Rumah Dinas (20)

0
47

Mobil SUV Ackman berjalan perlahan melalui jalanan berlubang. Ackman merutuk saat sebuah lubang besar menganga di hadapannya.

Ia harus menunggu sebuah mobil dari arah sebaliknya lewat baru kemudian mobilnya bisa berjalan memutari lubang.

Jalanan rusak parah. Dan sayangnya ia masih harus bersabar setidaknya hingga musim penghujan mereda. Baru kemudian jalanan ini akan ditambal.

Masih harus bersabar. Guman Ackman. Ia dan seluruh penduduk Mesuji.

Apalagi saat di musim hujan. Genangan air menyamarkan lubang. Terkadang beberapa pengendara motor yang malang terperosok lubang di malam hari.

Saat itu menjelang sore. Awan mendung menutupi matahari.

Di jalan beberapa anak sekolah mengendarai sepeda motor berlalu lalang dengan sembrono.

Sebuah truk memberikan klakson panjang saat rombongan motor itu melintas.

Si sopir meneriakkan umpatan dalam bahasa lokal sambil mengepal-ngepalkan tangannya di udara.

Yeah, suasana sehari-hari di Mesuji.

Ackman berusaha mengikuti kecepatan motor Martin.

Ia mengendarai sebuah motor matic berwarna hitam.

Pria tambun itu mengemudi meliuk-liuk menghindari jalanan berlubang dengan kelincahan seekor kelinci.

Waktu menunjukkan hampir pukul 4 sore saat mereka akhirnya tiba di Tugu Macan.

Motor hitam itu melaju melewati tugu ke arah selatan.

Tak jauh darinya, Martin berbelok ke arah timur.

Ackman memandangi daerah sekitarnya.

Ada dua buah bank milik pemerintah di kanan dan kiri jalan.

Mobilnya melaju terus ke timur.

Disini jalan lumayan beradab.

Meski tidak lebar.

Perumahan itu cukup padat.

Beberapa warung terlihat di antara rumah.

Kios penjaja pulsa dan penjual bahan bakar motor.

Pemandangan yang cukup langka di Mesuji.

Yang di sebagian besar wilayah hanya terlihat hamparan kebun sawit, singkong, atau tebu.

Motor itu memberikan sinyal berbelok ke kiri. Kemudian motor hitam itu berhenti di depan sebuah rumah bercat putih.

Ackman memarkirkan kendaraannya dan keluar.

Martin sudah menunggu di depan pintu rumah. Ia tersenyum dan mempersilakan Ackman masuk.

Rumah itu cukup besar. Mungkin ukurannya sekitar 15 x 10 meter.

Menghadap ke selatan.

Berlantai satu.

Nyaris tidak memiliki halaman, kecuali sepetak lahan yang dipenuhi pot bunga.

Secara keseluruhan tampak terawat baik.

Meski ada sedikit keropos di sana sini pada kusen pintu dan jendela.

Rayap.

Batin Ackman.

Di Mesuji, rayap adalah masalah serius. Sama halnya dengan daerah yang dikelilingi perkebunan sawit lainnya.

Di areal perkebunan sawit Ackman banyak melihat gundukan sarang rayap.

Selain menjadi hama pada ladang sawit, kerusakannya juga nampak pada beberapa bangunan rumah.

Itu mengapa kusen di rumah sakit menggunakan alumunium.

Pengeroposan yang disebabkan serangga-serangga kecil itu terjadi sangat perlahan.

Kadang tidak disadari hingga sangat terlambat.

Jalanan di depan rumah tampak lenggang.

Ada satu pengendara motor melintas saat Ackman masuk ke dalam rumah.

Langit masih tampak mendung meski belum ada tanda-tanda turun hujan.

Martin menyuruh seorang perempuan muda – mungkin pembantunya – membuatkan minum.

Ia melepaskan jaketnya dan mempersilakan Ackman duduk.

Pria itu ikut menggerutu tentang rusaknya jalanan.

Seorang tetangganya terperosok saat melaju di malam hari.

Genangan air menutupi lubang. Martin harus menjahitnya di pelipis sebanyak 5 jahitan.

Martin menunjuk ke sebuah lemari kaca di ruang tamu.

Ada berbagai jenis obat dan alat medis disana.

Ackman melihat satu set alat bedah minor dan beberapa benang silk.

Ia mengaku tidak membuka praktik di rumah. Namun kadang beberapa tetangganya datang meminta tolong.

Ackman tersenyum, ia menanyakan apakah korban perkelahian juga datang ke tempat Martin.

Pria itu tertawa. Ia menolak, katanya.

Kasus seperti itu cenderung berbuntut panjang. Karenanya ia akan segera merujuk ke rumah sakit, atau ke puskesmas – yang jaraknya tak jauh dari rumah.

Pembantu Martin datang membawa dua gelas minuman dingin dan beberapa toples kudapan.

Ia mengaguk ke arah Ackman. Martin mempersilakan Ackman seraya berjalan mengambil laptop dari kamarnya.

Lelaki itu tampak lincah menarikan jemarinya di atas keyboard.

Sebuah laptop 15 inci.

Edisi khusus gamer.

Tipikal pria nerd, batin Ackman.

Martin tersenyum sembari membetulkan posisi kacamatanya.

Ia membuka sebuah file dan menunjukkannya kepada Ackman.

Ackman memicingkan matanya.

Ada beberapa foto jenazah disana.

Juga beberapa potongan foto dari media daring.

“Empat kasus terakhir” kata Martin, “semua memiliki ciri yang mirip: laki-laki muda, bujangan, dua di antaranya akan menikah dalam waktu dekat. Dan tanda di telinga itu”

“Membuat merinding bukan?” tutupnya.

Ackman memandang pria itu sejenak.

Ia bertanya-tanya apakah Martin sudah menikah.

Agaknya belum. Ia tidak melihat ada foto pernikahan Martin di ruang tamu.

Dalam hati Ackman berpikir apakah Martin juga merasa khawatir akan dirinya atau tidak.

“Kasus pertama terjadi 1,5 tahun lalu” sambung Martin, “semalam adalah yang terbaru.”

Martin mengeluarkan sebuah map. Ada tumpukan kertas di dalamnya.

Lelaki itu membetulkan posisi kacamatanya lalu berdehem sesekali.

Ia mengambil pastilesnya lalu mengisapnya satu.

“Nah, lihat ini kak.”

Map biru tua itu rupanya kliping dari harian lokal.

Ackman melihat sekilas tanggalnya. Lebih dari setahun yang lalu.

Kliping itu memberitakan kejadian bunuh diri seorang pria.

Tidak banyak dibahas hal lain. Keluarga diberitakan merelakan kematian si korban dan menguburkan sehari setelah kejadian.

Ada sebuah foto di bagian tengah berita.

Kertas koran itu sudah hampir menguning. Namun nampaknya foto diambil di rumah sakit. Ada Martin berdiri disana.

Di antara tiga polisi.

Dua lainnya adalah perawat UGD, Ackman tidak mengenal namanya.

Ackman menoleh ke pria itu. Sang empunya gambar mengaguk – nyaris terlihat bangga.

Usia saat kematian.. 27 tahun.. belum menikah.. tidak ada tulisan lain setelah pernyataan polisi bahwa ini kasus bunuh diri.

Martin membuka lembar lain.

Sebuah foto ditempel di kertas itu.

Si korban nampak terbaring terlentang di atas sebuah brankar.

Wajahnya ungu dan sembab.

Keempat alat geraknya kaku.

Tak jauh berbeda dengan keadaan jenazah yang Ackman lihat di foto siang tadi.

“Ini kasus pertama” Martin menjelaskan. “Saat itu aku baru saja masuk ke rumah sakit. Itu visum pertamaku.”

“Aku sangat gugup, sehingga aku merekam temuanku pada jenazah di ponsel, aku kuatir terlupa saat menulis laporan”

Pandangan laki-laki itu beralih dengan segera ke layar laptopnya. Ia menyalakan suara rekamannya.

Suara Martin – jelas terdengar gugup – terbata-bata.

