Rumah Dinas (18)

0
58

Sepasang suami istri itu tampak bingung.

Chris mengulang penjelasannya dengan perlahan. Si Ibu tampak mengangguk-aguk.

Mereka kemudian berbicara dengan bahasa daerah – nampaknya dari Sumatera Barat. Si suami masih tampak ragu. Namun ia akhirnya setuju anaknya dirawat.

Chris memanggil perawat poli dan menuliskan perintah perawatan.

Tidak banyak pasien hari itu. Mungkin 13-15 pasien. Chris tidak ingat persisnya. Perawat itu berbicara pada si bapak dan memintanya mengurus surat-surat di bagian admisi.

Si ibu mengucapkan terimakasih kepada Chris lalu berpamitan.

Pasien itu yang terakhir. Seorang anak perempuan dengan Purpura Henoch Schonlein.

Nampaknya ada keterlibatan dari ginjal. Karenanya Chris memintanya untuk dirawat – hey.., bagaimanapun ini menjelang akhir pekan.

Chris melingkari beberapa hasil pemeriksaan laboratorium di hadapannya. Menuliskan paraf dan capnya. Lalu memeriksa keseluruhan berkas sekali lagi. Ada beberapa tulisan yang terlewat. Chris membubuhi tulisan pada beberapa kolom-kolom dan menandatangani beberapa di antaranya.

Perkara administrasi. Hal-hal seperti ini berpotensi menyulitkannya sendiri saat akreditasi nanti. Itu hal yang Chris hindari.

Ia orang yang sangat sistematis – meski kadang nyaris terlalu perfeksionis. Karenanya ia benci kesalahan minor. Apalagi bila menyangkut dirinya.

Chris teringat saat ia masih di Bogor dulu. Orangtuanya selalu tertawa bila melihat Chris menyetrika sendiri pakaiannya. Lalat pun akan terpeleset di baju Chris. Begitu kelakar ayahnya.

Saat ini tentu saja ia tidak seperti dulu lagi. Namun ada beberapa hal yang menetap hingga kini.

Berkas itu ditumpuknya dalam satu tumpukan setinggi 25-30 cm. Milik keseluruhan pasien hari ini. Chris memandang pena gel-nya. Tintanya tinggal berisi ¼, senin lusa pena itu akan habis. Ia masih memiliki 2 lagi di tas pinggangnya. Cukup hingga kunjungan berikutnya ke Palembang. Batin Chris. Pena yang disukainya tidak ada di kota ini. Ia harus membelinya saat pergi ke kota.

Jam tangannya menunjukkan pukul setengah dua siang saat Chris membaca kembali kertas yang ditulisnya kemarin.

Ada poin ketujuh yang ditambahkannya.

Kematian bibik Adi.

Chris mengingat cerita pagi tadi. Sudah nyaris 2 dekade sejak bibik meninggal. Ia tidak memiliki keturunan. Setidaknya itu yang Chris tangkap. Perempuan itu ditinggal suaminya pergi. Tak diketahui kemana rimbanya. Bertahun-tahun sebelum kematiannya.

Hidup sendirian. Tanpa penghasilan tetap. Namun bibik menolak untuk tinggal bersama keluarga besar Adi. Sebelumnya, bibik dan paman Adi adalah keluarga kaya. Paling kaya di antara keluarga besar mereka.

Namun resesi membuat usahanya ambruk. Membuat mereka terpaksa pergi meninggalkan ibukota. Kembali ke kota ini. Rumah asli keluarga itu ada di dekat kawasan Kampung Empat. Adi kecil mengaku sempat mengunjunginya beberapa kali. Dahulu mereka berjalan kaki menuju kampung. Setelah kepergian paman. Bibik hanya menyendiri. Ia menolak tinggal bersama dengan keluarga besarnya.

Ia menyendiri selama beberapa waktu. Hingga seseorang menemukannya. Tergantung di kusen pintu rumahnya. Beberapa hari setelah waktu kematian.

