Rumah Dinas (17)

0
72

Seekor anjing berbulu hitam berjalan melintas saat motor Chris keluar dari parkiran.

Anjing itu berdiri, ekornya tegak. Waspada.

Chris tidak memedulikannya.

Setelah berlalu tiga minggu disini ia tak lagi cemas dengan hewan-hewan bertaring itu.

Beberapa saat lalu seorang ibu membawa anaknya berobat karena gigitan anjing.

Chris menanyakan apakah anjingnya dikurung. Si ibu menjawab enteng bahwa anjingnya sudah mati, dipukuli oleh warga kampung.

Bukan hal baru.

Banyak anjing disini, namun Chris ragu apakah mereka sudah diberi vaksin. Melihat penampakan luarnya saja agaknya tidak.

Kebanyakan anjing-anjing ini tidak terawat.

Mengais-ngais bak sampah di malam hari.

Mengejar pengendara motor.

Saling menggigit dan menggonggong tak berhenti.

Satu-satunya saat anjing itu “diurus” adalah setelah mereka menggigit seseorang.

“Urusan” memukuli dan mengubur lebih tepatnya. Dengus Chris.

Awan mendung masih menggelayut di langit. Suasana sudah gelap, nyaris seperti saat magrib.

Angin dingin berhembus membuat dedaunan kering berjatuhan.

Jalanan lenggang. Hanya ada Chris di atas motor.

Chris mengerling melalui spion. Ada sebuah mobil MPV biru di belakang.

Mobil itu tua, mungkin dari model keluaran 10-12 tahun lalu. Terlihat kurang terawat. Beberapa bagian catnya tampak berkarat.

Kacanya gelap. Chris tidak dapat melihat ke dalam. Plat nomornya berasal dari dalam kota.

Angin berembus makin kencang.

Chris memacu kendaraannya. Ia enggan kehujanan.

Motornya berdecit saat berbelok tajam. Chris pengemudi motor yang cukup lihai – setidaknya untuk dirinya.

Seorang pria tua tampak akan menyebrang jalan saat Chris melewati sebuah komplek ruko.

Tak lama terdengar bunyi klakson.

Mobil tadi. Agaknya ia nyaris menyerempet si pria tua.

Chris memandang spionnya selama beberapa saat. Apakah ia pernah melihat mobil ini sebelumnya?

Secara refleks Chris melambatkan motornya. Memberi jalan agar kendaraan tadi lewat.

Di kota kecil seperti ini, kepatuhan berlalu lintas tak dapat diharapkan.

Hampir tiap saat Chris menemukan pelanggaran lampu merah. Apalagi menjelang hujan, dimana pengguna kendaraan cenderung menjadi lebih agresif.

Tidak ada yang melintas. Chris kembali melirik ke spion. Mobil itu ikut melambat.

Apakah ia diikuti?

Angin kencang kembali bertiup. Menerbangkan debu jalanan.

Chris memikirkan sesuatu. Ia berbelok kiri di sebuah persimpangan. Jalan itu menuju areal perumahan kecil di belakang Lembaga Permasyarakatan.

Ia sedikit mempercepat laju motornya. Di belakang mobil itu ikut berbelok.

Mungkin kebetulan. Batin Chris.

Untuk apa seseorang mengikutinya?

Hanya untuk berjaga-jaga, Chris sengaja berbelok kanan di sebuah gang kecil. Kendaraan itu pasti tidak akan bisa masuk.

Motornya melambat. Dari kaca spion, mobil itu terlihat berjalan lurus.

Ternyata benar. Hanya pikirannya saja.

Chris memasuki perumahan kecil itu saat tetes pertama air hujan menghujam bumi.

Hampir 5 menit berjalan, sekitar 20 meter di depan Chris ada sebuah persimpangan besar.

Tinggal berbelok kanan, lalu ia kembali ke jalur pulang.

Motor nyaris berbelok saat sudut mata Chris melihat mobil itu.

Berjalan lambat di perempatan. Seolah menunggunya.

Suara berdecit muncul saat Chris menginjak pedal rem mendadak.

