Rumah Dinas (11)

0
46

Kampung Empat ternyata tidak seburuk yang Chris duga.

Pintu masuknya berada di sebuah tanjakan.

Rumah-rumah kayu dengan bentuk dan warna nyaris seragam berjejer di bukit kecil itu.

Matahari bersinar dari belakang mereka.

Hamparan hitam kebun teh telah berubah menjadi hijau cemerlang.

Suara serangga mulai hilang. Berganti dengan suara kicau burung-burung kecil.

Pemandangan yang indah. Batin Chris.

Ia tidak merasa rugi berjalan melalui sungai kering ini selama nyaris satu jam lamanya.

Seekor anjing berwarna hitam berdiri di sisi kiri jalan. Ekornya tegak ke atas – tanda waspada. Anjing itu menatap ke arah mobil yang masih melaju perlahan.

Selebihnya, jalanan terlihat lenggang.

Chris tak melihat ada seorang pun disana.

Adi mengatakan banyak dari rumah di Kampung ini yang kosong.

Ditinggal penghuninya.

Sisanya yang bertahan antara lain adalah seorang juru kunci Gunung Dempo.

Dan belasan kepala keluarga lain.

Sebuah truk akan menjemput para pemetik daun teh setiap pagi. Dan mengantar mereka kembali.

Mobil mereka melalui jalan menanjak.

Sebuah rumah di sisi kanan jalan menarik perhatian Chris.

Rumah itu bercat biru. Pintunya terbuka.

Tak terlihat apapun di dalamnya.

Gelap.

Nampaknya ini salah satu dari rumah yang ditinggal penghuninya.

Chris merasa dirinya seperti terlempar kembali ke tahun 1980-an.

Rumah-rumah dari papan kayu.

Jalanan berbatu tanpa aspal.

Tidak ada sumber listrik dari PLN.

Hari mulai terang. Namun suasana muram masih terasa.

Chris memeriksa ponselnya.

Masih EDGE.

Hidup tanpa listrik. Sinyal sulit.

Akses jalan sulit.

Apa yang akan dilakukannya bila ia ternyata terjebak di kampung itu?

Chris bergidik.

Pria gadget dependent seperti dirinya.

Tinggal di tempat seperti ini. Bagaikan terperangkap di masa lalu.

Mobil mereka tiba di akhir jalan mendaki.

Sebuah kelokan.

Di bawah mereka tampak sebuah pekarangan belakang dari rumah lain yang juga kosong.

Sebuah kandang ayam yang nyaris ambruk.

Pohon belimbing yang tak terurus.

Tali-tali jemuran yang dibiarkan menggantung.

Melewati tanjakan pertama, rumah-rumah lain mulai tampak.

Masih rumah kayu yang berbaris rapi. Jarak antar rumah sekitar 10-15 meter. Dengan pekarangan yang ditumbuhi bunga dan semacam tanaman teh-tehan.

Chris membayangkan. Tempat ini dulunya mungkin ramai.

Dengan rumah sebanyak ini.

Apalagi kampung ini juga merupakan persinggahan terakhir sebelum memasuki Pintu Rimba.

Sungguh disayangkan. Meski juga tak bisa disalahkan. Para penduduk butuh penghidupan.

Chris bisa membayangkan sulitnya penduduk mengakses sarana pendidikan dan kesehatan.

Ini sudah 2018, bahkan listrik dari PLN pun mereka belum menikmati.

Seorang ibu paruh baya keluar dari pintu belakang rumah. Ia membawa ember penuh cucian. Ibu itu menoleh ke arah mobil mereka.

Akhirnya. Ada kehidupan.

Beberapa belokan kemudian mereka bertemu dengan ujung Kampung Empat.

Chris menoleh ke arah Adi.

Adi menunjuk ke arah selatan. Dan menyuruh untuk terus berjalan.

Ada pemandangan menarik disana. Ujar Adi.

Adi bercerita kalau tempat ini pernah masuk ke dalam liputan wisata petualangan suatu stasiun televisi swasta.

Dan tempat yang mereka tuju adalah salah satu lokasi syutingnya.

Chris mengangguk.

Jalanan mulai membaik setelah memasuki kampung ini. Meski masih berupa batu-batuan.

Mereka melalui sebuah jurang kecil dan kebun teh hingga akhirnya tampak dua buah tenda berdiri.

Asap mengepul. Ada orang disana.

Chris melajukan kendaraannya perlahan. Jurang itu cukup dalam.

Sisi lain dari jalan itu adalah sebuah tebing.

Tenda itu berukuran cukup besar. Dapat menampung sekitar 8 orang di dalamnya.

Berwarna cerah.

Beberapa orang muda berkumpul di sekitarnya.

Adi berkata ia mengenal salah satu dari mereka. Seorang pendaki senior gunung ini.

Mobil melalui para pemuda itu.

Chris membuka kaca jendelanya. Ia tersenyum kepada mereka.

Adi mengatakan sesuatu dengan dialek lokal.

Pemuda itu menjawabnya. Mereka memanggil seseorang di dalam tenda.

Tak lama seorang laki-laki keluar. Usianya mungkin 5-7 tahun di atas Chris.

Tubuhnya tinggi kurus. Menggunakan topi hitam. Dan kaus putih di balik jaket coklatnya. Rambutnya yang lurus kehitaman tampak menyembul dari balik topi.

Ia tersenyum ramah ke arah Chris dan Adi.

Adi meminta izin untuk turun terlebih dulu. Chris mengangguk. Ia akan menyusul Adi setelah memarkir mobil.

Chris parkir di depan sebuah mobil pick up. Nampaknya mobil milik rombongan tadi.

Di sekitarnya terdapat dua motor yang juga diparkir. Semuanya plat nomor dalam kota.

Chris mengambil tasnya. Mengunci mobil lalu menyusul Adi.

Di belakangnya gunung Dempo berdiri tegak bermandikan sinar matahari pagi.

“Mau kopi atau teh?” Tanya Diar, nama pria bertopi itu ramah.

Chris menolak. Namun pria itu bersikeras. Chris akhirnya meminta segelas teh.

Diar memanggil nama seorang perempuan. Memintanya membuatkan dua gelas teh. Perempuan itu mendekat. Mengangguk ke arah Chris dan Adi. Lalu masuk ke dalam tenda

Logatnya berbeda dengan logat Adi.

Diar penduduk asli daerah sini. Namun sudah lama merantau. Ia sering kembali kesini hanya untuk mendaki gunung.

Bahkan ia pernah termasuk dalam tim evakuasi lokal. Untuk membantu menolong pendaki yang mengalami masalah di gunung Dempo.

“Tertarik mendaki? Pemandangan di atas bagus. Kawahnya juga cantik”

Chris menggeleng. Ia tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam mendaki gunung. Pun ia tidak memiliki peralatan dan perlengkapan yang memadai.

Ia cinta bertualang. Tapi lebih cinta nyawanya sendiri.

Bertualang di gunung seperti ini. Ia sendiri ragu.

“Memangnya aman?” tanya Chris.

“Kalau mau mendaki, nanti ngabari aja. Kalau berangkat dengan yang berpengalaman mudah-mudahan aman.”

Mudah-mudahan. Batin Chris.

Adi muncul dari balik tenda. Ia membawa dua gelas teh. Adi duduk di sebelah Chris, menyerahkan satu gelas ke Chris.

“Bagaimana dok. Kita ke atas? Kapan?” Tanya Adi.

Adi mengaku sudah naik ke puncak. Sebanyak 4 kali.

Memang selalu dengan orang yang berpengalaman. Sebab kata Adi. Selain kendala alam. Juga ada gangguan dari alam lain.

“Paling sering, kabut tebal yang turun mendadak.”

“Kalau sudah diganggu kabut. Pendaki biasanya mengumandangkan adzan” lanjut Adi.

Diar mengangguk mengamini.

Kawah Merapi berada di balik puncak gunung Dempo. Gunung Merapi merupakan gunung aktif. Meski tidak sampai meletus.

