Rumah Dinas (15)

0
48

Gerimis menutup malam itu, saat Chris keluar dari ruang perawatan.

Ia memijat tengkuknya yang kaku.

Jam tangannya menunjukkan pukul 04.15. Chris berjalan gontai menuju musola rumah sakit.

Seorang perawat berjalan membawa sebotol infus. Perempuan itu mengaguk kecil pada Chris lalu memasuki kamar pasien.

Berapa lama Chris tertidur? Mungkin hanya 3 atau 4 jam seingatnya.

Ia sempat menengok ke arah Adi sebelum keluar ruangan.

Laki-laki itu masih terbaring di tempat tidur. Kedua tangan dan kakinya terikat di keempat sisi ranjangnya.

Ibunya terlelap di sebelah Adi.

Chris memandang ke arah lengan kanannya. Ada sebuah lebam disana.

Ia menahan Adi dengan lengan itu.

Butuh 5-6 orang dewasa untuk bisa memegangi.

Dan butuh 20 miligram Diazepam sebelum akhirnya Adi tenang.

Chris memandang lengannya. Ia beruntung Adi tidak menggigitnya.

Chris menghela napas panjang. Dalam hati ia merasa sedikit bersalah.

Karena sudah menyangkanya sebagai penipu – meski sebenarnya Chris belum mengatakan apapun.

Hal itu juga yang mengganggunya semalaman.

Chris belum pernah bercerita kepada siapapun mengenai mimpinya tentang lagu itu.

Termasuk kepada Adi.

Lalu mengapa Adi “meminta” secara spesifik agar Chris hadir kemarin sore?

Chris sudah menanyakan kronologis hal itu langsung kepada ibu Adi.

Pada siang hari kemarin, Adi memang tampak murung.

Tak seperti biasanya Adi pulang cepat.

Ibunya sempat mengira Adi kurang sehat. Dan membuatkannya segelas teh manis.

Adi hanya terdiam. Namun ia beberapa kali menyuruh ibunya agar memanggil Chris datang.

Ibu itu mengaku bingung dengan permintaan anaknya. Ia kemudian membaringkan Adi di atas tempat tidur.

Badannya teraba panas.

Ibu itu mengira Adi mengigau karena demam.

Adi sempat menggumankan kata-kata yang ibu tidak mengerti.

Satu jam kemudian Adi mulai berteriak-teriak.

Membuat seisi rumah ketakutan.

Chris menanyakan apa yang Adi katakan saat itu. Namun ibu itu menangis sambil menggelengkan kepalanya.

Chris tidak mau mengganggunya lebih lanjut.

Namun kini banyak pertanyaan berkelebat di benak Chris.

Mengapa Adi mengalami histeria di saat yang hampir sama dengan Chris memasuki ruangan itu.

Dan mengapa Adi menyanyikan lagu itu?

Setelah ia, well…. – Chris enggan menggunakan istilah itu – …. kesurupan.

Bulu kuduk Chris merinding bila mengingatnya.

Kebetulankah?

Sungguh aneh bila hanya kebetulan.

Ada jutaan lagu di dunia ini. Dan mungkin ada ratusan kemungkinan yang dikatakan seorang yang “kesurupan”. Janggal memang.

Dari yang Chris tahu. Seorang yang mengalami histeria – Chris lebih suka menyebutnya demikian – akan cenderung lebih suka menggunakan bahasa ibu-nya.

Beberapa menggunakan bahasa daerah. Atau bahkan suara binatang. Semisal pada kasus histeria “pamacan” di daerah Pasundan.

Setahu Chris, Adi bukan orang yang fasih berbahasa Inggris.

Entahlah. Chris belum pernah mengalaminya sendiri.

Chris belum dapat memikirkannya. Kepalanya sakit. Ia butuh 2 butir ibuprofen dan secangkir kopi. Dan tidur, jika ia beruntung.

Suara adzan subuh menggema saat Chris sampai di musola itu.

