Rumah Dinas (14)

0
58

Tidak banyak hal menarik di sisa minggu itu.
Hujan turun nyaris sepanjang waktu.

Chris menghitung hanya 6-8 jam dari sehari semalam yang tidak turun hujan.

Sisanya langit mendung dan jalanan becek.

Hal yang bagus. Jarang terjadi pemadaman listrik disini. Dalam hujan lebat sekalipun.
Frekuensi munculnya petir juga tidak sesering di Bogor. Tempat Chris menghabiskan masa kecilnya.

Di Bogor petir muncul hampir sama seringnya dengan air hujan yang turun.

Lampu seringkali padam.

Chris ingat masa-masa itu.
Belum ada telepon genggam. Tidak ada gadget.

Bila lampu padam. Ia, adik, serta kedua orangtuanya akan berkumpul di kamar.

Orangtuanya akan bercerita mengenai banyak hal – yang sebetulnya Chris sudah pernah dengar berulang kali – dan mereka berdua mendengarkan dengan patuh.
Petuah-petuah orang tuanya.
Kisah-kisah mengenai keluarga mereka.

Chris tersenyum mengenangnya.
Ia rindu saat-saat itu.

Masa kecil.
Saat kita tidak takut apapun.

Chris merasa, saat semakin menua, makin banyak hal yang menakutkan muncul.

Setiap harinya berita di televisi tak henti-hentinya menyebarkan rasa cemas.

Bisnis abad ke-21. Dengus Chris.

Berita tentang pembunuhan, perampokan, penganiayaan. Para politisi yang beradu argumentasi dengan sengit.

Grup Whatsapp saling mengirimkan pesan-pesan yang – katanya mengingatkan agar tetap waspada – namun entah berasal darimana.

Wall-wall di Facebook menebarkan berita kengerian modus operandi penipuan.

Semuanya memiliki satu tujuan: menyebarkan ketakutan. Kemudian memproklamirkan bahwa hanya kelompoknya lah satu-satunya yang bisa membebaskan kita dari prahara.

Ini membuat Chris jengah.

Ia bukan bocah ingusan yang mudah percaya begitu saja.
Rasa skeptisnya terhadap hampir segala sesuatu lah yang membuatnya bertahan hingga kini.

Seperti saat sempat beredar video hantu di rumah sakit tempatnya pendidikan.

Ruangan lantai 3 IGD yang sebetulnya berisi kamar-kamar untuk beristirahat para dokter konsultan mendadak sepi pada malam hari.

Dalam beberapa kesempatan jaga, hanya Chris seorang diri yang tidur di sana.
Dan ia tidak pernah ditakut-takuti oleh sosok apapun yang katanya berada disana.

Setengah berkelakar, Chris pernah bilang. Bagi residen, masih banyak hal yang lebih ditakuti dari sekedar cerita hantu.

Suatu kali Chris juga sempat mematikan hampir seluruh notifikasi di ponselnya. Menyisakan hanya beberapa kontak penting.
Tapi rasanya sama saja.
Mungkin ia sudah terlalu terbiasa hidup seperti itu.

Itu mengapa ia menyukai petualangan kecilnya di kota ini. Di lokasi terpencil. Jauh dari hiruk pikuk kota.
Tempat dimana penduduk desa menatap ke arah Chris si pendatang dengan tatapan antusias – alih-alih tatapan penuh kecurigaan sebagaimana lazimnya penduduk perkotaan.


Tempat dimana Chris bisa bebas bicara tanpa harus ditanya pandangan politiknya berada di golongan mana.
Tempat alam masih berbentuk sama seperti aslinya. Yang nyaris tak terjamah manusia.
Dan tempat dimana manusia masih bersifat sebagaimana mestinya. Yang nyaris tak terjamah teknologi.


Tempat Chris bisa hidup bebas.
Sebuah tempat pelarian.
Semuanya sempurna.
Yeah, kecuali satu faktor itu..

Chris mencoba mengingat percakapan ia dengan Adi beberapa waktu lalu.

Ada hal baru yang Chris tahu hari itu – meski sebetulnya Chris tidak terlalu terkejut – mengenai “kemampuan” Adi.

Mengenai kemampuannya melihat yang tak terlihat.
Saat itu Chris berusaha sekuat tenaga untuk tidak menguap.
Ia terus terang tidak tertarik mendengar hal semacam itu.

Bukannya Chris tidak mempercayai hal gaib. Namun faktanya hingga kini tidak ada seorangpun yang bisa meyakinkan Chris mengenai kemampuan-kemampuan supranatural macam itu benar adanya.

Dan Adi bukan orang pertama yang mengaku serupa kepada Chris.

Chris sudah berulang kali masuk ke Lawang Sewu. Namun tidak pernah melihat satupun seperti yang diucapkan orang-orang.

Insiden di Kendal pun Chris anggap hanya sebagai fenomena medis bernama sleep paralysis. Ia lelah saat itu. Fisik dan mental. Tidur dalam posisi terlentang. Semua cocok dengan gambaran di jurnal-jurnal ilmiah.

Chris bahkan mengalaminya lagi 1-2 kali setelahnya. Dan tidak pernah lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.

Berbeda dengan pengakuan orang-orang seperti Adi. Yang Chris anggap tidak ada dasar ilmiahnya.

Fenomena anak dengan kemampuan ekstra – biasa disebut anak Indigo – sudah lama malang melintang di dunia. Dimulai sejak pertengahan tahun 1970-an.


Kisah-kisah mengenai kemampuan luarbiasa dari anak-anak – yang biasanya dianggap sebagai anak aneh – kemudian bermunculan dari seluruh penjuru dunia.


Tidak pernah ada kriteria pasti mengenai Indigo, sepanjang yang Chris ketahui. Namun seringkali dikaitkan dengan kemampuan penginderaan yang luarbiasa, atau IQ tinggi, atau kemampuan membaca hal-hal yang terkait metafisika.
Kesimpulan yang pernah Chris baca dalam sebuah laporan ilmiah. Klaim Indigo ini seringkali merupakan upaya orangtua atau keluarga si anak dalam menutupi gejala ganggguan perilaku – biasanya berupa Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) – atau bisa juga lainnya.
Pemberian label sebagai Indigo oleh beberapa orang dianggap masih lebih “wajar” ketimbang “gangguan perilaku”.


Maka permasalahan terkait anak Indigo ini hingga kini diklasifikasikan oleh para ilmuwan sebagai pseudo-sains.
Meski demikian, hal yang pseudo-sains semacam ini masih mendapat tempat di masyarakat.

Tidak hanya di Indonesia. Namun juga di negara maju lain.

Chris bahkan pernah membaca seorang ibu yang mengaku terlahir Indigo dan memiliki seorang anak yang juga diklaimnya Indigo. Hingga kini mereka masih aktif memberikan semacam pengobatan alternatif di Amerika Utara.

Chris tidak serta merta membantah Adi. Chris hanya mendengarkan.

Tidak banyak informasi yang benar-benar baru dari Adi. Kecuali mengenai keberadaan suatu ruangan.

Menurut gambaran Adi, perempuan itu mirip dengan sosok wanita Jepang.

Lokasi utama dari perempuan itu adalah sebuah ruangan di sebelah timur rumah dinas.

Terhubung melalui sebuah pintu di rumah dinas.

Masih menurut Adi, ada sebuah ruangan di balik pintu.
Di sebelah timur ruangan itu akan ada tangga menuju lantai bawah.

Adi berhenti bercerita disitu.

Chris tidak tahu harus menanggapi apa.

Ia belum pernah memasuki ruangan lain selain dari ruangan yang ditidurinya, dapur, dan kamar mandi.
Memang ada tiga kamar lain.

Chris tidak tahu kamar yang mana.

….

Waktu menunjukkan pukul 15.00 saat Chris beranjak meninggalkan rumah sakit.
Jam dinasnya sebetulnya sampai pukul 16.00. Namun pendaftaran sudah tutup sejak 1 jam yang lalu.
Pun tidak ada lagi yang bisa dikerjakannya.

Awan mendung masih setia menggelayut di langit.
Sama seperti hari kemarin, dan kemarinnya, dan kemarinnya, dan …

Chris berdiri di parkiran.
Hanya ada beberapa kendaraan terparkir disana. Kebanyakan milik karyawan.

Ia memandang motornya. Sebuah motor bebek keluaran tahun 2006. Berwarna merah – kini sudah pudar di beberapa bagian – dan kelir hitam.
Pandangan matanya menelisik. Ada celah yang menurut Chris terlalu lebar di dekat speedometer.
Chris meraba permukaan speedometer itu. Terlalu mulus untuk motor setua ini. Sementara bagian lainnya sudah tampak lebih tua. Speedometer itu baru.

Angkanya berhenti di 46.233 km. Janggal untuk motor berusia 12 tahun. Chris memeriksa tali speedometer. Hilang.
Spion kanannya hilang hingga ke dasar. Namun tidak ada bekas patahan di bagian lain.
Speedometer ini diganti. Karena suatu alasan.

Chris menghela napas.
Ia dapat menyimpulkan sekarang. Motor ini pernah mengalami kecelakaan hebat.

Chris berusaha untuk tidak rewel. Setidaknya ia pribadi berusaha menerima apapun keadaan saat ini. Ia kadang membatin, mungkin justru karena ia tidak pernah rewel. Maka ia hanya diberi “bagian pinggiran” saja.

Setahun. Batin Chris.
Hanya setahun. Lalu ia bebas pergi dari sini.
Tak lama motor merah itu sudah meninggalkan rumah sakit.

Langit semakin gelap saat Chris membuka pintu rumah.
Suara angin bertiup terdengar makin kencang.

Jika mati lampu. Guman Chris. Ia akan segera mengungsi ke rumah sakit.
Rencana itu sebetulnya sudah ada sejak hari pertama Chris tinggal.

Beruntung bagi Chris. Listrik hanya pernah mati satu kali. Itupun terjadi pada jam kerja.
Dalam hati Chris memuji kinerja PLN di kota ini.
Setidaknya mereka membuat Chris tidak bertambah menderita.

Wangi obat pel menyerbak dari ruang dapur. Ruangan itu tampak rapi. Pembantunya datang hari ini.

Chris memeriksa pompa air. Saklarnya dalam keadaan mati.
Ia kemudian menyalakan lampu dapur dan lampu halaman.
Langkah kakinya tertahan saat melewati ruangan tengah.

Pintu penghubung.
Ia teringat kata-kata Adi.
Chris mengambil sebuah sandal jepit lalu berjalan menuju ruangan di samping dapur.

Ruangan itu merupakan ruangan yang lebih baru dibandingkan bangunan lain. Dipisahkan oleh sebuah pintu. Chris memutar kuncinya. Terasa berat. Sudah lama tidak pernah dibuka.

Mungkin berkarat hingga bagian dalamnya.
Suara kayu bergesek dengan lantai menggema di ruangan saat Chris membuka pintu.

Chris menoleh ke dalam. Ia menyalakan lampu ruangan itu. Nyaris semuanya berdebu. Kecuali lampu yang baru Chris nyalakan.
Ruangan itu berukuran 4x 6 meter. Dindingnya bercat hijau muda. Di beberapa tempat catnya terkelupas, dan beberapa sisi berjamur.

Chris mendengus. Tak butuh waktu lama sebelum alerginya kumat. Ia menutup hidung dengan pakaiannya.

Lantai ruangan ini lebih rendah dari lantai dapur. Ada sebuah undakan kecil untuk turun. Chris memandang sekelilingnya. Ada sebuah ruangan kecil dengan pintu yang sudah rusak.
Sebuah kamar mandi. Guman Chris.

Chris masuk dan berkeliling ruangan. Tidak ada satupun barang di ruangan itu.

Kosong.

Ada sebuah pintu menghadap ke utara. Chris mengintip melalui lubang kunci. Hanya tampak semak belukar. Di ujung terdapat sebuah tembok yang sudah berumut.

Chris berjalan menuju sisi timur ruangan.
Tidak ada pintu, ataupun jendela. Atau sesuatu yang menyerupai itu.

Ia mengetuk dindingnya.
Padat. Seluruhnya padat.
Apapun pintu yang dimaksud Adi. Tidak mungkin berada di ruangan ini.

Chris menaiki undakan tadi dan menutup pintu. Suara gesekan tadi kembali terdengar.
Hujan. Guman Chris. Musim penghujan membuat kayu memuai. Sehingga celah antara pintu dan lantai menyempit.

Ruangan tengah rumah dinas mirip sebuah koridor. Menghubungkan antara 3 ruangan. Dua kamar dan satu ruang tamu.
Chris tidur di kamar paling depan.

Chris sempat ragu sejenak. Sebelum ia melangkah menuju pintu terdekat.
Kunci pintu tergantung. Chris memutarnya. Tidak seberat pintu belakang. Chris mendorong pintunya.

Ia menahan napas.
Ruangan itu gelap. Dan berdebu.

Chris mencari saklar lampu. Lampunya remang-remang. Ruangan itu lebih kecil. Paling kecil dari ruangan lainnya.
Ukurannya sekitar 3 x 4 meter. Tidak ada jendela maupun pintu lain. Ada sebuah ranjang di ruangan itu. Ranjang ukuran kecil terbuat dari kayu. Seluruh permukaannya berdebu. Tidak ada kasur di atasnya.

Chris menyalakan lampu senter dari ponselnya. Ia menyusuri sisi timur ruangan.
Tidak ada apapun.
Ia mengetuk dindingnya. Padat.
Tidak mungkin ada sesuatu di balik dinding padat ini.

Dalam hati Chris merasa bodoh.
Mengapa ia maumaunya memeriksa ini.
Chris menutup pintu ruangan dan bergegas keluar.
Ia baru saja hendak mandi saat sudut matanya melihat pintu kamar tengah.

Pintu terakhir. Sudah terlanjur. Batin Chris.
Ia mencari saklar lampu ruangan tengah dan menyalakannya.
Pintu itu serupa dengan pintu kamar Chris. Tidak ada kunci. Chris mendorong pintunya. Terasa berat. Suara gesekan pintu dan lantai terdengar bergema di dalam ruangan.

Chris menutup hidungnya. Berdebu. Bau tikus tercium dari dalam ruangan. Ada banyak tumpukan kardus di tengah ruangan. Chris menyalakan lampu ruangan.

Lampu temaram berwarna kuning menyala.
Chris memicingkan matanya. Ia memandang tumpukan kardus. Sepertinya berisi barang milik rumah sakit. Niatnya membuka salah satu kardus itu terhalang debu tebal di atasnya.

Batuknya akan kumat. Ia mengingat-ingat.
Pandangan mata Chris menyusuri ruangan. Kamar ini luas. Paling luas. Ukurannya paling tidak 6 x 8 meter. Lantainya yang berkeramik putih tertutup debu dan potongan kertas.

Sisi barat dan utara dari kamar itu berupa tembok padat.
Chris melangkah ragu.

Ia menoleh ke sisi timur.
Temboknya tampak mengalami retakan di beberapa sisi. Cat tembok yang memudar ditumbuhi jamur di beberapa tempat. Tidak ada cahaya matahari yang tembus ke dalam ruangan itu.

Chris menelan ludah.
Di balik sebuah kardus ia melihatnya. Ada celah kecil. Nyaris tak terlihat.

Chris melangkah mendekat.
Ia mengetuk dinding itu.
Padat.
Padat.
“Tok…tok..”

Napasnya tertahan.
Bagian ini kosong di sisi lain.

Sebuah pintu.

Chris melangkah mundur.
Ia mendorong tumpukan kardus di depannya. Suara bergemetelak terdengar saat Chris mendorong kardus itu.

Chris mendengkis. Debunya terbang kemana-mana.
Ia terbatukbatuk.
Pintu itu tidak memiliki gagang. Atau setidaknya dulu pernah ada.

Seseorang melepasnya.
Chris perlahan mendekat pintu itu. Suara gemuruh guntur terdengar dari kejauhan.

Ia sedang mencari cara membukanya saat sesuatu mengagetkannya.
Wajah Chris sepucat kertas.
Suara keras mendadak muncul dari keheningan….

Chris menutup matanya. Itu suara ponselnya. Seseorang menelpon.
Ia menarik napas lega.

Chris mengambil ponsel itu dari sakunya.
Rupanya dari Adi.
Chris mengangkat telepon itu. “Halo”

Suara itu bukan suara Adi. Seorang perempuan. Terdengar panik.
Chris tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dan segera menutup pintunya.

“Bagaimana bu?”
Tampaknya itu suara ibu Adi. Ia mengatakan sesuatu tentang meminta Chris datang ke rumah.

Ia tidak memahami persis kata-kata ibu itu. Sesuatu terjadi pada Adi. Dan ibunya meminta datang.

Chris merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. Bagaikan menelan sebongkah batu es.
Ia mengambil kunci motor, jaket dan segera berjalan keluar.

Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Chris tiba.
Di depan rumah Adi berkumpul beberapa orang. Mereka tampak cemas.

Awan mendung sesekali menampakkan kilat.
Chris sudah merasa ini akan buruk.
Namun ia tidak pernah mengira kalau akan seburuk itu.

Ia memasuki rumah Adi.
Adi ada disana. Tubuhnya duduk di lantai dalam postur yang janggal. Kepalanya menunduk.
Seorang ibu menangis di sebelahnya. Sementara seorang laki-laki tua memegangi ibu itu.

“Saya disini. Ini saya, Chris” seru Chris. Suaranya serak.
Adi menengadahkan kepalanya.
Ruangan mendadak hening.
Angin kencang berembus.
Hujan mulai turun.

Wajah Adi menunjukkan mimik yang aneh.
Ia menelengkan wajahnya seraya menatap Chris.
Tatapan matanya membuat Chris bergidik.
Ia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu yang takkan pernah Chris lupakan..

“Blue, blue, my world is blue
Blue is my world now I’m without you
Gray, gray, my life is gray
Cold is my heart since you went away”

Suara itu bukan suara Adi..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here