Rumah Dinas (16)

0
40

Suhu ruangan itu 33 derajat. Ackman mendelik seraya menyeka dahinya yang berpeluh.

Matahari masih memancarkan sinar panasnya. Tanpa ada satupun awan yang berbaik hati menghalangi.

Ackman membatin mungkinkah awan itu menguap karena saking panasnya.

Pantas orang-orang menjadi beringas. Suhu seperti ini. Batin Ackman.

Baru saja ada seorang laki-laki masuk IGD dengan luka tembak.

Bukan hal baru disini.

Mulanya Ackman merasa jeri. Dia seumur-umur belum pernah melihat korban luka tembak secara langsung.

Senjata api saja ia belum pernah memegangnya.

Namun lama kelamaan ia menjadi terbiasa.

Bahkan ia tidak merasa Mesuji seseram yang orang katakan.

Meski lokasi tempat Ackman bekerja sendiri memang menciutkan nyali.

Berada di tengah-tengah perkebunan sawit luas. Rumah sakit itu bagaikan muncul begitu saja di tengah ketidakberadaan.

Beberapa pegawai mengatakan lokasi sekitar akan dibangun komplek perkantoran, bahkan perumahan. Nantinya.

Entah kapan nanti itu akan datang. Ackman tidak terlalu peduli. Ia hanya setahun disini. Dan apa yang terjadi berikutnya, bukan menjadi tanggung jawab Ackman.

Setidaknya itulah yang ada dalam benaknya.

Bagi Ackman sendiri, setelah hampir 2 bulan tinggal.

Disini cukup aman – well.. selama kita tahu apa yang kita kerjakan.

Bepergian pada pagi atau siang hari dan menggunakan kendaraan roda empat.

Selama ini Ackman belum mendapat gangguan berarti. Ia tidak berniat keluar dari pakem itu.

Ackman tidak bersusah payah sekolah hanya untuk tertembak begal.

Ackman membuka pintu kamarnya dan menyalakan pendingin ruangan.

Keranjang cuciannya sudah kosong. Pembantunya sudah membersihkannya.

Tidak sulit mengeringkan pakaian disini. Bahkan tidak perlu repot-repot menggunakan pengering.

Cukup ditaruh di halaman rumah saja kering dalam 3 jam.

Ackman suatu kali menegur pembantunya yang menjemur pakaiannya seharian.

Sontak warnanya memudar.

Sejak itu Ackman membeli jemuran lipat. Yang diletakkannya di dekat dapur.

Hampir segalanya kering dalam 6 jam. Kalau ada hal yang Ackman sukai dari Mesuji, mungkin itulah salah satunya.

Kamar tidurnya masih berantakan seperti saat ia tinggalkan. Ackman berbaring di atas kasur. Pikirannya menerawang.

Ini hari Rabu. Dua hari lagi artinya ia sudah akan menuju rumah sakit itu.

Apa yang Antok katakan tempo hari?

Ackman coba mengingat.

Uang duduk. Itu dia.

Antok, seorang rekannya menyarankan Ackman agar melakukan negosiasi uang duduk di rumah sakit itu.

Masuk akal, pikir Ackman. Ia butuh semacam jaminan penghasilan.

Bagaimanapun lokasinya jauh.

Dan berisiko. Lahir maupun batin.

Ackman sudah menghubungi staf rumah sakit. Ah.. siapa namanya. Ackman lupa – ia buruk dalam mengingat nama.

Pastinya, rumah sakit itu sepertinya akan dengan senang hati membahas.

Mereka benar-benar butuh.

Jauh di lubuk hatinya. Ackman merasa kasihan. Dengan penduduk Mesuji maupun Tugumulyo. Kasihan dengan anak-anak mereka.

Memang mereka tidak bisa membayar mahal jasa Ackman.

Jumlah pasien juga belum banyak. Ackman bahkan belum menerima jasa medis selama disini.

Namun apakah segala sesuatunya harus diukur dengan uang?

Jika memang tidak harus karena uang. Lalu karena apa?

Tempat ini tidak membangkitkan passion-nya sama sekali.

Tipikal big city guy, begitu seorang kawannya pernah berkata.

Ackman menyukai fotografi dan sepakbola. Namun tak ada satupun disini hal yang dekat dengan keduanya.

Ia menarik napas panjang. Sepeninggal ia nanti, siapa yang mau datang kemari?

Terbayang kembali olehnya raut bangga sang direktur saat berhasil mendapatkan jasa Ackman.

Seolah mendapat durian runtuh.

Kalau ada satu hal yang dibenci Ackman, maka itu adalah mengecewakan orang lain.

Ia sendiri tidak keberatan tinggal selama 2-3 tahun lagi.

Bagaimanapun ia bisa jauh lebih bermanfaat disini.

Seminggu sekali pergi ke Tugumulyo. Mungkin suatu hari dia akan mengajak sopir. Jadi Ackman bisa beristirahat di sepanjang perjalanan.

Satu-satunya yang mengganjal di hati Ackman adalah keluarganya.

Apakah anaknya akan mendapat pendidikan yang baik disini?

Dimana mereka akan tinggal?

Ia bisa tahan hidup menderita seorang diri. Namun ia tidak ingin keluarganya mendapat kesulitan.

Ackman sudah menutup matanya saat ia memikirkan siapa kelak penggantinya disini. Ia berharap seorang yang baik. Dan mau bekerja. Setidaknya dengan begitu Ackman tidak merasa berat meninggalkan tempat ini.

Ia tertidur.

Langit jingga menutup hari itu. Beberapa awan hujan terlihat bergerombol.

Angin darat mulai berembus menerbangkan debu di jalanan.

Beberapa burung kecil berterbangan.

Suasana hening. Sesekali terdengar suara raungan motor. Kemudian hening kembali.

Ackman baru saja pulang dari masjid. Ia sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit.

Rumah dinasnya persis di ujung koridor.

Rumah sakit ini besar. Dan baru. Petang itu tidak banyak aktivitas disana. Seorang portir tampak mengantarkan pasien ke bangsal.

Di belakangnya ada 2-3 orang mengikuti. Seseorang membawa termos dan dua lainnya menjinjing berplastik-plastik bungkusan.

Beberapa lampu koridor mati.

Ackman memicingkan matanya saat melewati daerah gelap. Ia lupa memakai kacamata.

Ruangan di sebelah kirinya adalah sebuah gudang. Ada beberapa mobil parkir di dekat gudang.

Seorang pria tampak berjongkok di sebelah mobil sambil merokok.

Beberapa pohon tanjung kecil disangga kayu di pinggiran koridor. Satu-dua diantaranya meranggas karena kekeringan.

Tidak banyak pohon peneduh disini. Itu kenapa suhu terasa makin panas.

Ackman teringat saat ia berdinas luar dengan Chris di rumah sakit Kayuagung. Hampir kebalikan dari rumah sakit ini.

Disana pohon besar berada dimana-mana.

Bahkan ada beberapa puluh hektar lahan kebun karet di belakang komplek rumah sakit.

Terlalu rimbun. Batin Ackman. Dan jelas minim penerangan saat malam.

Ia tidak menyukainya.

Tapi setidaknya. Disana ia tidak merasa tercekam. Mungkin karena ada Chris saat itu.

Si edan itu. Dengus Ackman.

Ia bahkan berani kelayapan dalam kegelapan di rumah sakit Kayuagung.

Ackman sendiri lebih memilih mengendarai mobilnya daripada berjalan kaki.

Ackman bukan takut hantu. Namun disana kadang ada ular, atau kalajengking di koridor rumah sakit malam hari.

Melengkapi koleksi hewan selain dari monyet yang memang menghuni kebun karet.

Setiap tempat punya cerita.

Suara keramaian di ujung koridor mengagetkan Ackman.

Sayup-sayup ia mendengar suara orang menangis.

Beberapa orang berjalan menuju tempat itu.

Seorang satpam berlari terburu-buru. Nampaknya ada kericuhan di ruangan IGD, batin Ackman.

Sesuatu menggerakkan kakinya mendekat.

Sepertinya buruk. Batin Ackman.

Semakin banyak orang berkerumun di depan IGD. Beberapa ibu-ibu menutup mulut dengan tangannya.

Seorang lainnya menangis sesenggukan.

Seorang wanita paruh baya pingsan dan langsung dibopong beberapa orang lelaki.

Seorang perawat berteriak di depan pintu IGD. Sementara seorang satpam lainnya berlari menuju mereka.

Suasana khas IGD.

Ackman tidak dapat melihat jelas apa yang terjadi.

Terlalu banyak orang menutup pandangannya. Dan ia tak berkacamata.

Kerlap-kerlip lampu merah dan biru mengagetkan Ackman.

Lampu sirine polisi.

Kasus kriminalkah? Ia bertanya-tanya.

Ackman mencoba mencuri dengar percakapan beberapa orang.

Bukan kriminal.

Kasus gantung diri

Kabut.

Kabut dimana-mana.

Ia bahkan sulit melihat tangannya sendiri.

Apakah ini pagi atau petang. Ia tak tahu pasti.

Ia melihat lengannya. Kemana jam tangannya?

“Halo” suaranya tercekat.

Ada sedikit suara gema terdengar.

Dimana ini?

Denyut jantungnya berdegup kencang. Tempat itu dingin. Mungkin 16 derajat.

Tidak. Ini lebih dingin lagi.

Benaknya panik membayangkan kemungkinan yang bakal terjadi. Ia tersesat, dan tidak ditemukan.

Siapa yang tahu kepergiannya?

Siapa yang akan mencarinya?