Jaraknya ke bangsal perawatan Adi hanya sekitar 50 meter.

Chris baru saja akan mengambil wudhu saat sudut matanya menangkap sesosok pria.

Pria itu tinggi kurus berpakaian gelap. Keluar dari bangsal perawatan Adi.

Rasanya Chris mengenal pria itu. Namun ia tidak melihatnya di rumah Adi kemarin sore. Juga orang itu tidak ada semalam.

Waktu yang janggal untuk berkunjung. Batin Chris. Mungkin keluarga Adi.

Air dingin dari keran mengagetkan Chris.

Ia menyegerakan wudhunya.

Pagi itu matahari bersinar cerah.

Chris berdiri di parkiran motor. Ia mengeluarkan jas hujan dari bawah jok.

Basah sebasah-basahnya.

Chris menggantung jasnya di kemudi motor.

Kemudian mengambil helmnya.

Chris menggerutu seraya mengeluarkan air dari helm yang sudah berubah fungsi menjadi ciduk air itu.

Ia meletakkannya terbuka agar terpapar terik matahari.

Panas Matahari menjadi barang mahal disini. Terutama di musim penghujan.

Ia sedang mengunci jok motor saat seseorang memanggilnya dari belakang.

Chris menoleh.

Rupanya Pak Alang.

Ia nampak gugup.

Chris hanya tersenyum. Ia bingung hendak mengatakan apa.

“Adi jadinya dirawat ya dok”

Chris mengiyakan. Ia menceritakan sedikit kisah pergulatan mereka untuk menahan Adi.

Bapak itu hanya mengangguk kecil.

“Saya dengar, sebelum kejadian, Adi memanggil dokter agar datang?”

Chris mengangkat alisnya. “Iya. Kenapa pak?”

Chris mengatakan ia dan Adi tak sempat bicara apa-apa. Saat Chris datang. Adi sudah dalam keadaan itu..

Lelaki itu terdiam sejenak.

Chris ingin menanyakan lebih jauh namun ia urungkan.

Bertanya frontal nampaknya bukan ide bagus untuk menghadapi orang seperti ini.

Ia tidak akan mendapat tambahan informasi.

Chris tersenyum. Ia lalu menceritakan betapa terguncangnya ibu Adi kemarin sore.

Mata pak Alang menatapnya.

Kantung matanya menebal. Chris mengamati. Berbeda dengan saat mereka bertemu beberapa hari lalu.

Berapa hari orang ini belum tidur?

Kedua jari tangannya tak berhenti bergerak.

Pria ini gelisah.

Dan jelas menyembunyikan sesuatu.

Chris melanjutkan menceritakan telepon dari Ibu Adi kepada Chris kemarin yang bernada panik. Chris bahkan menirukan sedikit suara ibu itu.

Oke. Sekarang umpan sudah dilepas. Batin Chris.

Hening sesaat sebelum Pak Alang menengok ke arah kanan dan kiri.

Sebulir peluh mengalir dari dahinya.

Chris melihat kedua pupil pria itu mengecil.

“Selalu waspada dok. Mereka ada dimana-mana.” Alang nyaris berbisik. Ia berkata sambil berjalan meninggalkan Chris.

Suara perawat itu membangunkan Chris.

Ia berkata sesuatu mengenai akan segera turun hujan.

Chris menegakkan badannya.

Rupanya ia tertidur di atas meja poliklinik. Kedua tangannya kini kesemutan.

Ia memandang jam tangannya. Hampir pukul 3 sore.

Ruangan itu tampak gelap. Chris melihat keluar jendela. Awan mendung yang menutupi langit tampak amat dekat. Seolah-olah siap menumpahkan isinya ke muka bumi.

Pasien terakhir sudah Chris selesaikan hampir 2,5 jam yang lalu.

Chris meluruskan kedua kakinya.

Di atas meja tampak secarik kertas dan tulisan Chris di atasnya.