Kisah tragis.

Lagu itu.

Dan mungkin.. mimpi Ackman mengenai hal itu…

Chris terdiam sejenak.

Perawat di ruangan poli meminta izin Chris untuk pergi solat. Sementara ruangan lain tampak mulai kosong.

Ia menarik napas panjang.

Meregangkan tubuhnya di kursi.

Secara keseluruhan Chris belum bisa menangkap kemana arah semua kejadian ini akan bermuara. Tapi setidaknya ia sudah menemukan satu benang merah.

Adi memiliki kecenderungan bunuh diri.

Lantai keramik ruangan itu berwarna cokelat tua dengan motif bunga keunguan berkuntum empat.

Di atasnya ada beberapa puntung rokok bekas tergeletak.

Abunya terbang dihamburkan oleh angin yang bertiup.

Tak jauh dari puntung rokok, terdapat satu kotak cerutu berwarna cokelat muda.

Satu kotak rokok yang sudah kosong.

Sebuah dompet.

Tas pinggang berwarna hitam.

Sementara di sebelah kiri terdapat satu kaleng minuman yang telah terbuka. Berisi hanya separuhnya.

Selebihnya tidak ada yang menarik kecuali sesosok yang tergeletak di tengah susunan benda-benda pribadi itu.

Laki-laki itu berusia 27 tahun. Berambut pirang.

Mengenakan kaos hitam dan sebuah kemeja lengan panjang berwarna krem.

Semua kancing kemejanya tidak disematkan.

Sementara sebuah celana jeans yang tak kalah kumal dikenakan laki-laki itu.

Dengan sepatu kets hitam yang masih rapi terpasang.

Tangan kanannya terbujur kaku lurus sejajar batang tubuhnya.

Sementara tangan kirinya menggenggam kaku laras senapan berjenis shotgun – rigor mortis.

Ada beberapa bekas luka suntikan di kedua lengan.

Bekas suntikan morfin.

Tidak banyak darah berhamburan di sekitar jasad pria itu.

Kecuali dari sebuah luka besar karena peluru yang masuk lewat mulutnya.

Sepucuk surat ditancapkan dengan sebuah pulpen di pot bunga.

Surat terakhir yang ditulis laki-laki itu.

Seorang dari jasa pengamanan rumah lah yang akhirnya menemukan jasad.

Hampir 3 hari sejak diperkirakan kejadian penembakan bunuh diri.

Polisi menyimpulkan penyebab kematiannya karena bunuh diri. Tidak ada yang lain.

Chris teringat kembali akan kejadian itu.

Sudah tiga windu berlalu.

Namun berbagai spekulasi masih berkembang.

Mengenai teori konspirasi pembunuhan. Dan lainnya.

Kasus kematian Kurt Cobain pernah dibuka kembali oleh kepolisian.

Mengingat begitu banyaknya ekspos dari masyarakat.

Namun kesimpulannya akhirnya tidak pernah berubah.

Penyebab kematian karena bunuh diri.

Di luar kasusnya yang terkenal.

Tak banyak yang juga mengetahui kalau keluarga Cobain memang memiliki kecenderungan genetik untuk melakukan bunuh diri.

Dua orang paman Kurt juga melakukan bunuh diri. Dengan metoda yang nyaris sama: menembak kepalanya.

Kasus itu, mungkin salah satu dari yang paling dikenang – setidaknya bagi generasi Chris.

Walau pada faktanya, bunuh diri merupakan urutan 10 dari penyebab kematian secara global.

Penelitian akan kecenderungan bunuh diri yang diturunkan dalam keluarga bahkan telah ada 10 tahun sebelum Kurt Cobain akhirnya meledakkan shotgun itu di kepalanya.

Seorang yang dalam keluarganya ada riwayat bunuh diri bahkan memiliki risiko 50% lebih tinggi untuk mengulangi hal yang sama. Dibandingkan mereka yang tidak.

