Rumah Dinas (21)

0
47

Sore itu terasa sangat panas.

Awan mendung memenuhi langit.

Namun belum turun hujan setetespun.

Ackman menatap pekarangan rumahnya dengan gelisah.

Ia bertanya-tanya apakah air hujan itu menguap sebelum mencapai tanah?

Bukan hanya soal panasnya hari ini. Namun Ackman juga menyimpan kegelisahan lain.

Seperti ada sosok tak terlihat yang mengawasinya.

Semua dimulai sejak kedatangan korban keempat.

Lalu mimpi buruk itu.

Ia teringat sesuatu. Chris belum pernah menghubunginya lagi setelah malam itu.

Apakah memang akan ada sesuatu yang terjadi.

Ataukah semua ini hanya paranoia-nya belaka?

Terkurung di tempat sepanas ini mungkin pada akhirnya bisa membuat pikiran seseorang menjadi tak waras. Batin Ackman.

Dibandingkan kehidupannya saat residen dulu, dirinya kini memang sangat kelebihan waktu luang.

Dulu jadwalnya sangat padat. Pukul 06.30 ia sudah berada di rumah sakit. Bila beruntung ia bisa mencapai rumah sebelum adzan magrib berkumandang.

Hari sabtunya diisi dengan bermain sepakbola atau futsal. Hari minggu – bila tidak sedang jaga – biasanya ia berjalan-jalan dengan keluarganya hingga malam hari.

Kesibukan selama nyaris 5 tahun itu. Hidupnya di tengah gemerlap ibukota.

Dan kini di hadapannya hanya ada rimbunnya kebun sawit.

Mungkin inilah penyebabnya.

Waktu luang membuat pikirannya berjalan kemana-mana.

Mungkin Ackman harus mencari kesibukan lain.

Stay busy. Stay sane.

Pikirnya.

Tetes air hujan pertama jatuh membasahi tanah.

Ackman mengucap syukur.

Ia menutup pintu depan dan menguncinya.

Perasaannya sedikit lebih baik saat hujan deras turun sore itu.

Ackman menyalakan televisi. Lalu memindah-mindahkan salurannya dengan tatapan jemu.

Tidak ada yang menarik.

Nyaris semua stasiun membahas mengenai pemilihan umum tahun depan.

Ackman mendesah. Ia bukannya tidak peduli. Namun jujur saja ia merasa tidak ada gunanya berdebat mengenai siapa akan menang tahun depan. Baginya, keadaan mungkin tidak akan berubah jauh. Siapapun yang memimpin kelak.

Ia masih harus menyelesaikan tugasnya setahun kedepan disini.

Keberadaannya disini menguntungkan semua pihak, kecuali dirinya.

Ackman tidak yakin kalau ada yang tertarik untuk mengubah hal itu.

Kesehatan adalah salah satu bahan jualan pada saat jelang pemilihan.

Meski kadang apa yang ditawarkan para calon pemimpin itu tidak masuk akal.

Hal seperti biaya pengobatan gratis memang terdengar manis di telinga para pemilih manapun. Namun bukan bagi tenaga kesehatan.

Seringkali janji itu berakhir sebatas di tagihan rumah sakit atau sarana kesehatan lain.

Yang entah kapan akan dibayarkan.

Ackman banyak mendengar rumah sakit yang bahkan kehabisan stok obat. Tak mampu untuk belanja lagi.

Rumah sakit tempat Antok bekerja malah kehabisan reagen laboratorium.

Ackman hanya bisa mengelus dada. Bagaimana ia dan rekan-rekannya bisa memperbaiki derajat kesehatan. Kalau hal mendasar saja mereka tidak mampu.

Menggelikan memang. Tapi itulah apa adanya.

Semua atas nama pengobatan gratis.

Lamunannya terhenti saat berita di televisi lokal menyajikan liputan mengenai kasus bunuh diri kemarin.

