banner 728x90

Rumah Dinas (9)

banner 468x60

Bunyi alarm mengagetkan Ackman. Ia terbangun.

Mengerang.

Bahu dan lengan kanannya terasa tegang. Ia mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali. Seraya meluruskan lengan kanannya.

Rasanya seperti ia menindih lengan kanannya sepanjang malam.

Ia tidak ingat hingga pukul berapa ia terjaga. Hal terakhir yang ia ingat adalah bunyi jam dinding itu yang mengganggunya.

Tik-tak, tik-tak, tik-tak..

Suasana teramat hening.

Ackman teringat kisah para astronot. Yang hidup di keheningan luar angkasa yang mencekam. Bahkan mereka bisa mendengarkan suara jantungnya sendiri berdegup. Ackman semalam sampai berpikir, apakah itu suara jantungnya sendiri yang ia dengar.

banner 300x250

Butuh satu menit penuh untuk menyadari ia sedang berada dimana.

Ackman membuka penuh kedua matanya. Ia terduduk.

Siaga.

Denyut jantungnya mendadak berakselerasi. Darah terasa mengalir kencang ke seluruh ujung tubuhnya. Kedua mata Ackman menyusuri setiap sudut ruangan. Kamar tidurnya masih seperti yang ia tinggalkan semalam.

Ia membiarkan lampunya menyala. Ia memang ketakutan.

Kamar itu kecil. Hanya 3 x 4 meter. Hanya seukuran kamar mandi Ackman di Metro. Kasur pegas kecil dengan sprei putih disusun berdekatan dengan sebuah lemari kayu besar. Terlalu besar untuk kamar sekecil ini.

Di sebelah lemari itu ada meja kecil dengan gelas dan air minum kemasan.

Televisi ukuran 14 inci ditempel di dinding seberang kasur. Sebuah AC. Hanya itu. Jendela tertutup rapat dan diberi teralis.

Ackman memijat tengkuknya yang terasa kaku. Lengan kanannya kini kesemutan.

Ia menguap beberapa kali. Pandangannya menerawang.

Rumah sakit ini bukan berada di tengah kota. Melainkan di sebuah kecamatan di kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Mesuji, Lampung. Penduduknya merupakan campuran keturunan Jawa, kebanyakan Jawa Tengah. Dan Bali. Kebanyakan merupakan transmigran sejak zaman kolonial Belanda.

Di banyak tempat, mudah dijumpai bangunan khas Bali. Banyak rumah dengan Angkul-angkul (gapura tradisional Bali) yang megah. Bahkan tidak sulit menemukan Pamerajan (pura keluarga) di sini.

Kawasan Bali Kecil. Begitu orang-orang menyebutnya. Tak terlalu berbeda dengan kota Metro. Tempat Ackman berasal.

Selebihnya tidak ada yang istimewa dari daerah ini. Bahkan tempat wisata pun nyaris tidak ada. 

Ackman justru lebih banyak mengenal daerah ini karena kisah mistis.

Cerita mengenai pesugihan.

Sayup-sayup dari sebelah timur terdengar suara bedug ditabuh.

Ackman merasa lega.

Malam itu akhirnya terlewati juga.

Suara adzan menggema di kamarnya. Ackman bersiap untuk Subuh.

Ia bangkit dari tempat tidur. Membuka kunci kamarnya. Ia melalui ruangan tengah yang nyaris kosong. Kamar mandi hanya ada satu. Lokasinya di samping kamar Ackman.

Kamar satunya persis di depan kamar Ackman, pintunya tertutup rapat dan lampunya padam.

Ackman tidak tertarik membukanya.

Bunyi alarm dari ponsel Ackman mengagetkannya.

Ia kembali menuju kamar dan mematikan alarm itu.

Ada 67 pesan masuk sejak semalam.

Kebanyakan dari grup kecil Ackman saat pendidikan. Seakan dikomando, para kawan-kawannya kompak membully Ackman semalam.

Mengirimkan foto-foto horror.

Cerita-cerita mistis.

Seseorang mengirimkan foto Valak.

Ackman tersenyum kecut. Untung ia tidak membukanya.

Sungguh kawan-kawan yang baik. Dengus Ackman.

Pandangan mata Ackman tertuju pada satu pesan. Chris yang mengirim. Potongan berita lama. Ia hampir saja membukanya saat Ackman tersadar sudah hampir Iqomah. Ia menyegerakan diri untuk solat. Dan menyelipkan ponsel di saku celananya.

Semburat jingga muncul di horizon.

Ackman menyalakan mesin mobilnya. Suhu pagi di sini tidak sepanas di Mesuji. Kaca bagian dalam mobilnya berembun.

Ackman mengambil kain kanebo dan mengelapnya.

Ia menyalakan radio. Menekan tombolnya secara acak. Siaran radio lokal memutar lagu-lagu tradisional Jawa. Ackman baru saja hendak mematikan radio itu, namun urung dilakukannya.

Suasana pagi itu sepi. Sisa hujan kemarin sore masih tampak dimana-mana.

Seorang ibu berjalan melewati mobil Ackman. Ia tampak bercakap-cakap dengan seseorang dengan ponselnya.