Chris menutup matanya.

Kepalanya terasa pening.

Semakin banyak yang diketahuinya.

Semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Terlalu banyak keganjilan untuk sebuah kebetulan.

Terlalu abstrak untuk sebuah rencana.

Namun Chris merasa, seseorang nampaknya menggiring Adi melakukan yang sama.

Dari apa yang terjadi hingga saat ini.

Hanya saja ia tidak paham apa perannya. Apakah ia kebetulan berada disana?

Apakah kesurupan Adi merupakan bagian dari rencana itu?

Lalu mengapa ada yang menginginkan Adi bunuh diri?

Chris belum menemukan sejauh itu.

Segalanya masih buram.

Namun agaknya tidak banyak orang yang menyadari sedalam dirinya.

Chris merasa. Tali-tali tak terlihat itu bergerak lagi.

Tali yang perlahan mulai mengencangkan ikatannya.

Tanpa disadari. Kemudian menjerat leher korbannya tanpa ampun.

….

Kesadaran itu muncul bagaikan air bah.

Chris hampir terloncat dari kursinya saat ia baru teringat.

Bagaimana dengan ruangan di balik kamar rumah dinas?

Bukankah ia hampir membuka pintu sebelum Adi menelponnya?

Ia bergegas membereskan barang-barangnya.

Hari masih siang. Sedikit awan mendung menutupi langit.

Nampaknya ia beruntung.

Perawatnya belum kembali. Ia meninggalkan pesan kepada perawat di ruang sebelah. Dan berjalan keluar rumah sakit.

Chris merasa sedikit takut.

Apakah hanya kebetulan saja Adi mengalami hal itu?

Mungkinkah akan terulang hal yang sama?

Apapun itu. Chris tidak memiliki petunjuk lain yang dapat dikejarnya.

Ia tidak mengetahui dimana Alang berada.

Sejak kemarin pagi ia belum bertemu dengannya lagi.

Dan rasanya tidak elok terus bertanya kepada keluarga Adi. Chris masih terbayang wajah tidak nyaman ibu Adi saat mereka membahas hal itu.

Mungkin nanti. Ia akan bertanya lagi.

Sementara ini ia akan meninggalkan Adi dan keluarganya.

Motornya berdecit saat Chris menginjak pedal rem.

Nyaris saja ia terlewat.

Pintu samping rumah dinas berderit saat Chris membukanya.

Ia memasukkan motornya ke dalam.

Chris baru saja akan melepas sepatunya saat ia urung melakukannya.

Ruangan itu kotor. Mungkin bukan ide bagus bertelanjang kaki.

Sejurus kemudian ia meletakkan barang-barangnya di atas meja.

Mengambil sebuah senter besar.

Langit mulai gelap. Tak ada salahnya persiapan. Meski Chris ragu ia akan pergi lama.

Hanya membuka, lalu melihat sebentar, dan kembali. Benak Chris mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ruangan itu masih persis sama seperti saat Chris tinggalkan.

Bahkan jejak kakinya masih terlihat jelas. Chris menyalakan lampu kamar.

Cahaya kuning temaram menerangi ruangan.

Chris berjalan menuju sisi timur ruangan.

Pintu itu bukan berupa pintu sungguhan. Karena hanya terbuat dari batang kayu yang dilapisi kayu triplek. Catnya serupa dengan warna ruangan.

Chris menarik napas panjang. Ia sedikit terbatuk saat melakukannya.

Seharusnya ia tadi membawa masker. Batinnya.

Kepala Chris meneleng ke kanan dan kiri.

Memikirkan bagaimana cara membukanya.

Ia tidak melihat ada engsel di sisi ruangan rumah dinas.

Berarti pintu dibuka ke arah sebaliknya.

Chris mengetok dua kali.

Tok..tok..

Hening sesaat.

