banner 728x90

Rumah Dinas (7)

banner 468x60

Chris merasa seperti menelan es batu.

Mengapa Adi menceritakan itu. Di tengah perjalanan.

Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Mobil kembali melaju perlahan.

Di sebelah kiri dan kanan jalan ini merupakan areal perkebunan teh. Sepanjang mata memandang hanyalah hamparan teh. Yang kini berwarna hitam.

Gelap.

Chris memicingkan matanya. Mencoba menduga-duga dimana lokasi Kampung Empat itu. Tidak tampak lampu rumah. Apalagi aktivitas makhluk hidup.

banner 300x250

Chris mengumpat tertahan saat ban mobil melindas batuan besar. Ia menahan kemudi agar tidak terbanting ke arah sebaliknya. Jalanan ini. Gumannya.

Adi masih terdiam. Mungkin memikirkan kata-katanya tadi.

Chris tidak tahu harus menanggapi apa.

Ia hanya teringat beberapa hal.

Rumah dinas itu.

Perempuan.

Ia belum menemukan ada hal aneh. Selain dari perasaan tidak nyaman.

Dan dingin.

Ya, rumah itu dingin.

Ia teringat saat dirinya tidak bisa tertidur.

Pukul berapa itu. Ia tidak mengingatnya.

Bahkan suara-suara pun ia tidak pernah mendengarkan. Sepi. Bahkan suara serangga atau gemercik air pun tidak.

Air.

Chris teringat sesuatu.

Beberapa kali ia menemukan pompa rumah dalam keadaan menyala.

Rumah dinasnya tidak memiliki tandon air. Jadi untukmengalirkan air dari sumur, ia harus menghidupkan pompa air melalui saklar di dapur.

Chris menghidupkan pompa hanya 2-3 kali sehari. Untuk mengisi bak air saat akan mandi.

Dan ia beberapa kali menemukan pompa air menyala saat pulang.

Chris mulanya menduga ia terlupa. Atau mungkin pembantunya yang terlupa.

Kunci rumahnya. Apakah ada kunci serepnya? Seingat ia, pembantunya tidak pernah meminjam kunci. Bahkan Chris sendiri yang menyalakan dan mematikan lampu halaman.

Ah iya. Lampu itu.

Lampu di ruang depan yang berulang kali padam. Meski Chris yakin ia sudah menyalakannya. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Sebetulnya benaknya yang menyangkalnya.

Rumah itu dalam keadaan terang pun cukup membuatnya bergidik. Tanpa perlu mematikan lampu.

Bulu kuduk Chris tiba-tiba meremang.

Ia memandang jam tangannya.

Tiga puluh menit menjelang terbit matahari.

banner 468x60
Rate this article!
Rumah Dinas (7),5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply