Rumah Dinas (12)

0
38

Ackman terbangun dengan perasaan kalut pagi itu.

Semalam tidurnya tidak nyenyak, tengkuk dan kepalanya terasa sakit. Ia menyelesaikan makan paginya dengan cepat. Jarum jam menunjukkan pukul 8 kurang.

Ackman menanyakan istrinya apakah ia menyimpan obat sakit kepala.

Tak lama Ackman mengambil dua butir dan meminumnya.

Pagi itu cerah di kota Metro. Ackman memiliki banyak rencana hari ini. Menengok pembangunan ruko miliknya. Mengantar anaknya pergi. Dan membeli beberapa perlengkapan di ibukota.

Dan sekarang kepalanya sakit.

Cara yang hebat memulai pagi. Gerutu Ackman.

Ia masih terbayang kejadian semalam. Suara apa yang Ackman dengar? Bukankah pondokan itu tidak memiliki satupun jam.

Ackman tidak memeriksa ruangan satunya. Namun ia ragu. Suaranya begitu jelas. Tidak mungkin suara jam dari kamar itu terdengar dari kamarnya.

Atau mungkin dari dalam lemari ada sebuah jam?

Pikiran bodoh. Untuk apa orang repot-repot menaruh jam bila tidak ada yang bisa melihatnya?

Mungkin Ackman seharusnya memeriksa kamar yang tertutup itu juga.

Benaknya berputar.

Ia sendiri ragu kalau ia ingin kembali kesana.

Suara klakson mobil menyadarkan Ackman dari lamunannya. Anaknya sudah berada disana. Tampak riang karena akan diajak berjalan-jalan. Ackman tersenyum dan melambaikan tangan kepada anak itu.

Masih ada waktu enam hari untuk memikirkan hal itu. Guman Ackman.

Ia masuk ke dalam mobil. Tak lama SUV Ackman sudah melaju di jalanan kota Metro.

Suara anak-anak memenuhi ruangan bermain.

Seorang anak tampak menangis ditemani oleh ibunya. Sementara beberapa anak lain memanjat area playground. Sekelompok anak lain bergantian menggunakan trampolin. Para pengasuh dan orangtua mengawasi anak-anak dari kursi yang disediakan di samping playground tersebut.

Siang itu ramai bukan main. Ackman harus menunggu nyaris 15 menit sebelum ia mendapatkan sebuah tempat duduk.

Matanya melirik ke arah arena. Si anak tampak sedang memasukkan bola-bola plastik ke dalam sebuah sistem paralon yang diberi udara bertekanan.

Anaknya terkekeh saat bola itu melesat melalui paralon berputar-putar sebelum akhirnya terbang menuju sebuah kolam buatan yang penuh terisi bola plastik.

Fasilitas seperti ini tidak ada di masa kecil Ackman. Hiburan mereka kali itu adalah sebuah sepeda yang digunakan bergantian. Atau bermain mandi hujan. Kesempatan bermain ke kota merupakan hal langka saat itu.

Masa-masa susah. Ackman mengenang.

Di masa itu. Ackman mengenal seorang laki-laki. Usianya 5-6 tahun di atas Ackman.

Suatu ketika Ackman kecil dan beberapa temannya bermain di rumah si anak baru.

Hanya terpaut 4 rumah dari kediaman Ackman.

Saat itu Ackman belum mengenal lelaki tadi. Namun ia tertarik karena lelaki itu memiliki banyak mainan bagus. Yang pada saat itu Ackman hanya bisa bermimpi untuk bisa memainkannya.

Hal yang Ackman baru ketahui belakangan.

Lelaki tersebut ternyata seorang yang keji.

Ia tak segan-segan melakukan kekerasan fisik. Ackman kala itu disekap dalam ruangan gelap seorang diri. Ditakut-takuti oleh lelaki itu mengenakan topeng menyeramkan. Hingga bajunya basah kuyup karena keringat dingin.

Ackman kecil bukan seorang pengecut. Ia melawan dengan hebat.

Perlawanan Ackman berujung dengan luka sobek di dahi.

Dan kemarahan yang nyaris tak berujung dari orangtuanya.

