Rumah Dinas (19)

0
49

Tidak banyak yang Ackman lakukan hari itu.

Pasien paginya hanya 10 orang. Semuanya sudah ia selesaikan sejak sebelum adzan Dzuhur berkumandang.

Ackman memandang ponselnya dengan malas.

Ada lebih dari 60 pesan di media sosialnya.

Belum ia sentuh.

Sepiring kecil kudapan di mejanya masih dalam posisi yang sama saat Ackman datang.

Ackman memanggil perawatnya. Ia mempersilakan perawatnya mengambil kudapan. Ibu itu – seorang wanita paruh baya mengambilnya dengan senang hati.

Perasaan Ackman sedang tidak enak.

Ia masih teringat kejadian semalam.

Mimpinya terasa sangat nyata.

Ia bahkan tak percaya kalau ia sampai harus menelpon Chris segera setelahnya.

Hanya untuk kemudian diejek oleh Chris – laki-laki itu mengatakan kalau ia sempat mengira bahwa ibunya yang sedang menelpon.

Mungkin ada benarnya. Ackman hanya berlebihan.

Kebetulan saja ia sedang teringat Kayuagung. Dan melihat pria itu di IGD.

Polisi mengatakan itu kasus gantung diri biasa.

Sementara keluarganya bersikeras kalau pria malang itu dibunuh.

Seorang keluarganya – nyaris berteriak – mengatakan kalau si korban baru saja pulang membeli mas kawin untuk pernikahannya kepada seorang polisi.

Polisi itu mencoba menenangkan.

Memang janggal.

Untuk apa seorang yang akan menikah memutuskan bunuh diri?

Hampir tidak ada gejala depresif atau masalah yang signifikan – setidaknya itu dari yang Ackman simpulkan dari percakapan orang-orang.

Tak perlu menjadi seorang detektif untuk mengendus sesuatu yang aneh.

Tapi itulah adanya.

Perkara seperti itu bukan hal baru disini.

Kasus kematian mendadak yang tidak terjelaskan.

Seorang kawan Ackman mengatakan, unsur magis disini masih kuat bermain.

Selain dari bahaya terkena pelor. Kini ia harus juga waspada dengan santet. Dengus Ackman.

Ackman hanya ingin menyampaikan hal itu pada Chris.

Dan laki-laki itu menganggapnya sebagai lelucon.

Ia tidak yakin, hal mana yang lebih membuatnya muram.

Ejekan Chris ataukah firasat buruknya.

Atau mungkin karena keduanya?

Yang pasti hari-hari terakhir ini memang muram.

Hujan sering timbul di sore dan malam hari.

Suasana sepi bertambah menjadi makin sepi di kala hujan turun.

Semua hal itu membuat benaknya berpikir yang tidak biasa.

Mungkin itu juga yang terjadi saat seseorang memutuskan akan mencabut nyawanya sendiri – tentunya dalam takaran yang lebih ekstrem – batin Ackman.

Permasalahan hidup yang tak kunjung usai.

Suasana muram.

Perasaan sendirian. Dan tidak ada orang yang mau menolong.

Semua hal itu kadang hanya butuh satu pemantik kecil.

Untuk kemudian memicu seseorang mengakhiri hidupnya.

Ackman bukan tidak mempercayai hal gaib.

Hanya saja ia memandang kasus bunuh diri hampir sama dengan penyakit lainnya.

Semua selalu ada asal muasalnya.

Ada faktor-faktor yang sebetulnya bisa diprediksi.

Dimulai dari pribadi yang tertutup. Perfeksionis. Sebagai faktor risiko.

Kemudian munculnya stresor berat – yang dalam teori ilmu kesehatan jiwa, biasanya stressor yang dalam level katastropik – diiringi adanya kegagalan dalam mekanisme diri menghadapi stressor.

Setelahnya akan muncul depresi – lengkap dengan tanda dan gejalanya, yang sekali lagi sebetulnya bisa terlihat: kehilangan minat dan kegembiraan, afek depresi, dan menurunnya energi – bisa terlihat dari aktivitas yang menurun.

Jadi sebetulnya. Sangat mencolok dan bisa dicegah.

Itu yang Ackman sayangkan.

Kebanyakan orang hanya berfokus pada kejadian pencetus: ucapan seseorang, kegagalan mencapai harapan, atau putus cinta.

Dan ketika pencetus itu dikatakan sepele, orang lalu akan ramai-ramai menyangkalnya.

Seolah-olah mereka sudah memberikan pertolongan selayaknya kepada si korban.

Pada saat ia benar-benar membutuhkannya. Bukan setelah ia mati.

Persoalan bunuh diri tidak sesederhana itu – setidaknya itu yang Ackman yakini.