Ackman membesarkan volume televisinya.

Seorang reporter perempuan nampak mewawancarai seorang pria tua – nampaknya ayah si korban kemarin.

Latar belakangnya adalah suasana di rumah duka.

Sang ayah masih tampak terpukul. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan kejadian dua hari lalu.

Laki-laki yang meninggal itu tulang punggung keluarganya.

Sang ayah tidak merasa si anak memiliki masalah serius. Meski memang tiga hari sebelum kejadian anak itu tampak murung.

Reporter itu menutup wawancaranya tak lama setelahnya.

Mungkinkah semuanya terjadi karena kebetulan belaka?

Ackman tidak yakin.

Catatan kriminal keempat korban bersih.

Tidak pernah terlibat kekerasan, pencurian, bahkan terkena tilang pun tidak pernah.

Tidak ada barang yang hilang dari milik para korban. Dua di antaranya bahkan bukan dari kalangan berada. Ackman tidak yakin kalau motifnya adalah masalah ekonomi.

Ackman menanyakan mengenai kemungkinan adanya dendam pribadi kepada keempat korban. Martin tidak sependapat.

Metoda pembunuhannya terlampau rumit untuk hal seperti dendam. Pun tidak ada tanda perlawanan dari keempat korban.

Martin lebih condong mengenai kemungkinan mereka adalah korban dari suatu ritual kuno.

Mereka adalah tumbal.

Chris terduduk sambil menggenggam erat sebuah balok kayu yang diambilnya dari dalam sebuah kardus.

Suara derap langkah itu terdengar menjauh. Suasana sangat gelap.

Suara decitan kelelawar mulai menghilang.

Hening.

Terdengar suara pintu lain terbuka.

Kali ini tidak terlihat ada sinar matahari memasuki ruangan.

Ada ruangan lain di sebelah. Batin Chris. Mungkinkah ini yang dimaksud oleh Adi?

Ada sebuah tangga ke bawah. Chris berusaha mengingat bentuk ruangan itu dari yang dilihatnya dari luar. Nampaknya lebih besar dari yang Chris sangka.

Ia tidak bisa mendengar langkah kaki itu. Mungkin terlalu jauh.

Chris merasakan denyut jantungnya berdebar kencang.

Sebulir peluh mengalir dari dahinya.

Chris sesaat ragu.

Apakah ia harus mengikuti masuk ke dalam.

Ia tidak membawa apapun selain senter – dan kini sebuah balok kayu di tangan kanannya.

Chris hampir melangkah masuk saat ia merasakannya..

Ada hembusan angin. Dan sesuatu yang menekan di dalam angin itu. Ia merasa napasnya berat.

Apakah ini hanya perasaannya saja? Ia tidak yakin.

Tidak tercium apapun selain bau kotoran kelelawar.

Instingnya menyuruh Chris untuk segera pergi.

Namun ia seperti kehilangan kekuatan.

Ini seperti…

… seperti malam itu di Kendal …

Benaknya panik.

Ia seperti mendengar sesuatu dari ruangan itu. Seperti suara gemerisik.

Chris berusaha menenangkan dirinya. Melawan instingnya untuk melakukan hiperventilasi.

Tenang. Ini sama seperti malam itu.

Semua baik-baik saja.

Chris memejamkan matanya.

Berusaha menggerakkan kedua tungkainya.

Ia tidak merasakan kedutan otot, ataupun gerakan.

Denyut jantungnya semakin meningkat.

Apa itu tadi?

Rasanya Chris mendengar sesuatu.

Suara gemerisik itu semakin mendekat.

Chris merasa panik.

Ia hampir saja menjerit sebelum menyadari..

Suaranya tidak keluar.

Benaknya frustasi. Napasnya memburu. Sudut matanya melihat ke celah kecil yang ia buka.

Gelap.

Masih sama seperti sebelumnya.

Namun embusan angin itu makin terasa.

Dan bunyi itu. Sangat halus namun makin mendekat.

Jantung Chris terasa hampir terhenti saat ada tangan dingin yang tiba-tiba mencengkram lengan Chris.

Ia tidak menyadari kalau ternyata ada seseorang di hadapannya.

Sosok itu kini berjongkok. Tangan dinginnya masih memegang lengan Chris.

Suasana terlalu gelap untuk mengenali wajahnya.

Tangan kanan Chris ingin mengangkat balok kayu dan menghantamkan ke kepala sosok itu.

Namun percuma. Bahkan otot bisepsnya tidak berkontraksi.

Mata Chris membelalak ngeri.

Tangan itu menarik lengan Chris.

Sosok itu sepertinya kaget mengetahui Chris tidak melawan saat ia menarik lengannya.

Ada jeda hening sesaat sebelum Chris merasakan sosok itu menyodorkan sesuatu ke bibir Chris.

“Minum, cepatlah..” bisiknya.

Suara seorang pria.

Chris mencoba mengatupkan bibirnya. Nampaknya pria itu berusaha membuat Chris minum sesuatu dari sebuah botol.

Ada suara erangan tertahan. Sebelum kemudian Chris merasakan dirinya dicokok untuk minum.

Chris berusaha meronta. Namun ia tak berdaya.

Air mengalir melalui mulut menuju kerongkongannya.

Tidak ada rasanya. Seperti air putih.

Dalam tiga puluh detik Chris merasakan kekuatannya kembali. Ia hampir berteriak saat sosok pria itu mendekat dan menutup mulutnya.

“Kita harus pergi dok..” ia masih berbisik.

Sosok itu merangkul Chris dan memapahnya menjauh dari pintu.

Kedua kaki Chris terasa berat dan kesemutan. Tapi setidaknya ia bisa bergerak sekarang.

Ia masih belum tahu siapa sosok di sebelahnya. Yang jelas berusaha ia membawa Chris menjauh dari situ. Dan dalam hal ini tujuan mereka sama.

Tubuh pria itu terasa dingin.

Mereka tertatih-tatih melalui celah antar dus-dus barang.

Angin kembali berembus.

Ada suara itu lagi. Kini semakin jelas.

Chris mencoba mendengarkannya saksama.

…tik…tak…tik…tak…

Pria itu berhenti sejenak. Ia mengerang.

Chris merasa kakinya terasa berat secara tiba-tiba.

Mereka berdua berjuang melalui ruangan selebar 8 meter.

Sudut mata Chris mencoba melihat ke celah itu.

Masih gelap.

Tidak terlihat apapun.

Butuh satu menit penuh hingga akhirnya mereka mencapai pintu dan melewatinya.

Pria itu meletakkan Chris di lantai kemudian bergegas menutup pintu itu.

Suara berderit terdengar kencang.

Pria itu bertopi hitam. Chris mulai bisa melihatnya.

Sepertinya ia mengenal pria itu.

Angin berembus kencang melalui celah pintu.

Suara itu terdengar makin kencang.

Chris merasa dunianya berputar.

Ia kehilangan kesadarannya.

Perasaan ini.

Gelap.

Dingin.

Pria bertopi hitam itu mengumpat tertahan saat akhirnya ia berhasil mengangkat tubuh Chris ke dalam mobil.

Ia mendudukkan Chris di kursi penumpang. Tubuh Chris langsung melorot. Pria itu segera menutup pintunya dan berjalan menuju pintu kemudi.

Kedua tangannya masih gemetaran.

Rumah itu. Batinnya.

Ia tadi tidak sempat “menutup” pintu itu kembali.

Namun kini sudah terlambat.

“Sosok” itu sudah terlalu dekat.

Ia tidak bisa lagi mengambil risiko terlalu banyak.

Pintu kemudi tertutup.

Suara mesin MPV biru itu meraung membelah jalanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here