Sejak kejadian itu Ackman menjadi tidak nyaman dengan kegelapan.

Dan segala yang bersinggungan dengan kegelapan. Termasuk hantu.

Semacam trauma masa kecil.

Lamunan Ackman terhenti saat anaknya memanggil.

Pria kecil itu berlarian riang menuju area trampolin.

Ackman memberikan tanda dengan jempolnya.

Pengasuh anak Ackman berlarian mengikuti.

Ackman melirik jamnya. Masih dua jam sebelum mereka akan pulang.

Ia menguap.

Rasanya ia butuh kopi. Guman Ackman.

Ponsel Ackman berdering.

Ackman membiarkannya berdering 2-3 kali sebelum mengangkat telpon itu.

Dari Antok. Ia menanyakan kabar semalam.

Ackman sedikit kesal. Namun ia butuh bercerita.

Antok terdiam mendengar kisah Ackman. Namun tampaknya ia tidak terlalu menganggap serius perkara suara itu.

Ia lebih serius menanggapi jumlah pasien semalam.

Yang menurutnya fantastis.

Dua puluh enam pasien. Dan ini baru permulaan.

Ackman mendengus mendengar Antok bicara.

Orang ini, batin Ackman, bahkan di tempat paling angker pun dia akan bersedia jaga. Asal bayarannya cocok.

Sebelas dua belas dengan Chris.

Chris itu gila. Batin Ackman. Tempat paling angker di IGD pun ia tiduri saat jaga malam.

Tapi saat itu berbeda.

Antok butuh uang. Dan ia harus bekerja.

Dan Chris tidur disana karena tak banyak pilihan.

Hanya antara tidur di kasur pasien di IGD yang lebih sering digunakan coass perempuan yang jaga.

Atau di lantai IGD.

Chris bilang. Tidur di lantai dengan debu setebal itu bakal membunuhnya lebih cepat ketimbang hantu di lantai 3.

Ackman menghela napas panjang.

Saat masih menjadi residen. Rasanya semua orang tak memiliki banyak pilihan.

Segalanya dilakukan untuk sekadar bertahan.

Bertahan agar besok masih bisa masuk. Mengerjakan tugas-tugas yang tak berseri banyaknya. Bertahan agar tidak menyusahkan rekan seangkatannya.

Dan..

Kembali bertugas jaga kembali.

Masalah kenyamanan, itu bukan prioritas.

Satu-satunya hal yang penting, bertahan hidup.

Lama Ackman baru menyadari. Bahwa ia – dan mungkin juga teman-teman lainnya – sudah terlalu lama meninggalkan apa yang dikenalnya sebagai kehidupan manusia normal.

Yang ia jalani sekarang adalah peralihan.

Belajar hidup normal.

Namun sayangnya, keadaan yang tak jauh berbeda ditemui Ackman juga setelah lulus.

Saat ini juga tak banyak pilihan yang dapat ia ambil.

Antara menjalani WKDS, atau menunda WKDS – yang ujung-ujungnya tetap harus dijalani.

Antara dibayar murah oleh BPJS, atau menunggu BPJS membayar tunggakan mereka – yang keduanya sama-sama dibayar murah.

Ironi..

Ackman pikir, segalanya akan lebih mudah selepas pendidikan.

Hanya harga dirinya sebagai lelaki lah yang memaksa Ackman mau menjalani semua ini. Bagaimanapun, dibayar murah masih lebih baik daripada tidak memiliki penghasilan sama sekali.

Ia merasa malu menjadi beban.

Ia ingin mandiri.

Bila memikirkan hal ini. Rasanya semangat Ackman meningkat.

Kejadian di rumah sakit semalam sebetulnya belum apa-apa dibanding kengerian yang ia pernah alami.

Dalam hati Ackman mengumpat.

Sejak kapan ia menjadi begitu pengecut?

Ackman sedang memesan segelas kopi saat ponselnya kembali berdenting.

Ackman mengernyitkan alisnya.

Pesan dari nomor yang tak ia kenal.

“Dokter, terimakasih banyak atas bantuannya. Kami tunggu Jumat depan.”

Setetes keringat dingin meluncur di punggungnya.