Kawahnya sedalam 1 kilometer dari puncak Merapi. Berisi air berwarna kebiruan. Yang kadang berubah warna menjadi abu-abu.

Diar menambahkan, tahun lalu ia menolong seorang pendaki yang terperosok ke kawah Merapi.

Lokasi jatuhnya tak jauh dari bibir kawah.

Penolong pertama yang tiba. Menandai lokasi korban. Memberikan makanan dan minuman, namun tidak berhasil menarik korban ke atas.

Regu penolong yang turun berikutnya mengalami berbagai kesulitan.

Setiap turun ke kawah. Kabut tebal turun. Berkali-kali.

Para penolong itu berkali-kali pula mengumandangkan adzan.

Namun saat tiba di lokasi jatuh yang telah ditandai.

Si pendaki itu hilang.

Para penolong kebingungan. Pencarian dilakukan.

Akhirnya pendaki itu ditemukan. Nyaris 50 meter dari lokasi awal.

Menurut korban. Ada dua orang yang membawanya ke tempat itu.

Padahal tidak ada orang lain selain tim penolong dan korban.

Chris merinding.

“Di kawah itu.”

Sambung Diar.

“Lima tahun lalu seorang pendaki terjatuh ke dalamnya.”

“Diketahui meninggal”

“Namun jenazahnya baru ditemukan dua tahun berselang”

Chris merasakan tengkuknya terasa dingin.

“Mengapung utuh di kawah Merapi. Hingga kini belum bisa diangkat..”

Matahari sepenggalah tertutup awan. Saat mereka baru menyelesaikan sarapan.

Chris bercerita mengenai petualangan yang telah ia lakukan selama tinggal di Pagaralam.

Ia menyukai Curup Maung yang eksotis. Memiliki tiga buah air terjun pada satu lokasi. Dengan tanaman sulur yang merambati dinding tebing kokoh setinggi hampir 90 meter. Dan aliran sungai yang jernih dingin.

Air terjung yang teramat indah. Salah satu yang terindah di Sumatera.

Namun lokasinya sulit dicapai.

Chris harus menempuh areal perkebunan kopi milik penduduk lokal. Dengan kemiringan mencapai 60 derajat pada beberapa lokasi.

Belum terdapat tangga maupun fasilitas lain disana. Menuruni dan mendaki tebingnya saja memakan waktu hingga 40 menit.

Adi mengatakan kalau keadaan apa adanya itu justru menambah pesona Curup Maung.

Chris tertawa.

Menurut Chris, lokasi wisata yang baik adalah yang aman dikunjungi.

Chris bahkan takkan terpikir akan membawa anak-anak atau orangtua kesana.

Medannya terlalu berbahaya.

Adi terkekeh. Ia sendiri mendaki curup itu dengan susah payah.

Ia membungkus sisa makanan dan minuman mereka. Lalu membawanya ke dalam mobil.

Tidak ada tempat sampah disini. Ia membawa sampahnya kembali.

Chris memuji sikap Adi.

“Enak jalan dengan Adi” kata Chris. “Dia banyak teman, bepergian jadi aman”

Diar mengangguk setuju. Ia menceritakan pengalaman mereka bertualang bersama. Termasuk naik ke gunung.

Pria itu melepaskan topinya. Menatap ke arah Adi yang masih sibuk di dalam mobil. Lalu berkata kepada Chris. Raut wajahnya berubah serius.

“Ini pesanku. Jangan pergi ke Kawasan Rimba Candi, dok. Disana……….” Wajahnya ragu-ragu.

“Tidak aman”

Chris mengangkat alisnya.

“Kenapa?”

“Beberapa orang. Hilang. Tidak pernah kembali” Diar memandang jauh ke arah kebun teh.

Chris terdiam. Rasanya ia pernah mendengar daerah Rimba Candi.

Tapi tidak pernah mendengar ada hal seserius itu.

Adi kembali dari mobil. Ia mengajak Chris pulang.

Chris setuju. Perjalanan masih jauh. Dan ia kuatir rumah sakit membutuhkannya.

Lebih dari itu. Ia tidak ingin terjebak kabut disini.

Hari menjelang siang saat mobil Chris meninggalkan kampung.

Sebelum pergi Diar mengajak mereka mengunjungi posko pendaki.

Lokasinya dekat dengan rumah juru kunci Gunung Dempo. Seorang pria paruh baya keturunan Jawa.

Pagi itu sang juru kunci sedang tidak ada di tempat.

Rumah itu hampir sama dengan rumah lainnya. Hanya saja ada warung kecil di depan rumah. Menyediakan keperluan sehari-hari. Juga keperluan pendaki.

Warung kecil itu memiliki dua buah amben. Dan beberapa kursi panjang.

Chris melihat ada beberapa pendaki lain berada di sana.

Empat lelaki dengan wajah kuyu. Bajunya tampak kotor dengan noda tanah. Nampaknya mereka baru saja turun gunung. Salah satu dari mereka tertidur di sebuah amben.

Dari aksennya. Chris menebak mereka berasal dari daerah Palembang.

Rombongan lainnya tiga orang laki-laki. Nampaknya bersiap-siap akan mendaki.

Chris bercakap-cakap dengan ibu pemilik warung. Ibu itu nampaknya senang bertemu dengan Chris yang bisa berbahasa Jawa.

Mereka berasal dari bagian selatan Jawa Tengah. Telah tiga generasi berada di kampung ini.

Benar seperti dugaan Chris, listrik hanya berasal dari genset. Dan menyala pada sore hingga malam hari. Putri sulung ibu itu berkuliah di Palembang.

Chris salut dengan kegigihan mereka. Bahkan di tengah segala keterbatasan.

Dalam Bahasa Jawa, Chris mengatakan ikut mendoakan agar si putri lekas lulus dan mendapat pekerjaan. Ibu itu tersenyum dan mengaminkan.

Mereka berpamitan tak lama setelahnya.

Diar menaiki mobil pick upnya. Mengatakan selamat berjumpa dan berangkat terlebih dulu. Para pemuda lainnya duduk di belakang. Beserta barang-barangnya.

Chris menyalakan mesin mobil.

Ia menatap langit yang berawan.

“Semoga tidak hujan”

Perjalanan pulang terasa lebih singkat dari perjalanan berangkat.

Chris bersyukur akhirnya terbebas dari jalanan rusak. Rasanya kedua tangan Chris akan melepuh.

Mereka telah mencapai rumah Adi sebelum tengah hari.

Adi turun dan mengajak Chris masuk.

Chris duduk di sebuah kursi di ruangan depan rumah Adi.

Rumah itu terletak di pinggir jalan utama. Ukurannya tidak besar namun memanjang ke belakang.

Sebuah meja kayu, kursi tamu dan sebuah televisi berada di ruangan itu. Sekelilingnya ada banyak foto-foto keluarga.

Chris berdiri memandangi foto-foto tersebut.

Nampaknya keluarga besar Adi. Chris belum pernah bertemu dengan mereka.

Pandangan mata Chris terhenti pada foto seseorang.

Rasanya ia mengenal orang itu.

Seorang perempuan paruh baya.

Mungkin pegawai rumah sakit. Batin Chris.

Fotonya tampak sudah cukup tua. Agak kabur di beberapa bagian.

Adi datang membawa minuman dan camilan. Ia mempersilakan Chris.

“Orang ini, rasanya pernah lihat. Apakah pegawai kita?” Tanya Chris

Adi bangkit. Ia menoleh ke foto yang ditunjuk Chris.

“Oh bibi ini”

Chris sedang duduk dan mengambil minumannya.

“Ini ibu yang kita lihat saat pertama naik gunung tadi. Dokter ingat?”

“Yang dokter bilang kakinya menapak tanah”

Chris meneguk minumannya. “Oh itu. Kenapa tadi kita tidak mampir?”

Adi tersenyum tipis.

“Itu kenapa saya takut dok”

“Karena bibi ini tidak mungkin disana tadi pagi”

Chris hampir menyemburkan air minumnya.

“Bibi ini sudah lama meninggal..”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here