Saku celananya kosong. Tidak ada ponsel. Tidak ada dompet.

Bulir keringat membasahi dahinya. Napasnya memburu.

Ia mengumpat.

Sesaat kemudian matanya terpejam. Tenang.. tenangkan diri. Semua baik- baik saja. Kita aman.

Ia mengatur napasnya panjang dan lambat. Melawan naluri.

Ingat bagaimana kamu diajarkan. Kata-kata itu terngiang-ngiang di benaknya.

Pikirannya berpikir keras. Mengapa ia berada disini. Dimana ini.

Tak ada yang ia ingat.

Matanya membuka perlahan.

Masih kabut. Sepanjang mata memandang.

Cahaya temaram ini.

Ia melangkahkan kakinya.

Tampaknya pijakan kakinya cukup keras. Dan lembab.

Tempat ini rata. Dan amat lapang. Seperti sebuah lapangan.

Ia mencoba melangkah.

Tidak ada suara yang ditimbulkannya.

Sepertinya aman. Pikirnya.

Ia mencoba mencari petunjuk.

Tidak ada bau-bauan yang tercium.

Telinganya tidak menangkap suara lain selain suara napasnya.

Ia berbalik dengan perlahan.

Sudut matanya melihat sesuatu.

Ada cahaya.

Agaknya tidak jauh. Cahaya itu seperti berpendar. Mungkin sebuah api?

Langkah kakinya masih tak bersuara. Ia melangkah dengan bertumpu di satu kaki.

Tak yakin apakah yang diinjaknya suatu yang keras atau membuatnya terjerembab.

Setelah 8-10 langkah. Tak ada yang berbeda. Semua ini rata.

Ia mempercepat langkah kakinya.

Sumber cahaya itu meredup. Kemudian kembali berpendar.

Tampaknya memang api.

Ia tak yakin sudah berjalan berapa jauh.

Mungkin 200-300 meter. Sekitarnya hanya ada kabut. Dan cahaya itu yang semakin tampak jelas.

Ia tak yakin dengan apa yang dilakukannya. Tapi tidak ada petunjuk lain.

Setidaknya ia harus tahu, apa itu.

Langkahnya melambat saat perlahan cahaya membuka tabir yang tersembunyi dalam kabut.

Ada bayangan tinggi hitam disana.

Bayangan itu bercabang di beberapa tempat.

Sebuah pohon? Batinnya.

Cahaya yang ia lihat ada di bawah bayangan itu. Tak lebih tinggi dari lututnya.

Ia berhenti sejenak. Menatap sekeliling dan belakangnya.

Masih sama. Kabut.

Badannya sedikit membungkuk ke depan. Tangan kanannya mengepal.

Siaga.

Bayangan itu semakin membesar. Sebuah obor terlihat di balik sebuah pohon.

Itulah bayangan yang ia lihat.

Badannya semakin membungkuk.

Ia merasakan kehadiran sesuatu di balik pohon.

Ada bayangan yang bergoyang.

Tidak ada angin berhembus.

Bukan dahan pohon. Batinnya.

Dalam 2 lompatan ia sudah berada di balik pohon. Ukuran kelilingnya besar. Sekitar 2 rentang tangan dewasa.

Napasnya tertahan.

Ia menajamkan telinganya.

Apa itu.

Suara yang ia dengar.

Seperti suara denting.

Nyaris tak terdengar. Namun ada.

Ia nyaris berkata sesuatu namun diurungkannya.

Ia tidak tahu ada apa di balik itu.

Tengkuknya terasa dingin.

Apapun itu. Ia harus hadapi. Ia tak mau selamanya berada disini.

Ia menegakkan badannya sejajar pohon. Batangnya yang kasar dan lembab membuat tubuhnya basah.

Dalam hati ia menghitung.

1

2

..

3

Ia melompat ke depan obor itu.

Napasnya tertahan.

Tinjunya terkulai.

Matanya tak mempercayai yang ia lihat.

Ada seseorang di balik pohon.

Kakinya menjulur kaku. Tidak ada gerakan. Hanya terombang-ambing sesekali.

Orang itu tergantung.

Ia tidak dapat melihat wajahnya.

Terlalu jauh. Cahaya obor tak menjangkaunya.

Isi perutnya terasa diaduk.

Tangannya meraih obor itu. Dan diangkatnya perlahan.

Sesosok itu. Nampaknya familiar.

Ia mengenali pakaian yang dikenakan.

Benaknya mencegah untuk mengangkat obor lebih tinggi.

Tapi ia harus tahu pasti.

Obor diangkat.

Orang itu mati. Tergantung 50 centimeter di atas tanah.

Ia menelan ludahnya.

Ia kenal wajah itu.

Matanya terpejam. Sepucat mayat.

Suara itu makin terdengar jelas. Tik..tak..tik..tak..

Suara tali gantungan yang bergesekan.

Itu mayat Chris yang mati tergantung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here