup melarat mungkin harus dijalani seumur hidup.

Tanpa tahu harus bagaimana untuk bisa lepas dari jeratan.

Tak sedikit dari keluarga miskin yang melahirkan anak-anak yang kemudian juga akan menjadi miskin.

Kemelaratan. Well, kadang memang membuat frustasi.

Tak heran ada beberapa yang menempuh jalan pintas.

Entah kriminalitas. Atau jalur “mistis”.

Ackman baru mengetahui ternyata ada hal-hal supranatural yang mengelilingi kawasan ini.

Entah itu makam leluhur yang dikeramatkan.

Atau ritual pesugihan.

Hal-hal yang selama ini ia kira hanya berada di alam cerita belaka.

Martin menjelaskan mungkin belasan ritual yang biasa dikerjakan para pelaku.

Mulai dari yang konyol hingga “penggadaian nyawa” dalam kurun waktu tertentu.

Ia tidak melihat ada satupun yang menyerupai karakteristik dari keempat korban bunuh diri.

Kebanyakan penumbalan yang melibatkan nyawa hanya meliputi hal yang samar-samar.

Misal kematian mendadak karena sakit, pada orang yang sebelumnya tampak sehat-sehat saja.

Bukan hal yang mencolok dan menarik perhatian seperti gantung diri.

Ackman bahkan sampai membuka tulisan dan dokumentasi mengenai beberapa kelompok dan atau sekte yang pernah melakukan bunuh diri massal.

Hal yang mengejutkan Ackman, ritual bunuh diri massal ternyata sudah eksis hampir sama panjangnya dengan riwayat peradaban manusia.

Catatan tertua yang Ackman temukan adalah dari zaman kekaisaran Romawi.

Sekitar 200 tahun sebelum masehi.

Menyusul dihancurkannya kota Illiturgis (sekarang daerah sekitar Cartagena, Spanyol) – di era peperangan Romawi melawan Carthaginian – oleh pasukan Romawi, para penduduk di kota Astapa memilih untuk membunuh diri mereka dengan membakar keseluruhan kota dengan para penduduk berada di dalamnya.

Saat itu mereka memilih mati terbakar ketimbang jatuh ke tangan pasukan Romawi yang dipimpin Publius Cornelius Scipio.

Tragis.

Tapi hidup memang harus memilih.

Hidup sebagai budak, atau mati…. terbakar.

Hingga kasus bunuh diri di era yang lebih modern.

Siapa yang bisa lupa tentang kisah “Peoples Temple” di Jonestown, Guyana, 1978 yang tercatat sebagai aksi bunuh diri massal terbanyak – sebanyak 918 orang, 308 di antaranya anak-anak – meminum racun sianida yang dicampurkan ke dalam minuman.

Menariknya, sang pemimpin Peoples Temple, Jim Jones, tidak meminum minuman itu.

Ia memilih mati dengan menembak kepalanya sendiri.

Well, cara mati yang revolusioner. Seperti cita-citanya.

Pencarian Ackman berakhir nihil.

Kalaupun memang ada benang merah yang menghubungkan kesemuanya, maka benang itu mungkin terlalu tipis untuk dilihat, bahkan mungkin nyaris serupa mitos.

Ia akhirnya menyadari kalau tidak banyak informasi yang ia miliki.

Semua yang ia baca hanya membuka kemungkinan lain.

Kemungkinan demi kemungkinan.

Ia menyerah.

Bukan hal yang bisa dipecahkan seorang dokter spesialis bersenjatakan Google search.

Ackman melangkah keluar bangsal dengan santai.

Waktu masih menunjukkan pukul 9 lewat.

Seorang perawat perempuan menyapa Ackman saat mereka berpapasan.

Cuaca di luar tampak cerah.

Suhu udara mungkin sekitar 28-29 derajat dan akan semakin meningkat.

Kursi-kursi di depan poliklinik baru terisi seperempatnya.

Seorang kakek tua didorong menggunakan kursi roda di sebelah Ackman. Dari posisi lengan dan mimiknya, Ackman menduga paska serangan stroke.

Pria muda yang mendorongnya mengatakan sesuatu dalam bahasa daerah yang dialeknya Ackman tidak mengerti.

Di belakangnya seorang nenek yang tak kalah tua mengikuti membawa sebuah tas.

Ada seorang ibu paruh baya dan seorang gadis di depan poliklinik Ackman.

Perawat memanggil keduanya masuk tak lama setelah Ackman duduk di kursi.

Ibu itu mungkin sekitar 45 tahunan. Matanya tampak sembab.

Anak gadisnya berusia 14 tahun. Ibu itu berkata si anak tidak mau makan sejak 3 hari terakhir.

Tak banyak yang Ackman temukan selain nyeri tekan di epigastrium.

Ackman meresepkan tiga buah obat kepada si anak dan menasihatinya agar cukup makan.

Ibu itu mengaguk pelan. Sedangkan anaknya masih terlihat apatis.

“Apa ada masalah di sekolah?” tanya Ackman

Si ibu tersenyum tipis.

“Bukan. Kakaknya baru saja meninggal dok”

“Ouw, sakit apa?”

Ibu itu menatap ke bawah lantai.

Matanya tampak berkaca-kaca.

Perawat Ackman membisikkan sesuatu ke telinga Ackman,

“Kakaknya yang bunuh diri kemarin dok..”

Ackman menghubungi nomor telepon Martin.

Pria itu tidak mengangkatnya.

Ia mendesah kesal.

Kemana pria itu pergi?

Informasi yang tidak disangka timbul tiba-tiba.

Ackman merasa seperti menemukan Uranium.

Hampir ia memekik saking senangnya.

Jika ia tidak ingat ada ibu dan anak itu di hadapannya.

Benang merah yang hampir dianggapnya mitos. Muncul begitu saja di hadapannya.

Datang diantar, dengan tatakan saji berbahan perak bahkan.

On a silver plate..

Pasien pertamanya adalah adik kandung korban keempat.

Ackman harus berhati-hati sekali berbicara pagi tadi.

Nyaris selihai lidah pengacara.

Ia memuji dirinya sendiri.

Ada banyak informasi.

Namun ada satu hal yang menurutnya teramat penting.

Dan mungkin,… mungkin saja menghubungkan keempatnya.

Atau setidaknya 2-3 dari mereka. Ackman belum yakin benar.

Korban keempat mengalami perubahan perilaku hanya 3 hari sebelum kejadian.

Mulanya berdiam diri, sulit tidur, lalu mulai meracau dan tampak bersedih.

Dalam beberapa kesempatan adiknya memergoki si korban mengutarakan keinginan bunuh diri.

Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Tidak pada korban, ataupun anggota keluarga mereka lainnya.

Hanya saja, Ackman tidak menemukan pencetusnya.

Keluarganya tidak menemukan ada hal buruk terjadi sebelum kejadian.

Beberapa rekan korban juga menyatakan hal serupa.

Mereka sama kagetnya dengan perubahan tiba-tiba itu.

Ackman menggali kebiasaan selama hidup. Riwayat sakit, riwayat penggunaan obat, riwayat pertengkaran atau perkelahian.

Dan seperti yang Ackman duga, nihil.

Korban seorang laki-laki baik-baik.

Ackman hampir putus asa menemukan petunjuk hingga ia sampai di pertanyaan itu.

Adakah momen dimana ada perubahan sikap atau perilaku pada korban. Hal yang di luar kebiasaan.

Ibu itu terdiam beberapa saat.

Sebelum ia bercerita.

Anaknya pernah bersikeras ingin pergi berkemah bersama beberapa teman.

Dan ia tampak berbeda setelah pulang dari acara itu.

Mudah marah, murung, dan menolak makan. Meski tidak lama kemudian ia kembali seperti semula.

Keluarga mengira si korban sedang tidak enak badan. Namun tidak pernah membawanya berobat.

Si Ibu tidak yakin kalau hal itu ada hubungannya.

Karena acara itu hampir 2 tahun lamanya sebelum kejadian kemarin.

Namun memang tidak ada hal lain yang menurutnya signifikan.

Sudah cukup. Batin Ackman.

Data itu sudah lebih dari cukup.

Ackman melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul 12 siang.

Ia sedang berjalan menuju musola saat ponselnya berdering.

Martin.

Ia meminta maaf karena sedang melayani pasien di rumah sepagian tadi.

“Martin, temanmu, korban ketiga. Apakah pernah pergi berkemah ke Merapi Dempo?”

Hening sejenak.

“Benar kak. Kami pernah kesana”..

Seorang pria membuka pintu dengan tergesa-gesa.

Ia menoleh ke sekelilingnya.

Kosong.

Seperti biasanya.

Ia mengenal lingkungan ini.

Terlalu mengenal malah.

Namun setiap “kunjungan” masih membuatnya bergidik.

Seperti saat pertama kali bertemu dengan “mereka”.

Baju pria itu basah dengan keringat.

Kedua tangan dan kakinya terasa dingin.

Gemetarnya baru terhenti.

Ia mengambil sebatang rokok dari kantung kemejanya.

Butuh 3 kali upaya menyalakan korek sebelum batang rokok itu terbakar.

Pria itu mengumpat tertahan.

Ia mengisap dalam rokoknya.

Entah mengapa tidak lagi terasa nikmat.

Mungkinkah “mereka” yang membuatnya begini?

Ia tidak yakin.

Namun dibuangnya rokok itu jauh-jauh.

Pria itu menatap kedua tangannya.

Ia menghitung dalam hati.

Empat. Sudah empat.

Tidak cukup. Gumannya.

Masih belum cukup.

Ada momen dimana hati nuraninya – bila memang masih ada – memberontak.

Masih ada bagian dari dirinya yang merasa kasihan.

Melihat orang-orang itu mengerang.

Mata yang melotot.

Wajah yang berubah menjadi ungu.

Kemudian muncul kejang-kejang.

Sebelum akhirnya diam untuk selamanya.

Orang-orang itu tidak merasa sakit.

Seharusnya justru orang-orang itu bangga menjadi “yang terpilih” untuk melengkapi “mereka”.

Setidaknya itu kata “mereka”.

Lagipula ia tidak mungkin berhenti.

Tidak setelah sejauh ini.

Ia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Atas semua lelahnya.

Toh, semua hal butuh pengorbanan.

Lebih dari itu.

Bila ia pergi sekarang, “mereka” tidak akan melepaskannya.

Ia dan seluruh keluarganya.

Pria itu menelan ludah.

Sebulir peluh besar mengalir dari dahinya.

Mulutnya terasa masam.

Namun ia kehilangan minat merokok.

Tidak setelah melihat “mereka”.

Ia berjalan menyebrangi jalan.

Seekor anjing menatap ketakutan padanya. Tak lama anjing itu berlari menjauh.

Benar. Kalian harus takut denganku.

Seharusnya semua takut. Batinnya.

Tunggulah.

Tidak lama lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here