Ia mengamati tulisannya. Ada 4 paragraf disana. Berisi runtutan kejadian sebelum kemarin.

Pertama gangguan yang Chris alami – meski Chris tidak yakin apakah itu bisa dikategorikan sebagai suatu gangguan – di rumah dinas.

Lalu kepergian mereka ke Kampung Empat. Dan pertemuan mereka dengan perempuan paruh baya di kaki gunung.

Ketiga yaitu mimpi Chris tentang lagu itu.

Keempat histeria Adi.

Ada yang kelima sekarang. Batin Chris. Perkataan Pak Alang.

Chris memutar-mutar kelas itu dengan malas. Ia belum menemukan hubungan antara kesemuanya. Ia menulis hal itu semata-mata karena reflek.

Chris terbiasa menganalisis dengan menuliskan hal-hal yang berhubungan dengannya di atas kertas. Apapun itu, laporan jaga pagi, laporan kasus, tesisnya.

Meski tidak menemukan apapun, menulis membuatnya merasa “sudah berbuat sesuatu”. Chris benci berpangku tangan.

Ia mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas kertas. Mungkinkah semuanya hanya kebetulan?

Lalu mengapa Adi bisa tahu lagu itu? Terlalu janggal bila disebut hanya kebetulan.

Pasti ada sesuatu. Benang merahnya.

Benang merah.

Chris mengingat-ingat. Siapa saja orang yang ia temui di kelima kejadian. Ia menulisnya dalam kertas itu.

Daftarnya pendek.

Tunggu dulu.

Orang yang datang dini hari tadi. Siapa dia?

Diakah orang yang dimaksud Alang? Atau jangan-jangan Alang lah orang yang datang dini hari tadi? Rasanya orang itu lebih tinggi dari Alang.

Kepalanya terasa pening. Ia sudah meminum ibuprofen 2 tablet tadi pagi.

Chris membereskan barang-barangnya.

Ia keluar ruangan sambil memandang langit. Mungkin ada waktu sejenak sebelum turun hujan.

Langkah kakinya tergesa-gesa. Ia menuju ruang perawatan.

Hanya ada tiga orang di ruang perawatan. Ibunya sedang menyuapi Adi saat Chris masuk. Seorang anak perempuan muda tertidur di kursi – adik Adi.

Ruang perawatan itu berupa sebuah kamar besar.

Ukurannya sekitar 5 x 6 meter. Berisi 1 pasien tiap kamar. Kamar mandi berada di dalam ruangan. Sebuah tempat tidur pasien. Satu set kursi. Televisi. Dan kulkas. Ada dua pintu disana. Satu pintu dari arah koridor, dan satu pintu keluar di ujung satunya menghadap ke tempat parkiran.

Laki-laki itu tampak segar. Raut mukanya sudah seperti yang biasa Chris lihat. Ia menyapa Chris.

Dokter yang merawat menyatakan Adi akan dipulangkan besok. Bahkan infusnya sudah akan dilepas sore ini, ibunya bercerita.

Chris tersenyum. Dia mengatakan akan mendoakan agar Adi tidak kambuh lagi. Ibunya tertawa.

Chris baru saja akan berpamitan keluar saat ia teringat sesuatu.

“Subuh tadi, siapa yang datang kemari?”

Adi dan ibunya saling berpandangan. Tidak ada orang jawab mereka.

Chris terdiam sejenak. Lalu tersenyum dan berjalan keluar ruangan.

Ia mengambil ponsel dari sakunya dan memfoto sesuatu.

Di pintu keluar. Ada jejak kaki berlumpur. Namun tidak ada jejak kaki masuk ke ruangan.

Orang itu disini. Guman Chris.

Apapun yang diinginkannya. Sepertinya bukan hal baik.

Tetes-tetes pertama air hujan mulai berjatuhan.

Chris mengenakan hoodie-nya. Lalu bergegas meninggalkan rumah sakit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here