Rumah Dinas (13)

0
44

“Lagu Love is Blue. Oleh Paul Mauriat”
Kepala Chris masih terngiang-ngiang lagu itu.

Chris memiliki memori yang cukup baik. Setidaknya itu yang ia pikir. Kadang malah terlalu baik.

Masalahnya sebagian memori dalam dirinya tidak menyenangkan.
Dalam beberapa kesempatan benaknya mengalami flash back kilasan kejadian masa lalunya.

Mimpi tak menyenangkan itu seringkali muncul, terutama bila Chris tak sengaja – atau kadang sengaja – tertidur selepas subuh.

Penjelasan satu-satunya yang bisa Chris temukan.

Pada jam-jam itu, fase tidur kadang hanya mencapai keadaan hypnogogic (keadaan menjelang seseorang mulai tertidur).
Belum mencapai fase REM.

Berbeda dengan yang kebanyakan orang percayai, bahwa mimpi muncul pada fase REM. Para peneliti menemukan bahwa mimpi juga dapat muncul pada fase hypnogogic.
Bahkan pada fase hypnopompic (fase menjelang seseorang terbangun dari tidur).

Dalam kasus Chris, mimpi hypnogogic-nya meneror.
Itu mengapa Chris membenci tertidur paska subuh.

Perasaan yang ditimbulkan mimpi-mimpi itu kadang luar biasa kuatnya. Sehingga kadang dianggap Chris sebagai realita.

Pada beberapa kasus. Chris butuh beberapa saat hingga beberapa hari lamanya hingga Chris bisa terlepas dari perasaan yang dibawanya.

Sialnya, kali ini Chris tertidur.
Tidak ada mimpi buruk, tidak ada lucid dreaming (pengalaman terlepas dari tubuh dan mengamati diri kita dari luar tubuh), atau realita yang terbalik.

Hanya lagu itu.

Blue, blue, my world is blue
Blue is my world now I’m without you
Gray, gray, my life is gray
Cold is my heart since you went away
Red, red, my eyes are red
Crying for you alone in my bed
Green, green, my jealous heart
I doubted you and now we’re apart
When we met how the bright sun shone
Then love died, now the rainbow is gone
Black, black, the nights I’ve known
Longing for you so lost and alone

Chris tertegun seraya menyeduh kopinya.

Ia tidak begitu menggemari Paul Mauriat.
Bahkan lagu itu nyaris tak pernah ada dalam daftar lagu Chris.

Chris mencoba mengabaikannya.
Hanya kembang tidur. Tidak perlu segalanya harus ada maknanya.

Kalaupun ada, apakah harus semua hal dipikirkannya?

Chris memandang dapur rumah. Tidak ada bekas apapun dari suara kemarin sore.

Tidak ada jejak tikus.
Wajan dan panci berjejer rapi di dalam lemari.

Tidak perlu repot-repot menanyakan ke rumah tetangga. Sebab, Chris tidak memiliki tetangga sebelah rumah.

Rumah berpenghuni terdekat jaraknya sekitar 20 meter. Mustahil terdengar suara orang memasak dari jarak sejauh itu.

Chris mengangkat ceret air dan memasukkan sisa air panas ke dalam termos. Lalu menutupnya rapat-rapat.

Di tempat sedingin ini. Termos ini penolongnya. Apalagi setelah kejadian kemarin, ia bertambah enggan berada di dapur setelah hari gelap.

Hari ini tepat 40 hari Chris berada di kota ini.
Masih panjang perjalanan menuju 365 – hari usainya WKDS Chris.

Chris memandang aplikasi percakapan di ponselnya. Seorang rekannya di Aceh masih menghitung mundur. Tertulis “H – 325” dalam status pria itu.

Kepalanya terasa berdenyut.
Itu artinya masih sebanyak itu ia harus berada di…


Sisa hari itu tidak berjalan mulus bagi Chris.
Dua keluarga bayi meminta pulang paksa. Sementara satu pasien lainnya mengalami perburukan dan butuh dirujuk ke Palembang.
Butuh beberapa kali telepon sebelum rujukannya diterima.

Tidak mudah mencari rumah sakit yang bersedia dirujuk. Hampir sama sulitnya membujuk keluarga pasien untuk bersedia dirujuk.
Jarak yang jauh tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Itupun belum jelas berapa lama mereka harus berada disana.

Risiko tinggal di daerah terpencil.
Seperti mereka di Kampung Empat. Batin Chris.

Chris harus sedikit mengiba-iba sebelum sebuah rumah sakit mau menerima pasien kirimannya.

Chris menutup matanya seraya terduduk di ruang poliklinik.
Tubuhnya terasa lelah. Ia baru saja menyelesaikan pasien hari itu. Keseluruhannya ada 30.

Ia memikirkan pekerjaan yang belum diselesaikannya hari ini.
Ada beberapa video yang belum disentuhnya.
Serta Chris memikirkan akan mengunjungi sebuah situs Megalitikum di akhir pekan ini.
Dan…oh… Sabun cuci di rumah sepertinya habis.

Chris menarik napas panjang.
Ibu perawat masih sibuk memasukkan data pasien ke dalam sistem komputer saat lagu itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.

Chris membuka matanya.
Ia membuka perambannya.
Paul Mauriat, Love is Blue.

Butuh 5 detik penuh sebelum perambannya terbuka.
Chris membacanya dengan saksama.
Bukan lagu yang buruk sebetulnya. Versi aslinya bahkan selama berminggu-minggu memuncaki tangga lagu di Billboard Hot 100 tahun 1968.
Sejarah yang baru bisa diulang oleh artis asal Prancis lainnya di tahun 2017 saat Daft Punk memuncaki tangga lagu yang sama.

Tidak ada catatan aneh-aneh mengenai lagu itu. Kisah-kisah mistis maupun lainnya.
Pun tidak banyak kisah di balik lagu yang didapatnya.

Lagu itu sendu.
Ia tidak alergi dengan lagu mellow. Hanya saja itu bukan tipikal lagu Chris.
Chris tidak bisa membayangkan dirinya harus mendengarkan lagu bergenre itu setiap hari. Mungkin semangat hidupnya lenyap.
Seperti lagu yang dinyanyikan oleh orang yang bersiap mati karena patah hati.

Dan lagi. Tempat ini sudah cukup muram tanpa harus diberi soundtrack semacam itu. Dengus Chris.

Ketidakberuntungan Chris rasanya sedikit terobati hari itu. Ia tidak sengaja berkenalan dengan Pak Alang. Seorang mantan supir RS. Ia datang mengantar seorang pejabat dinas kesehatan menemui Chris.

Pria paruh baya itu tampak kaget saat Chris bercerita tentang rumah dinasnya.
Nampaknya ia akan mengatakan sesuatu. Namun diurungkannya.
Wajahnya tampak canggung.

Mereka pergi tak lama setelah itu.

Kecurigaan Chris terbukti setelah perawat poliklinik memberitahunya. Pak Alang pernah tinggal di rumah dinas Chris.

Ini awal yang baik. Pikir Chris.
Ya setidaknya ia memiliki narasumber baru.

Bapak itu kelihatannya mengetahui sesuatu.
Dan Chris akan mencarinya.

Chris sempat menanyakan mengenai rumah dinas. Namun, beberapa orang di rumah sakit memberikan keterangan yang berbeda-beda.

Ada cerita tentang hantu perempuan Belanda.

Well.. Pagaralam memang merupakan kota tua.
Beberapa bangunan dari zaman kolonial Belanda masih tegak berdiri hingga kini.
Termasuk pabrik teh, beserta 1.400 hektar lebih lahan perkebunan teh yang dulu bernama NV Culturr Maatschappy – masih difungsikan hingga kini – yang diperkirakan dibangun pada tahun 1920-an.

Bahkan tanaman tehnya pun hingga kini konon merupakan hasil tanam dari zaman Belanda. Dan sisa-sisa benteng Belanda juga masih ada di beberapa tempat.

Namun disini Chris tidak menemukan kaitan lebih lanjut.
Rasanya rumah yang Chris tempati tidak setua itu. Tahun 1920, itu artinya hampir seabad yang lalu.

Tidak mungkin.

Ada pula cerita tentang hantu Jepang. Konon bangunan itu dulunya merupakan markas pasukan Jepang.

Bukti sejarah mengenai hal ini memang ada. Karena kota ini pernah menjadi lokasi berdirinya Giyugun (sekolah pendidikan perwira militer Jepang).

Meski juga ada rantai yang hilang antara kisah Giyugun dengan rumah dinas.
Yang Chris tahu. Justru melalui Giyugun ini banyak lahir pemuda-pemuda yang turut berjuang dalam kemerdekaan bangsa.
Jadi rasanya keduanya agak janggal kalau hendak dihubung-hubungkan.

Lalu apakah ini merupakan kasus shape shifter juga?
Bukankah si shape shifter ini akan berubah menjadi bentuk apa yang ingin dilihat oleh korbannya?
Lalu mengapa ia tinggal disana. Bukankah ia menghuni Gunung Dempo?

Chris merasa bagaikan orang buta yang memegang seekor gajah. Yang mencoba mencari tahu seperti apa wujud si gajah. Ia bisa merasakan beberapa bagiannya. Namun tidak bisa melihat gambaran besarnya.

Apakah mungkin kasus ini memang tidak untuk dicari pemecahannya?

Chris baru saja akan beranjak pulang saat suara itu memanggil namanya.
Ia menoleh. Adi masuk ke ruangan poliklinik. Wajahnya tersenyum menanyakan kabar Chris.

“Kebetulan” Sahut Chris.
Ia menceritakan tentang pertemuannya dengan pak Alang.

Adi menyimak dengan serius.
“Lalu?” Tanya Adi.

“Tidak ada lalu. Dia belum cerita apa-apa.”

Adi hanya mengangguk-angguk.

“Memang kamu tahu cerita darimana tentang perempuan itu?” Tanya Chris. Tak sabar.

“Cerita apa?”

“Perempuan di rumah dinas saya. Itu cerita darimana?” Sergah Chris

Adi tersenyum.

“Saya ngga dengar cerita, dok. Saya melihatnya sendiri”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here