Apakah orang itu melihatnya?

Ia ragu.

Berputar di jalan ini. Chris pasti akan terlihat.

Ia segera memundurkan motor. Persimpangan itu terdiri dari perumahan yang cukup padat.

Chris mundur sejauh 5-7 meter sebelum menemukan sebuah gang kecil di antara 2 buah rumah.

Ia memasukkan motornya ke gang itu.

Dalam dua gerakan tangkas. Ia memarkirnya dan berdiri di balik tembok mobil.

Chris merasakan degup jantungnya meningkat.

Siapa orang itu?

Mengapa mengikutinya?

Ia mengeluarkan ponselnya. Menyalakan kamera depannya dan mengintip ke luar gang kecil menggunakan ponsel itu.

Mobil itu masih berjalan lambat. Hampir berhenti di gang tempat seharusnya Chris keluar.

Kaca samping sopir terbuka separuh.

Pria bertopi terlihat dari balik kemudi.

Chris tidak dapat melihat jelas orang itu melalui layar ponsel. Ia mengambil 1-2 gambar.

Butuh 2 menit penuh sampai akhirnya mobil pergi.

Chris mengatur napasnya.

Tetes-tetes hujan semakin deras turun. Terdengar suara guntur dari kejauhan.

Chris mengenakan jas hujannya.

Mungkin orang itu masih dekat. Ia tidak mau gegabah.

Apapun yang diiinginkannya, nampaknya bukan sesuatu yang baik.

Mengendap-endap di depan ruangan Adi. Lalu kini mengikutinya.

Ia sangat layak curiga.

Chris teringat apa kata Alang. Waspada.

Apakah ada hubungannya dengan hal ini?

Ia bahkan tidak bisa memikirkan hal apa yang telah dilakukannya sehingga diikuti.

Beberapa minggu terakhir Chris mendengar mengenai kasus pembegalan yang terjadi di dekat sini.

Rata-rata korbannya adalah pengendara motor. Seorang bahkan terbunuh karenanya.

Bulu kuduknya meremang.

Benak sadar Chris buru-buru menepis pikiran itu. Untuk apa orang membegal kendaraan dinas?

Motor ini bahkan bukan motor mahal.

Rasanya janggal.

Mungkin hal lain.

Chris mengamati foto di ponselnya. Ia tidak bisa mengenali siapa orang itu. Tapi nampaknya seorang pria. Mirip dengan orang yang dilihatnya di ruang perawatan Adi subuh tadi.

Chris bertanya-tanya ada apa dengan Adi hingga orang ini begitu serius?

Air hujan membasahi wajah Chris. Ia mengenakan helmnya.

Suara guntur dari kejauhan kembali terdengar.

Langit tampak sangat gelap. Agaknya hujan ini akan berlangsung semalaman.

Chris menoleh keluar gang.

Kosong.

Sebuah mobil pick-up melintas di jalanan. Genangan air berhamburan saat mobil itu melintas.

Chris merasa mengambil jalan balik bukan ide bagus. Sudah lama sejak mobil itu pergi. Dan lagipula, apa sulitnya bagi orang itu menanyakan dimana ia tinggal?

Hampir semua orang tahu.

Ia menghela napas panjang. Uap terlihat keluar dari mulut Chris. Suhu udara pasti turun di bawah 16 derajat.

Chris menyalakan mesin motornya. Menuntunnya perlahan keluar dari gang sempit. Lalu berjalan keluar.

Di perempatan tak terlihat satupun kendaraan.

Seorang pria dan anaknya berteduh di pinggir bangunan seberang jalan.

Ia memacu motor melalui hujan.

Jalanan lenggang. Seperti biasanya.

Chris menguap seraya memandang layar laptopnya.

Hari-hari ini terasa amat melelahkan. Ia memijat-mijat tengkuknya yang terasa kaku.

Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Chris berjalan dengan gontai memasuki kamar.

Tidak banyak yang dikerjakannya malam itu. Menelpon keluarganya di Jawa. Lalu membaca beberapa artikel tanpa antusiasme.

Badannya terasa lelah, namun matanya belum mengantuk.

Chris mengurungkan niatnya meminum Ibuprofen lagi. Ia berharap cukup tidur akan menghilangkan rasa pening di kepalanya.

Di luar, hujan masih berlanjut meski tidak deras. Angin tidak lagi bertiup kencang.

Awan mendung menutupi sebagian besar langit.

Hal yang bagus disini, selebat apapun hujan, tidak akan ada banjir.

Berbeda dengan saat Chris kuliah di Semarang.

Hujan selama ini hampir pasti akan membuat jalanan tergenang.

Hal yang lebih buruk, WC di kostnya akan meluap. Membuatnya harus mengungsi sementara waktu.

Itu sudah lebih dari 15 tahun yang lalu. Batin Chris. Saat ini ia dengar banjirnya bahkan bertambah parah.

Beberapa penduduk setempat bahkan sudah meninggalkan perumahan tempat kost Chris dulu. Menyisakan hanya beberapa pemilik yang cukup bermodal untuk meninggikan bangunannya tahun demi tahun.

Kilatan petir terlihat dari balik jendela. Suara gemuruh mengikuti beberapa detik kemudian.

Ia teringat sesuatu. Kertas yang ia tulis tadi siang.

Ada hal keenam sekarang.

Kemungkinan bahwa ia telah diikuti oleh seseorang.

Chris merebahkan dirinya ke atas ranjang. Terdengar suara berderit tertahan.

Ia belum menemukan apapun.

Tidak ada petunjuk. Tidak ada bukti. Dan yang paling aneh, apa yang telah dilakukannya sehingga seseorang mau mengikutinya?

Rasanya tidak ada yang mendendam kepadanya. Chris jarang terlibat konflik. Justru ia tipe penghindar.

Chris jarang bersosialisasi. Hanya keluar rumah saat perlu. Tidak banyak yang ia kenal hingga kini.

Dan kebanyakan adalah pegawai rumah sakit.

Ia benci terlibat konfrontasi.

Berbeda dengan Ackman, Chris tidak bisa berkelahi.

Seumur hidup ia tidak pernah berkelahi dengan siapapun.

Satu-satunya bela diri yang dikuasai Chris hanyalah berlari.

Apakah ini soal uang? Chris menduga.

Lalu apa hubungannya dengan Adi? Rasanya janggal bila harus serumit itu jika urusannya hanya mengenai uang.

Dan lagi mengapa baru saat ini?

Apapun itu, Chris menduga kuat ada sesuatu dengan Adi. Mungkin ada hal lain yang Adi pernah sampaikan kepadanya? Sesuatu yang pernah Adi berikan?

Apakah ada kaitannya dengan hal yang terjadi saat mereka ke Kampung Empat?

Mata Chris terpejam. Ia mencoba mengingat kembali sore itu.

Ada siapa saja disana?

Adi, ibunya, pria tua – yang Chris duga ayah Adi. Adik perempuan Adi. Dan lima-enam pemuda. Chris tidak mengenal mereka. Tapi nampaknya tetangga sekitar rumah.

Adi sebetulnya tidak mengamuk sore itu. Ia hanya mengulang-ulang nyanyian – bulu kuduk Chris meremang bila ia ingat saat itu – dalam postur tubuh yang janggal.

Kedua kakinya bersimpuh. Dengan telapak kaki yang menekuk keluar.

Kepalanya ditelengkan bergantian dari kiri ke kanan dengan tatapan mata kosong dan wajah yang memerah.

Bagaikan seseorang yang depresi.

Lebih dari depresi. Seperti orang yang berniat bunuh diri. Batin Chris.

Lagu itu sendu. Dan itu jelas bukan suara Adi.

Suara itu lebih mirip suara seorang perempuan.

Pelafalannya baik. Terlalu baik malah. Yang mana Chris ragu bahkan Adi sendiri bisa berbahasa Inggris sefasih itu.

Tidak ada barang yang dirusak Adi. Tidak ada orang yang Adi serang.

