Rumah Dinas (10)

0
50

Perjalanan menuju Kampung Empat ternyata memakan waktu jauh lebih lama dari yang Chris duga.

Matahari hampir menyembul di ufuk timur.

Dan di hadapan mereka hanya ada hamparan luas kebun teh.

Chris memutuskan menghentikan kendaraannya.

Ia mempersiapkan kedua kameranya.

Perekam suara digital ia nyalakan terlebih dahulu.

Chris mengambil jarak sekitar 10 meter dari lokasi kendaraan berhenti. Lalu menaruh perekam itu di atas sebuah undakan tanah.

Dengan cekatan Chris menyusun tripod dan kameranya. Dalam 10 menit kedua kamera dan perekam suara telah siap merekam.

“Kutaruh agak jauh, biar suara kita tidak masuk”

Kata Chris seakan menjawab wajah Adi yang kebingungan.

Adi mengangguk-angguk. Ia mengambil ponsel dari saku celananya.

Seseorang menelepon.

Adi berjalan menjauh dari lokasi mereka.

Chris merasa geli bila teringat kali pertama ia merekam perkebunan teh ini.

Saat itu pukul 05.30 pagi. Tak terbiasa dengan dingin membuatnya harus menahan bersin agar suaranya tak ikut terekam.

Sejak itu Chris memisahkan rekaman audio dengan visual. Kemudian keduanya digabungkan melalui software.

Jauh lebih sederhana ketimbang menahan bersin selama berjam-jam.

Chris mengambil video pemandangan alam.

Kadang ia merekam air terjun. Selama 1 jam, kadang lebih. Untuk dimasukkan ke kanal pribadinya.

Ia melakukan semua proses itu dengan ketelitian seorang pustakawan.

Merekam selama itu tanpa gangguan hanya mungkin terjadi bila perekaman dilakukan sepagi mungkin.

Seperti kali ini.

Chris mengerling ke arah Adi. Ia tampak masih berbincang dengan seseorang di telepon. Sekarang berdiri cukup jauh dari lokasi Chris.

Seharusnya ia membawa termosnya.

Chris menggerutu.

Suhu di sekitarnya mungkin antara 17-18 derajat.

Ia menggunakan dua lapis jaket. Namun dinginnya terasa sampai ke tulang.

Ia berniat memakai kembali sarung tangannya saat Chris melihat kedua telapak tangan itu lecet-lecet.

Kombinasi yang bagus antara jalanan buruk – yang mungkin lebih tepat disebut sungai kering ketimbang jalanan – dan mobil dengan kemudi tanpa power steering.

Chris bertanya-tanya. Bagaimana bila ada penduduk Kampung Empat yang sakit berat? Atau lebih dramatis lagi, seorang ibu hamil yang akan melahirkan?

Melalui jalanan seperti ini. Tidak heran kalau nyaris semua orang pindah.

Atau mungkinkah ada alasan lain selain erupsi gunung Merapi Dempo?

Chris belum menemukan alasan kenapa.

Chris melihat ke arah utara. Jalanan rusak berkelok seperti tak berujung membelah kebun teh.

Chris tidak tahu apakah ini sudah lewat setengah perjalanan atau belum.

Karena nampaknya mereka masih berada di jalanan yang sama. Tanpa menunjukkan tanda-tanda akan sampai.

Chris membuka ponselnya.

Sinyal EDGE. Benar-benar zaman kegelapan. Dengus Chris

Di pinggir jalan tak tampak ada satupun tiang listrik berdiri.

Mudah ditebak, Kampung Empat ini akan gelap gulita.

Chris menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini tahun 2018.

Bahkan nyaris 2019.

Dan masih ada lokasi yang tidak memiliki listrik.

Entah kecintaan macam apa yang membuat orang-orang ini bertahan disana.

Chris bahkan tak bisa hidup 36 jam tanpa sumber listrik.

Ia sudah menghitung. Dua buah power bank miliknya. Enam ribu dan 20.000 mAh.

Cukup untuk menjamin kelangsungan kebutuhan listriknya untuk 33-36 jam.

Waktu yang cukup untuk bertahan. Dan memberikan kabar mengenai lokasinya. Sebelum ditemukan oleh seseorang. Apabila terjadi sesuatu.

Yeah, kita harus selalu siap bukan? Pikir Chris.

Ia selalu mempersiapkan bawaannya sebagai tas darurat.

Apalagi bepergian ke tempat seperti ini. Terpencil dan gelap gulita.

Chris termenung. Berada di tempat ini mengingatkan dirinya akan kontrakannya terdahulu.

Meski bersekolah di fakultas kedokteran, namun Chris bukanlah berasal dari keluarga kaya raya.

Sejak zaman kuliah ia sudah rajin bekerja mencari uang.

Berjualan fotokopian, buku, baju, hingga mengajar dilakoninya.

Masalah timbul saat Chris memasuki masa koass.

Ia tak lagi bisa mendapatkan penghasilan ekstra. Maka setiap rupiahnya kala itu menjadi sangat berharga.

Suatu ketika, di akhir tahun 2007. Chris ditempatkan di Kendal. Kabupaten kecil di barat Semarang.

Lokasinya tanggung. Berjarak sekitar 45 km dari rumah kostnya di Semarang.

Musim penghujan membuat pergerakan Chris sulit. Ia hanya memiliki motor.

Maka Chris memutuskan untuk menyewa sebuah kamar. Lokasinya di kawasan Purin, Kendal bagian barat.

Tidak ada alasan lain mengapa Chris memilihnya selain karena harganya yang murah.

Rumah itu sudah tua. Sebuah rumah limas beratap genteng yang sebagian besar sudah berlumut. Langit-langitnya dibiarkan terbuka begitu saja.

Luas kamarnya sekitar 4 meter persegi. Sebuah ranjang kayu tua, meja dan kursi, serta lampu bolam temaram.

Kamar mandi berada di luar. Digunakan bergantian dengan penghuni lain.

Sehari-hari, rumah itu sepi.

Kedua inangnya sudah tua – Chris bahkan sudah melupakan nama mereka.

Hanya ibu pemilik rumah, mungkin berusia 60 tahunan, yang sering Chris lihat. Suaminya yang sepertinya lebih tua hampir tak pernah menampakkan wajahnya. Selain dari suara batuk yang Chris dengar.

Mereka tampaknya acuh dengan sekitarnya. Ibu itu bahkan tidak meminta fotokopi KTP Chris saat pertama masuk.

Chris tidak menyukai tempat itu. Sama sekali.

Tapi ia terpaksa. Koass bedah seringkali tidak mengenal jam kerja.

Dan sama sekali bukan ide bagus bepergian di atas pukul 21.00. Apalagi keluar kota. Sendirian.

Chris masih ingat malam-malam teror itu. Bahkan Chris masih ingat bau apek kasur tempatnya berbaring.

Malam itu gerimis. Hanya motor Chris yang ada di garasi. Ia terlalu lelah untuk pulang ke Semarang. Namun enggan tinggal di rumah itu.

Butuh beberapa waktu sampai ia akhirnya memberanikan diri menginap. Bukankah itu tujuan Chris menyewa kamar ini?

Benak Chris akhirnya kalah dengan rasa kantuk. Chris tertidur tak lama setelah selesai Isya.

Di luar, gerimis masih berlanjut.

Langit gelap tak berbintang.

Chris terbangun.

Dimana dia?

Pandangannya kabur.

Lampu temaram. Atap genteng.

Ah iya. Kendal.

Chris mencoba melihat jam di ponselnya saat ia menyadari bahwa ia tidak bisa bergerak.

Bibirnya mencoba bicara. Tak ada suara yang keluar.

Denyut jantung Chris mengencang.

Chris mencoba bangun.

Sia-sia.

Upayanya hanya menghasilkan keputusasaan.

Chris mencoba menendang.

Memukul.

Berteriak.

Bahkan tak ada kedutan otot yang dirasakan Chris.

Ia lumpuh.

Satu-satunya yang bisa Chris kendalikan hanya kedua bola matanya.

Chris panik.

Pandangan matanya memburu. Ia mencari pertolongan.

Tapi tampaknya sia-sia.

Ia bahkan tidak bisa bersuara.

Bagaimana berharap ada yang menolongnya?

Chris mencoba keras mengingat.

Siapa saja yang tahu ia berada disini?

Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai ada yang mencarinya?

Chris nyaris menangis saat ia melihat sosok gelap di dekat kaki kirinya.

Chris mencoba memicingkan matanya.

Ia tak yakin sosok itu adalah manusia. Ia bahkan tak yakin apakah sosok itu nyata ataukah hanya imajinasinya.

Sosok itu sepertinya mendekat. Chris merasakan adanya tekanan pada kakinya.

Jantung Chris terasa akan melompat.

Keringat dingin mengalir deras.

Perasaan tak berdaya meliputi sekujur tubuhnya.

Chris memejamkan mata. Berharap ini hanya sebuah mimpi buruk.

Ia tidak yakin harus berbuat apa. Kecuali berdoa.

Chris menarik napas dalam-dalam. Dalam hati ia berdoa.

Kedua kaki dan tangannya masih terasa tak bertenaga.

Chris mengabaikan dorongan kuat untuk membuka matanya.

Ia menutupnya rapat-rapat dan mengulang doa-doanya.

Chris tidak yakin berapa lama ia berada dalam keadaan tadi.

Yang ia tahu, berangsur-angsur kekuatannya mulai pulih. Chris memberanikan diri membuka matanya.

Masih dalam posisi yang sama.

Napasnya memburu.

Ia mencoba menggerakkan tangannya.

Bergerak!

Chris terduduk. Napasnya masih tersengal-sengal. Keringat dingin memenuhi dahinya.

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya seraya bersyukur tak henti-hentinya.

Chris membuka kedua matanya. Menelisik ke seluruh penjuru ruang.

Tak ada siapapun disana kecuali dirinya.

Chris meringkuk ngeri.

Samar-samar ia mendengar suara seorang terbatuk-batuk.

Lamunan Chris terhenti saat Adi memanggilnya.

Ia mengatakan seseorang yang dikenalnya berada di Kampung Empat. Berkemah sejak semalam.

Mereka mungkin akan bertemu disana.

Adi masih bercerita tentang Kampung Empat saat suara motor terdengar membelah jalanan di dekat mereka. Seorang perempuan muda, nampaknya anak SMA. Ia membawa sebuah tas ransel yang terlalu besar untuknya. Motornya berjalan dengan limbung di jalanan rusak itu.

Adi segera bangun mendekat. Perempuan itu menghentikan motornya. Mereka bercakap-cakap dengan aksen lokal.

Perempuan itu melanjutkan perjalanannya, tersenyum pada Adi dan Chris, kemudian ia menjauh dari Kampung Empat.

Yeah. Setidaknya mereka menuju jalan yang benar. Batin Chris.

Waktu di kamera Chris menunjukkan angka 30 menit saat ia mematikannya.

Ia cukup puas dengan hasil rekamannya. Kameranya masih memiliki 1 jam lebih sisa memori. Mungkin akan dihabiskannya di Kampung Empat.

Chris segera membereskan barang-barangnya. Mengangkutnya ke dalam mobil. Dan kendaraan melanjutkan perjalanan.

“Masih jauh ke Kampung Empat?”

Menurut Adi, perjalanan masih sekitar 15 menit lagi. Kedua tangan Chris sudah mulai terasa panas menahan roda kemudi.

Wajah Adi tampak ceria sekarang. Matahari sudah menyembul keluar sejak 45 menit lalu. Chris memberanikan diri bertanya.

“Perempuan tadi. Kenapa dia disana?”

Adi sesaat tampak bingung.

“Yang di rumah dinas, maksudku”

Hening sesaat.

“Dokter memang ngga diberi tahu?”

Chris hanya mengangkat alisnya.

“Rumah itu bagian dari rumah sakit lama. Terhubung melalui sebuah pintu.”

“Yang sekarang ditutup”

Chris mencoba mencerna kata-kata Adi. Ia memang pernah mendengar, bangunan besar di sebelah rumah dinasnya adalah bekas rumah sakit lama.

Bangunan itu pernah digunakan oleh beberapa instansi: Akademi Kebidanan. Dinas Kesehatan. Balai Pelatihan. Namun sekarang kosong.

“Yang bermasalah sebetulnya bukan rumah dokter. Tapi rumah sakit lama itu”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here