Ibu itu menunggu di pinggir jalan sebelum tak lama seorang pemuda dengan motor menjemputnya.

Disini tidak ada angkutan umum.

Segala sesuatunya memang lebih mudah di kota besar. Batin Ackman. Ia tak berharap akan menetap di sini.

Permasalahan dilematis.

Dokter spesialis memang dibutuhkan di daerah-daerah kecil seperti ini. Namun mereka tidak selalu mau tinggal disana.

Akses pendidikan bagi anak-anak.

Ketiadaan fasilitas pelengkap lain.

Belum lagi bicara jaminan kesejahteraan dan keamanan.

Ia sendiri yang boleh dibilang orang asli sini. Kadang merasa jerih.

Ackman ingat saat awal-awal ia tinggal di Mesuji. Nyaris tidak ada satu minggu tanpa korban luka tembak masuk IGD. Ia sering berkelakar kalau tempat dinasnya saat ini masih berada di era para koboi. Dimana baku tembak terjadi nyaris tiap harinya.

Beberapa lokasi di kota itu memang konon memiliki usaha “kerajinan tangan” senjata api. Tentunya illegal. Dan siapa yang kira-kira tertarik memiliki senjata api ilegal kalau bukan para begal? Perampok?

Sedih memang. Bila mengingat bahwa sebetulnya di sisi lain, keberadaan Ackman dan kawan spesialis lainnya adalah laksana oase di tengah padang pasir.

Pemupus dahaga akan layanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau. Ackman masih terbayang raut wajah para bidan saat mereka melakukan operasi sesar pertama kemarin.

Bahkan staf rumah sakit menggelar tumpengan. Ia tersenyum bila mengingatnya.

Ackman juga masih ingat saat pak Bupati dengan bangganya memamerkan mereka kepada para warga. Para spesialis yang melengkapi rumah sakit baru.

Tatapan penuh harap.

Dan ia adalah bagian dari harapan itu.

Tapi tentu saja. Menjadi korban luka tembak bukan bagian dari rencana Ackman.

Jalanan masih lenggang.

Baik dari arah utara maupun selatan.

Sebuah truk kecil melewati jalan dengan kencang. Air bermuncratan saat truk itu melintas.

Di daerah seperti ini tidak perlu repot-repot ada car free day. Karena hari biasa pun nyaris tak ada kemacetan.

Radio berhenti memutarkan lagu.

Seorang penyiar laki-laki mengucapkan selamat pagi. Dia berbicara dengan logat Palembang.

Seorang penyiar lainnya, seorang perempuan bercerita tentang hujan semalam. Beberapa daerah mengalami genangan air.

Ackman membereskan kabin mobilnya dan bersiap berangkat. Ia hendak mematikan radionya saat penyiar pria tersebut memberitakan sesuatu mengenai pembunuhan.

Ackman tidak tertarik mendengarnya.

Perasaannya pagi ini sudah cukup buruk tanpa harus ditambah lagi.

Ia mematikan radio, pendingin udara, dan mesin mobilnya.

Ackman keluar dan memeriksa kondisi mobilnya sekilas. Tampaknya tak ada yang bermasalah. Keempat bannya tak ada tanda-tanda mengalami kebocoran.

Perjalanan pulang ini menempuh kira-kira 5 jam perjalanan melalui Mesuji dan Menggala. Kebocoran ban tentu tidak akan membantunya sampai lebih cepat.

Ackman memandang ke atas. Langit tampak mendung. Dalam hati Ackman berdoa agar tidak turun hujan.

Ackman sedang berjalan menuju pondokannya saat ia teringat berita di radio tadi. Rasanya ia melupakan sesuatu.

Ah iya, berita yang dikirim Chris.

Ackman membuka ponselnya. Chris mengirimkan pesan itu pukul 22.15.

Pesan itu berupa tautan menuju sebuah portal berita.

Peramban Ackman berputar lambat. Cuaca mendung membuat sinyal di sini menjadi lebih buruk.

Ackman membuka pintu pondokannya saat perambannya berhenti berputar. Ia membaca berita itu. 

Oh Ackman berharap ia tidak pernah membukanya.

Berita tentang seseorang yang bunuh diri. Di tempat ini.

Detak jantungnya mendadak mengencang.

Tepat di rumah tempat Ackman tidur semalam.

Ackman sudah pernah membaca berita itu. Tidak ada yang baru. Polisi menyatakan kasus sebagai murni bunuh diri. Tidak ada kelanjutan cerita.

Kecuali..

Mata Ackman terbelalak.

..Lokasi bunuh dirinya..

Menggantung diri di lemari.

Lemari besar itu..

Perut Ackman serasa diaduk.

Ia kemudian teringat sesuatu.

Sesuatu yang takkan pernah dilupakannya.

Bulu kuduk Ackman meremang.

Ia mengambil barang-barangnya dengan terburu-buru. Ackman menatap semua penjuru ruangan. Pandangan mata dan napasnya memburu..

Benar dugaannya..

Ackman menutup pintu tanpa pernah menengok lagi.

“Sial” umpat Ackman.

Wajahnya sepucat kapas.

Di dalam rumah itu sama sekali tidak ada jam…

banner 468x60
Rate this article!
Rumah Dinas (9),5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply