Rumah Dinas (3)

Hari itu hujan di Pagaralam. Chris membuka laptopnya di poliklinik yang mulai sepi.

Perawat-perawat sedang berkumpul di ruang sebelah. Menanti jam pulang.

Ia membuka surelnya dengan malas sembari merutuki lambatnya koneksi internet.

Chris menguap.

Hujan ini membuat segalanya terasa lebih lama.

Dan menghapus keriangan dirinya.

Ia menjadi teringat akan depresi musim dingin. Penyakit yang biasanya mengenai penduduk di kutub utara – dimana malam dapat berlangsung berbulan-bulan lamanya – dan terapi yang diberikan adalah menyinari penderitanya dengan cahaya matahari buatan.

Yeah, mungkin itu sebabnya ia murung hari ini.

Ia merindukan matahari.

Chris melirik jam tangannya. Masih satu jam sebelum jadwal pulang.

Ia kembali menguap.

Semalam ia sulit tidur. Bukan karena kisah epik Adi mengenai gunung Dempo dan Kampung Empat yang misterius.

Namun suhu yang terlalu dingin menyebabkan rhinitisnya sontak kumat.

Chris teringat sesuatu.

Kampung Empat.

Kampung Dua.

Keduanya memang ada.

Namun rasanya Adi tidak menyebutkan kampung Tiga.

Dimana Kampung Tiga? Apakah memang ada?

Google Map tak dapat diandalkan pada hari-hari hujan.

Perambannya tidak berhenti berputar-putar.

Chris masih memikirkan Kampung Empat.

Ia benci membahas hal mistis. Namun di sisi lain, ketidaktahuan Chris menarik dirinya.

Bagai suara Siren memanggil para nelayan malang.

Laman Google Map terbuka. Kampung Empat.

Ke arah barat.

Kaki gunung Dempo.

Tak jauh dari sini.

Chris tersenyum.

Untuk kali pertama hari itu.

Ia mengangkat ponselnya.

“Halo Adi. Belum ada acara Sabtu besok?”

Rate this article!
Rumah Dinas (3),5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

One Response

  1. KKN di Desa Penari, versi Chris_TWD (bagian 0) - TheWalkingDoctor1 year ago

    […] Dan ternyata, hal itu menyita sebagian besar waktu. (Teriring permintaan maaf kepada para pembaca serial Rumah Dinas) […]

    Reply

Leave a Reply