Obor tidakkan bisa membakar kayu yang basah, namun hanya butuh sebatang korek untuk membuat ladang minyak terbakar.

Semua selalu ada urutan kejadiannya. Itu semua kasat mata. Andaikan kita peduli.

Namun entah mengapa. Perasaan ini.

Untuk pertama kali dalam hidupnya. Ackman merasa kalau mimpi semalam adalah urutan dari kejadian besar yang akan terjadi.

Ini hampir seperti panen ikan di sungai menjelang banjir bandang.

Seperti hewan-hewan yang berlarian menuruni gunung menjelang erupsi.

Ackman benci jika firasatnya benar.

Untung baginya hal itu lebih sering salah daripada benar.

Ia sedang berjalan menuju bangsal saat Martin menyapanya.

Martin adalah seorang dokter umum di rumah sakit.

Pria itu tambun. Mungkin berusia 4-5 tahun di bawah Ackman.

Ia tidak bisa menebak berapa berat pria itu. Dan Ackman juga enggan menanyakannya.

Martin tipikal pria kutu buku berkacamata.

Dari yang Ackman tahu. Dia salah satu putra asli daerah.

Bergabung dengan rumah sakit sejak pertama kali dibuka.

Martin terbatuk kecil saat mereka berjalan bersama.

Ia mengambil sebuah pastilles dari sakunya. Dan mengisapnya.

Ackman menduga-duga apakah Martin seorang perokok.

Mereka berhenti di depan bangsal perawatan saat Ackman bertanya.

“Korban semalam, apakah DOA?”

“Sudah rigor mortis kak” Martin mendesah.

Sepertinya ia sudah terlalu banyak ditanya sepanjang malam hingga hari ini.

“Oiya. Kamu visum semalam? Apa malah otopsi?”

Martin tertawa kecil. Sekalipun harus otopsi, biasanya keluarga akan keberatan. Terangnya.

“Jadi kesimpulannya?”

Martin menghela napas panjang.

“Tentu penyebab kematian tidak bisa disimpulkan dari hasil visum”

“Tapi.” Ia berhenti sejenak.

“Yang menarik bukan soal jeratan di leher. Tapi ini..”

Martin mengeluarkan ponselnya.

Ia menoleh ke kanan dan kirinya. Lalu menyodorkan satu foto kepada Ackman.

Ackman menelengkan kepalanya.

Itu foto kepala korban semalam. Ackman mengingatnya.

Hanya saja posisinya miring ke samping kiri. Martin mengambil foto dari sisi kanan.

Pakaian pria itu sudah dilucuti seluruhnya.

Usianya sekitar pertengahan 20-an. Perawakannya sedang. Kulit gelap.

Rambutnya hitam lurus dan terpotong rapi.

Wajahnya tampak keunguan.

Dari kedua sudut bibirnya keluar liur dan darah.

Lidahnya terjulur keluar.

Kepalanya tertekuk ke bawah dengan keempat anggota geraknya terbujur kaku.

Ackman tidak melihat ada bekas luka di lokasi lain.

“Apanya yang menarik?”

Dokter muda itu menunjuk. “Lihat baik-baik”

Ia membesarkan fotonya. Mengarahkannya ke bagian belakang telinga kanan.

“Tanda itu”

Ackman memicingkan matanya.

Ada sebuah goresan seperti tanda rumput.

Tepat di belakang telinga.

Apakah itu yang dimaksud Martin?

Ackman tidak melihat adanya jejas lain selain goresan itu dan bekas lilitan tali yang menjerat di leher.

“Mungkin tergores saat meronta?” Sahut Ackman

“Begitu juga kata polisi.” Martin tersenyum skeptis. “Tapi luka itu berbeda. Darahnya tidak seperti keluar dari orang yang masih hidup – atau setidaknya setengah hidup.

Ackman memandang wajah Martin.

Pria itu tersenyum penuh makna.

Seperti seorang anak yang merasa akan memenangkan pertandingan gundunya.

“Luka itu terjadi setelah mati.” Martin berhenti sejenak. “Ante mortem.”

“Seseorang atau sesuatu membuatnya” Ia menyambung

Ackman merasa ngeri.

“Mungkin. Hanya kebetulan?”

Dan akhirnya. Senyum kemenangan.

Martin membenarkan posisi kacamata. Ia menoleh ke ponselnya.

Membuka beberapa koleksi foto lama.

Pertanyaan ini sepertinya yang sudah ia tunggu.

Sambil menunjukkan sebuah foto kolase kepada Ackman ia berkata,

“Oiya? Kebetulan?”

“Lalu mengapa empat jenazah terakhir yang gantung diri memiliki tanda yang persis sama?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here