Chris berjalan dengan gontai saat memasuki pintu rumahnya.

Jam menunjukkan pukul 2 siang saat Chris meninggalkan rumah sakit.

Hari itu sabtu. Rumah sakit libur. Namun ia tetap membiasakan diri datang. Kematian pasien lebih sering terjadi di akhir pekan. Begitu yang Chris pernah baca di sebuah jurnal luar negeri.

Ia tersenyum geli saat pertama kali membacanya.

Chris teringat saat ia coass. Di beberapa kota di Jawa Tengah, pasien justru tidak mau dipulangkan di hari sabtu.

“Orak ilok” begitu kata mereka.

Menurut kepercayaan mereka, pulang di hari sabtu sama saja meminta pasien datang kembali karena sakit yang sama, lebih berat. Bahkan kematian.

Rumah sakit pun paham.

Mereka tidak memaksakan. Hanya memodifikasi kepulangan menjadi di atas pukul 6 sore. Dimana masyarakat setempat menganggap lewat dari jam itu, sudah masuk hari minggu.

Itu sudah nyaris 12 tahun yang lalu. Kenang Chris.

Jadi mungkin saja si peneliti jurnal terinspirasi larangan di Jawa itu.

Baju kotor masih teronggok di tempatnya sejak Chris tinggal tadi pagi. Pembantunya tidak datang hari ini. Chris membereskan pakaian itu. Memasukkannya ke dalam sebuah ember.

Tikus. Gerutu Chris.

Merupakan masalah kedua yang serius di rumah ini.

Setelah… ya… masalah itu..

Chris berbaring di atas kasurnya. Badannya terasa pegal-pegal.

Terimakasih kepada jalan buruk dan kemudi non power steering.

Ia mengingat-ingat apa kata Adi tadi.

Masumai.

Persis seperti kata Sisi dan Ackman.

Sosok manusia harimau jejadian. Yang bisa berubah bentuk menyerupai seseorang yang kita kenal.

Shape shifter versi lokal dengus Chris.

Yang Chris tahu. Shape shifter merupakan salah satu bentuk jejadian dengan sejarah paling tua di muka bumi. Sejak kisah Giglamesh dan Iliad di abad mitologi. Hingga film Ganteng-ganteng Serigala di era kekinian.

Masalahnya, ada begitu banyak cerita mengenai shape shifter ini. Hampir di tiap era. Hampir ada di tiap benua.

Adi pun tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai motivasi si Masumai ini. Apa yang akan dilakukan terhadap orang yang berhasil “ditipunya”?

Yang Adi tahu. Kisah orang-orang yang hilang pernah terjadi.

Selalu di kedua waktu itu. Selepas subuh dan menjelang magrib. Lokasi tersering ada di sekitar gunung Dempo. Kampung Empat.

Sisanya masih gelap.

Chris membuka ponselnya. Tidak banyak yang diketahui oleh Google mengenai Masumai.

Kebanyakan berupa cerita mistis yang kelewat dibuat-buat. Yang alih-alih membuat Chris tercekam, justru membuatnya tergelak.

Chris tidak tertarik mempelajarinya lebih lanjut kali ini. Tubuhnya terlalu lelah untuk berkonsentrasi penuh.

Angin semilir dan awan mendung membuat siang itu tampak suram.

Chris mematikan ponselnya.

Matanya mulai menutup.

Belum lama Chris terlelap saat telinganya menangkap suara itu.

Chris membuka satu matanya.

Terdengar dekat. Di dalam rumah ini.

Rasanya ia akrab dengan suara itu.

Ini suara seseorang sedang memasak. Suara wajan beradu dengan spatula.

Suara minyak meletup

Butuh beberapa saat sebelum Chris sadar penuh.

Siapa yang memasak?

Pembantunya tidak pernah datang sesiang ini.

Suara itu menghilang sesaat.

Chris mencoba mengendus. Tidak tercium apapun.

Suara wajan terdengar lagi.

Kali ini lebih nyaring.

Tidak ada jalan keluar selain melalui dapur.

Chris menarik selimut menutupi tubuhnya. Kemudian menutup wajahnya dengan bantal.

Ia mulai berdoa..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here