Tak terdengar jawaban dari sisi lain. Chris mencoba mengintip dari celah antara tembok.

Tak terlihat apapun.

Ia mencoba mendorong perlahan.

Tak bergeser.

Tampaknya ada sesuatu yang berat mengganjal. Atau pintu itu terkunci dari sisi lain?

Chris mendorong lagi sedikit lebih kuat.

Dinding triplek sedikit melengkung saat Chris mendorong kuat.

Terdengar suara logam berdenting dari sisi sebelah.

Ada sesuatu yang terjatuh. Sebuah kuncikah?

Pintu itu terbuka. Hanya sedikit celah. Namun terbuka.

Ia mengurungkan niatnya membuka lebih jauh – Chris harus melihat dulu, ada apa di sana.

Chris mengintip.

Gelap.

Tak terlihat apapun.

Ia menyalakan senternya. Lampu itu menyorot jauh.

Chris memicingkan matanya mengikuti cahaya senter.

Sepertinya sebuah ruangan. Lantainya berupa plester semen.

Belum terpasang keramik. Pecah-pecah di beberapa lokasi.

Chris tidak dapat melihat ujung ruangan dari celah sesempit itu.

Langit-langitnya berupa triplek yang berlubang pada beberapa tempat.

Udaranya lembab. Tidak tercium bau lain kecuali bau kotoran kelelawar.

Ia mendengus.

Chris baru saja akan mendorong pintu itu lebih lanjut. Saat suara langkah kaki terdengar.

Secara reflek ia mematikan lampu senternya. Ia berdiri dan segera mematikan lampu ruangan.

Gelap gulita.

Seseorang mendekat.

Chris berdiri bersandar pada tembok. Ia melambatkan napasnya.

Ada suara pintu berat terbuka. Suaranya bergema di seluruh ruangan.

Suara kelelawar berdecit terdengar berterbangan.

Cahaya matahari memasuki ruangan.

Bayangan seseorang terlihat. Jaraknya sekitar 10 – 15 meter dari tembok tempat Chris berdiri.

Dari bayangannya orang itu sepertinya seorang laki-laki.

Sedikit lebih pendek dari Chris.

Perawakannya kurus.

Satu tangannya masuk ke dalam saku.

Orang itu menoleh ke kanan dan kiri. Sebelum memasuki ruangan.

Suara pintu berderat kembali terdengar. Gemanya kembali terdengar.

Suara decitan kelelawar semakin ramai terdengar.

Pria itu berjalan dengan terburu-buru. Tak lama terlihat sebuah cahaya lampu senter.

Chris menahan napasnya saat pria itu melewati dirinya.

Semoga ia tak melihat kalau pintunya sedikit terbuka.

Ia melihat ke sekelilingnya. Matanya sudah mulai beradaptasi dengan kegelapan.

Chris mencari kayu, besi atau apapun yang sekiranya dapat dijadikan senjata – untuk berjaga-jaga.

Pria itu tidak berhenti saat melewati pintu lokasi Chris.

Chris menghembuskan napas.

Sepertinya orang itu tak menyadari.

..

Di luar rumah dinas. Sebuah mobil MPV biru berhenti.

Kaca samping sopir terbuka.

Orang itu melihat ke kanan dan kiri sebelum menutup kembali kacanya.

Seorang laki-laki bertopi turun dari mobil.

Pandangan matanya tajam. Tak lepas dari rumah dinas.

Ia merenggangkan otot lehernya. Terasa kaku.

Tangannya tidak sekuat saat ia masih muda.

Tapi bila hanya satu orang. Rasanya ia masih sanggup menanganinya tanpa kendala.

Ia tak menyangka kalau prosesnya akan secepat ini.

Kehadiran Chris.

Mungkin itu sebabnya.

Hal yang ia dan mereka tidak perkirakan sebelumnya.

Pria itu menatap langit.

Semoga hujan tidak segera turun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here