Adi hanya mengamuk saat orang-orang berusaha membawanya ke rumah sakit. Selebihnya, bagi Chris Adi seperti hendak mengatakan suatu pesan.

Sesuatu yang hanya Chris seorang yang mengetahuinya.

Hanya saja Chris sampai saat ini tidak paham. Apa yang Adi maksud. Ada apa di balik lagu itu.

Apakah karena orang yang mereka temui di Kampung Empat?

Chris ragu. Ia tak merasa melakukan hal yang buruk selama disana. Mereka hanya 2-3 jam berada disana. Memang apa yang mereka lakukan?

Apakah itu suara perempuan paruh baya yang mereka lihat di jalan menuju Kampung Empat? Bila iya, itu bisa menjadi jembatan penghubung 3 poin yang Chris punya sekarang.

Meski Chris sebetulnya tidak mempercayai adanya arwah penasaran. Menurut Chris, mungkin ini adalah halusinasi dari Adi belaka. Namun darimana Adi tahu soal lagu itu.

Apakah lagu itu ada makna tertentu bagi Adi? Chris tidak mengetahuinya.

Dan mengapa bibik Adi wafat. Pada usia berapa?

Lantas siapa pria bertopi itu? Rasanya ia tak melihatnya di rumah Adi.

Mungkin ada hal lain yang Adi tahu.

Chris tak dapat menduga semuanya.

Kemungkinannya masih sangat luas.

Besok akan ia menemui Adi. Mungkin ada kejelasan setelah besok.

Chris hampir saja terlelap saat ponselnya berdering.

Ia menggerutu.

Ponsel itu sudah berdering tiga kali saat Chris memegangnya.

Chris mengangkat kedua alisnya saat menatap layar telepon.

“Halo”

Ia mengenal suara itu.

“Chris. Gue tau ini kedengerannya gila. Tapi ini penting. Begini: lo ngga ada rencana naik gunung dalam waktu dekat kan?”

Hampir dua bulan tinggal di Pagaralam. Baru sekali ini Chris merasa tak sabar menanti pagi.

Mata masih mengantuk. Kopi yang diminumnya seperti tak bereaksi. Atau mungkin kantuknya jauh lebih berat. Atau mungkin keduanya. Chris tak yakin mana yang benar.

Ackman semalam menelponnya.

Mengatakan ia melihat Chris mati tergantung di sebuah dataran tinggi. Di atas sebatang pohon.

Ia tidak yakin benar dimana lokasinya. Namun tempat itu berkabut dan amat dingin. Sebuah dataran luas. Dan hanya sedikit pohon berada di atasnya.

Chris nyaris tertawa andai ia tidak mengingat bahwa seseorang mengikutinya dari rumah sakit sore kemarin. Dan menyadari bahwa lokasi yang diceritakan Ackman itu memang benar adanya.

Kebetulan yang aneh.

Semua urutan kejadian ini.

Detilnya yang mengerikan.

Peringatan dari Alang.

Sekarang dari Ackman.

Semuanya bermuara di tempat ini.

Terlalu aneh bila disebut hanya kebetulan.

Bagaimana Ackman mengetahui detil lokasi itu. Yang Adi pernah ceritakan kepada Chris. Sebuah dataran luas di antara puncak Dempo dan Merapi?

Bagaimana cara Adi “memperingatkan” Chris?

Bagaimana dengan perempuan paruh baya yang mereka temui di Kampung Empat?

Chris merasa ada tali tak kasat mata yang mengendalikan ini semua. Dan ia – bukan hanya ia, namun mereka semua – adalah sebuah pion dari permainan besar.

Chris, Adi, Alang, wanita di Kampung Empat, pria bertopi, dan sekarang Ackman.

Ini sepertinya bukan semata-mata perkara uang.

Terlalu remeh.

Terlalu repot.

Dan terlalu mustahil.

Kejadian semalam menyadarkannya akan sesuatu. Hal yang mungkin menjadi benang merah yang ia cari.

Ia bahkan tak bisa mengingat kapan terakhir kali menghubungi Ackman. Mungkin 1-2 bulan yang lalu. Chris belum bercerita tentang kejadian di Pagaralam kepada Ackman. Atau kepada siapapun.

Ia merasa tegang. Sedikit takut. Namun ia merasa ada titik terang.

Well.. Hidup terkadang memberikan jawaban dengan cara yang teraneh. Seperti yang terjadi kini padanya.

Motor Chris melaju cepat di jalanan kosong.

Jam tangannya belum genap menunjuk angka tujuh saat ia tiba di rumah sakit. Parkiran masih lenggang. Para anjing liar masih tertidur di beberapa tempat. Menikmati matahari pagi.

Beberapa keluarga pasien berkumpul di depan ruang IGD.

Sebuah mobil bak terbuka yang dimodifikasi dengan penutup permanen di bagian belakangnya terparkir di pintu masuk.

Mobil dari kawasan Lintang. Itu kendaraan umum khas dari sana.

Daerah itu sebetulnya berada di luar wilayah Pagaralam. Namun secara geografis, lebih dekat dengan Pagaralam. Maka banyak dari penduduk mereka yang berobat disini.

Chris meminta izin lewat kepada beberapa pekarya yang sedang membersihkan lantai koridor rumah sakit. Lantai keramik masih becek dimana-mana sisa hujan.

Chris tidak tahu pukul berapa hujan akhirnya terhenti. Mungkin lepas dini hari.

Ruang perawatan yang ditujunya masih sepi saat Chris masuk. Seorang perawat sedang sibuk menuliskan catatan pasien. Sementara di dalam kamar terlihat beberapa keluarga pasien masih tertidur.

Chris memasuki ruang perawatan Adi.

Ibu itu sedang membereskan barang-barang saat Chris mengucapkan salam. Ia tidak melihat Adi di dalam kamar.

Si ibu mengatakan mereka akan pulang hari ini. Ia kembali mengucapkan terimakasih kepada Chris atas bantuannya. Bahwa mereka sudah merepotkan banyak orang.

Ibu itu merasa beruntung Chris dapat mengurus kamar dan semua kebutuhan Adi selama dirawat. Ia mengambil sebuah tas dari atas kursi tamu dan mempersilakan Chris duduk.

Chris melihat ke sekeliling. Kemana Adi pergi? Mungkin ke kamar mandi?

Hanya ada ibu itu di ruangan. Keluarga lainnya tak terlihat. Mungkin sudah pulang sejak semalam. Keadaan Adi sudah jauh lebih baik sejak kemarin sore. Kata ibu.

Chris tersenyum. Ia sejenak ragu. Namun akhirnya ia bertanya, apakah Adi pernah mengalami kejadian seperti kemarin.

Ibunya menggeleng.

Tidak ada riwayat seperti itu dalam keluarga mereka.

“Yang Adi katakan pada saya kemarin.” Chris terdiam sejenak

“Apakah ibu tahu apa maksudnya?”

“Maksudnya?”

Chris mengambil ponselnya.

Ia memutar sebuah rekaman lagu.

Love is Blue. Kali ini dengan lirik di dalamnya, dinyanyikan seorang perempuan.

Raut muka ibu itu berubah.

Chris merasa kikuk. Ia mematikan rekaman itu.

“Maaf?” Tanya Chris, “Ada yang salah bu?”

Ibu itu tersenyum tipis. Matanya menerawang jauh.

“Itu lagu kesukaan dia.” Ujarnya

Chris mengangkat alisnya. “Kesukaan Adi?”

Ibu itu menggeleng lemah. Ia duduk di kursi sebelah Chris.

“Adik ibu. Itu dulu lagu kesukaannya”

“Oh.., dulu?” Tanya Chris

“Iya. Sekarang orangnya sudah tiada”

“Maaf jika lancang bu. Apakah adik ibu meninggal karena sakit?”

Ibu itu tampak kaget dengan pertanyaan Chris.

Suasana hening sesaat.

Suara pintu terbuka. Adi keluar dari kamar mandi.

Ia tersenyum kepada Chris lalu berkata. Sesuatu yang Chris tunggu.

“Bukan dok. Bibik meninggal bunuh diri”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here