Ia mempercepat waktunya. Sebelum akhirnya memperdengarkan rekaman itu:

“….selain luka jerat di leher, dengan lokasi 5 sentimeter di bawah… errr… tragus kanan, terdapat jejas di post auricula kanan, ukuran panjang 3 sentimeter kali 2 sentimeter berbentuk …. err… tanda rumput….”

Suara itu terdengar ragu.

Ackman membalik kertas dalam map.

Ada sebuah kliping lainnya.

Disertai foto jenazah di halaman baliknya.

“Semua ini kamu yang visum?” Ackman bertanya.

Martin menggeleng.

Ia hanya melakukan visum pada dua korban. Namun ia selalu datang ke UGD pada semua kejadian.

“Salah satu korban merupakan temanku” kata Martin, nyaris berbisik.

“Laki-laki itu orang baik, rasanya hampir tidak mungkin ia akan melakukan tindakan itu..”

“Ouw.. Maaf” Sahut Ackman.

“Tapi adakah hal lain yang mungkin berhubungan di antara semua korban? Organisasi tertentu?”

Martin menatap layar laptopnya dengan serius.

“Belum ada. Lokasinya terlalu acak. Begitu juga waktu kejadiannya. Tidak ada hubungan antara korban, selain dari mereka semua pria bujangan.”

“Sudah ada gambaran kira-kira siapa pelakunya?”

Martin menggeleng.

“Sepertinya ada sesuatu kak.” Lanjutnya serius.

“Maksudnya ada psikopat seperti Michael Myers berkeliaran. Atau mungkin mereka dihantui dalam mimpi seperti dilakukan Freddy Krueger?” Ackman nyengir lebar.

“Terlalu aneh untuk sekadar kebetulan?” Kata Martin mengangguk. “Mungkin juga bagian dari ritual tertentu.”

“Jadi apa kira-kira arti tanda itu?”

Pria itu mengangkat alisnya. Ia tersenyum tipis – nampaknya ia senang ada yang mau mendengarkan.

Jari-jemarinya kembali menari lincah di atas keyboard.

Ia mengetuk-ngetuk touchpad-nya.

“Terlalu banyak kemungkinan” sebutnya, “itu mirip logo sepatu, menurutku”, pria itu tergelak sambil menyebutkan salah satu merk sepatu terkenal dari Amerika.

“Tapi rasanya lebih mungkin merujuk kesini.”

Martin menunjuk satu gambar di laptopnya.

Ackman memandanginya serius.

Ia mengenal gambar itu.

Aksara kuno.

Ia pernah mempelajarinya saat bersekolah dulu.

“Huruf kuno?”

Martin mengangguk.

“Kalau dari sini, artinya adalah huruf ‘Pa’ atau ‘P’, tapi aku belum yakin. Bisa jadi juga sebuah tanda conteng, atau huruf ‘v’”.

Pria itu menyeruput minumnya.

Ackman teringat sesuatu, “semuanya, korban ini, dinyatakan bunuh diri?”

Martin mengangguk. Ia menghabiskan minumnya.

“Adakah perilaku aneh menjelang mereka bunuh diri?” Ackman bertanya “Apa semuanya menunjukkan gejala depresi?”

“Lebih dari itu malah” Martin menoleh ke kanan dan kirinya, “semua menunjukkan gejala psikosis”

“Psikosis?”

“Kesurupan kak. Mereka semua mengalami kesurupan sebelum akhirnya menggantung diri”

Sebentar lagi. Sosok itu berguman.

Tak lama sebelum “kami” akan “makan”.

Keadaan “kami” sekarang terlalu lemah, tapi dalam waktu segera, “kami” akan kembali pulih.

“Kami” butuh “makan”.

Lebih dari sebelumnya.

Lebih dari saat itu.

Dan kali ini “kami” yang akan membuat perhitungan.

Sosok itu mengerang saat mencoba bergerak.

Rasa nyerinya belum sepenuhnya hilang.

Ruangan itu dalam keadaan gelap total.

Tak ada sinar matahari yang dapat menembus ke dalam.

Gelap dan hening.

Nyaris tak terdengar suara apapun.

Ada suara pintu terbuka, kemudian diikuti cicitan kelelawar yang menggema di seluruh ruangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here